Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Perbuatan keji, salah dan dosa akan diampuni oleh Allah dengan mengingat Allah untuk kembali (dzikir) dan memohon ampun (istighfar) serta tidak akan pernah mengulangi perbuatan salahnya (QS. Ali Imran:135). Bersegera minta ampunan kepada Allah atas dosa diperintahkan dan merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa.
Allah mengampuni
dosa para hambanya (al-Ghaffar-al-Ghofur), bila mereka kembali dan memintanya
(istighfar), kecuali atas dosa-dosa yang menyekutukan (syirik). Innallaha
laa yaghfiru an yusyraka bihi waghfiru ma duuna dzalika liman yasyaa’ (QS.
An-Nisa:116); sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan atasnya, dan akan
mengampuni dosa selainnya bagi orang-orang yang dikehendaki (menghendaki).
Istighfar yang
kita baca seharusnya membentuk karakter pemaaf pada diri kita. Allah akan mengampuni
setiap kesalahan, sementara kita tidak mengampuni dan tidak memberikan
toleransi kepada kesalahan orang lain yang menimpa kita. Mencegah amarah dan menjadi
pemaaf adalah ciri lain orang-orang yang bertakwa, dan Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik (QS. Ali Imran:134).
Dengan tidak
memberikan maaf kepada orang lain, kita menyimpan banyak penyakit hati seperti amarah,
ghibah, dengki dan pendendam. Satu kesalahan orang yang tidak kita maafkan,
minimal ada empat bara penyakit yang tersimpan dalam hati. Tidak hanya
mengabaikan anjuran sebagai pemaah, kita berpotensi meninggal dunia dalam
keadaan su’ul khatimah karena menyimpan penyakit hatit.
Cobalah kita
tengok dalam diri kita, apakah ratusan bahkan ribuan istighfar yang keluar dari
lisan kita berdampak pada karakter pemaaf kita? Atau kita masih egois, hanya
meminta maaf tanpa bisa memberi permaafan kepada orang lain. Maaf bukan sekedar
ucapan atau permintaan maaf, melainkan ikrar diri untuk tidak mengulangi
perbuatan salah tersebut. bila kita mengetahui kesalahan orang lain pada diri
kita, maka tidak melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Bila sakit
dicubit, jangan mencubit orang lain. Bila sakit dicaci, maka jangan pernah mencaci
orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar