Selasa, 20 Januari 2026

Kok Disucikan, Tuhan Sekotor apa, Doel?

Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?

“Pie, Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.

“Ga pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah ketululannya.

“Edyaaan Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo

“Ngene…. Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo

“Kita itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42). Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna, bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.  

Selain kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.

“Ngunu… diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.

“Lha yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan lebih mendalam.

“Butuh kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.

Tasbih yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah. “Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan ya Yazid?”.

“Ngerti Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa menyadari sesta pikirnya.

Dari cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid. Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan, tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20, artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?

Malaikat bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas perintah-

Seluruh ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi, seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.

Tasbih tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari, bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana dengan manusia?

Manusia dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan apapun di dalamnya.

“Setelah bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.

“Oooooh …. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah

“Ngunu Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari pengannjal perut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Pe...