Kamis, 22 Januari 2026

Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Perbuatan keji, salah dan dosa akan diampuni oleh Allah dengan mengingat Allah untuk kembali (dzikir) dan memohon ampun (istighfar) serta tidak akan pernah mengulangi perbuatan salahnya (QS. Ali Imran:135). Bersegera minta ampunan kepada Allah atas dosa diperintahkan dan merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa.

Selasa, 20 Januari 2026

Kok Disucikan, Tuhan Sekotor apa, Doel?

Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?

“Pie, Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.

“Ga pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah ketululannya.

“Edyaaan Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo

“Ngene…. Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo

“Kita itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42). Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna, bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.  

Selain kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.

“Ngunu… diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.

“Lha yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan lebih mendalam.

“Butuh kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.

Tasbih yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah. “Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan ya Yazid?”.

“Ngerti Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa menyadari sesta pikirnya.

Dari cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid. Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan, tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20, artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?

Malaikat bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas perintah-

Seluruh ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi, seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.

Tasbih tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari, bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana dengan manusia?

Manusia dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan apapun di dalamnya.

“Setelah bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.

“Oooooh …. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah

“Ngunu Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari pengannjal perut.


Sabtu, 17 Januari 2026

Perbanyak Ingat, Doel!!

Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).

Al-Quran dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun: sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).

Shalat merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.

Belajar atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur) juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih ambisi duniawiyah.

Termasuk kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah, dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.

Dzikir secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah (tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli) dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi) biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi, dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.

Kalimat dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah” atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna) menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim), penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan (al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.

Rerata pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan, kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.


Minggu, 09 November 2025

Piket dan Kerja Bakti (rokan) di Sekolah Jangan Dihapuskan

Miris saat melihat lingkungan sekolah yang kotor, kumuh, sampah berserak dan di beberapa tempat ditumbuhi rumput dan semak belukar. Kepala sekolah dan guru gagal menerapkan materi ajar untuk membangun tanggung jawab terhadap masyarakat sekolah yang membiarkan lingkungannya kotor, kumuh dan jorok. Kepala sekolah disibukkan dengan rapat dan rapat, sedangkan guru hanya fokus mengajar. 

Sekolah unggulan menghindari protes orang tua/wali, dengan biaya mahal namun tetap menerapkan budaya feodalisme memanfaatkan anak-anak untuk bersih-bersih sekolah. Ada beberapa orang yang menghitung biaya pendidikan dengan layanan yang diberikan oleh sekolah. Secara tak sadar anak-anak hanya datang, mengikuti belajar mengajar di kelas dan kemudian pulang selama masa studi.

Di beberapa sekolah, menghapuskan jadwal piket (bersih-bersih) kelas untuk memperoleh fokus belajar. Padahal kita bisa mengamati, betapa anak-anak akan bangun pagi dan berangkat lebih awal untuk menunjukkan tanggung jawabnya saat jadwal piketnya. Sekolah juga sudah tidak lagi mengadakan kerja bakti siswa, dulu diistilahkan “Jumat Bersih”. Kegiatan tersebut bukan sebagai seremonial belaka yang fungsinya sudah diambil oleh Tukang Kebun atau Cleaning Servis. Jumat Bersih merupakan bagian dari penanaman budaya kebersihan, rasa memiliki terhadap tempat belajarnya, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Di sekolah sudah tidak diberi tanggung jawab, di rumah juga akan lebih sulit orang tua menyuruh anak-anaknya untuk menyapu dan bersih-bersih rumah. Mereka hanya fokus pada gadget dan malas gerak (mager) untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Sementara ada hasil riset yang dilakukan selama 75 tahun oleh Harvard University, bahwa anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga akan memiliki peluang meraih kesuksesan di masa dewasa.

Coba Kita amati, mba-mba atau mas-mas penjaga Alfa atau Indomart. Mereka menata dagangan, menyapu, membersihkan kaca, sopan melayani pembeli dan menjadi kasir bahkan merangkap sebagai securiti. Kita mungkin menilai hal demikian sebagai bentuk eksploitasi, karena perusahaan tidak mau rugi. Di sisi lain, perusahaan ingin membangun kecintaan karyawan terhadap lingkungan dan pekerjaannya. Seakan ingin mengatakan “Kamu mendapatkan penghasilan dari toko, maka Kamu harus layani dan jaga baik-baik tempat penghasilanmu”.

Nah, dengan melihat mekanisme kerja di atas, sekolah/madrasah seharusnya bisa membangun tanggung jawab, rasa cinta terhadap tempat belajarnya, menjaga kenyamanan belajar, menjadikan siswa dan orang tua sebagai sales marketing (kepuasan layanan), disiplin, hormat pada guru dan orang yang lebih tua, kemandirian (kemampuan mengurus diri), peduli sesama, cinta tanah air dan bangsa melalui proses belajar mengajar dan habbituasi yang mengarah pada pencapaian tujuan tersebut. Penguasaan mata pelajaran bisa dicapai dalam waktu singkat, namun masa studi jangan disia-siakan hanya untuk penguasaan materi dengan nilai-nilai bagus di raport namun tidak berkarakter.

Salah satu kagiatan untuk bangun karakter tanggung jawab, penanaman kebersihan, cinta terhadap tempat belajar, dan menjaga kenyamanan belajar adalah piket kelas dan kerja bakti. Kerja bakti di pesantren dikenal dengan rokan, yang berasal dari tabarukan atau mencari berkah dari kontribusinya pada pesantren yang akan menjadi jariyah para santri. Tabarukan atau ngalap berkah atas keikhlasan kiai yang mengajarkan ilmu agama. Menjalankan piket kelas, dan kerja bakti di sekolah juga menjadi keberkahan sendiri bagi para siswa tentunya melalui teladan para guru dan pemangku sekolah. Sehingga tidak hanya capaian akademik yang baik, juga terbangun budaya atau habbit yang baik di sekolah yang akan mengkarakter pada individu siswa yang bermanfaat kelak nanti (AB09112025). 

Sabtu, 08 November 2025

Mungkinkah Dibentuk Pesantren Desa?

Pesantren memiliki lima unsur yaitu; Kiai, Santri, Masjid, Kitab Kuning (kurikulum), dan pondok sebagian menambahkan adanya maqbarah para muassis (makam pendiri). Pesantren dikenal dengan kemandiriannya, terintegrasi dengan masyarakat, dan tidak menggunakan pendekatan klasikal melainkan sorogan dan bandongan serta menganut ketuntatasan dalam pembelajaran (mastery learning). Ciri lain pesantren adalah moderat, mengajarkan cinta tanah air dan bangsa serta menghargai keragaman. Dalam perkembangannya, pesantren dibedakan dengan pesantren modern (kholaf) dan tradisional (salaf/slafiyah). Pesantren modern memadukan antara pendidikan umum dan kajian kitab kuning sedangkan pesantren tradisional (salaf/salafiyah) hanya kajian kitab kuning. Apakah ciri-ciri dan karakter ini bisa diimplementasikan dalam lingkungan yang lebih luas dan komperhensif, yaitu di Desa.

Secara umum, desa memiliki masjid jami’ dan mushalla-mushalla di RT atau RW. Desa memiliki Kiai Kampung, dan ada tradisi keagamaan yang melekat di masyarakat. Di desa terdapat pengajian al-Quran, TPQ, Madrasah Diniyah, dan pengajian rutin. Pendidikan dilakukan dari anak usia dini hingga usia lanjut. Rumah penduduk merupakan pondok/kobong santri (masyarakat). Desa juga memiliki satuan pendidikan umum seperti Pendidikan anak usia dini (KB & TK/RA), SD/MI, dan sebagian memilki SMP atau MTs.

Untuk mengaplikasikan karakter pesantren dalam kehidupan masyarakat, harus didesain bersama, menyusun visi dan misi bersama serta mendesain kurikulum bersama. Desain kurikulum harus dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, anak-anak, remaja, dewasa hingga usia lanjut baik keagamaan maupun pendidikan umum sehingga ada keseimbangan antara kebutuhan keagamaan dan pendidikan umum. Untuk diimplementasikan di desa, lebih cocok menggunakan karakteristik pesantren kholaf (modern).

Selain kurikulum dan vokasi/keterampilan, membutuhkan pemimpin spiritual (kiai) yang disegani oleh masyarakat disamping penguasaan kitab kuning. Penirian Pesantren Desa membutuhkan pemimpin struktural yang kuat dan bisa merangkul seluruh lapisan masyarakat serta mampu bekerjasama dengan pemimpin spiritual untuk membuat kebijakan yang mendukung pembentukan sebuah desa pesantren atau desa madani atau qaryah thayyibah dalam bingkai pesantren.

Membangun masyarakat pesantren tidak semudah mendirikan bangunan pesantren penuh fasilitas kemudian membuka pendaftaran para guru, santri dan pelaksanaan pembelajaran. Tradisi baik dalam pesantren yang akan dipraktikkan dalam lingkungan masyarakat yang heterogen membutuhkan waktu dan pendekatan serta kekuatan spiritualitas pemimpin desa. Desain kurikulum terpadu antara pendidikan umum dan keagamaan harus linier dengan praktik keagamaan serta teladan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Bila kepala desa dianggap sebagai lurah pondok, maka dia harus bertanggung jawab mengawal masyarakat (santri) belajar dan mempraktikkan keagamaan dengan baik. praktik keagamaan tidak hanya shalat jamaah, shalat sunnah, zakat, puasa, dan ibadah lainnya termasuk akhlakul karimah masyarakat. Tokoh agama harus menjadi teladan dan sumber ilmu bagi masyarakat. Santri (masyarakat) yang menyalahi adat istiadat atau etika kemasyarakat terkena hukuman sosial (takzir), maka para pemimpin harus berintegritas serta mampu menjadi teladan.

Di pesantren, semua santri yang hadir atau dipaksa hadir oleh orang tuanya harus memiliki satu tujuan yaitu menuntut ilmu dan mengikuti tata aturan dalam pesantren. Nah, masyarakat desa harus membangun kepentingan dan tujuan bersama, yang akan memudahkan dalam membentuk Pesantren Desa tersebut.

Pesantren Desa bukanlah sebuah projek sesaat, melainkan membangun masyarakat dengan mengimplementasikan nilai-nilai yang dikembangkan pada pesantren. Nabi Muhammad saw, bisa mendirikan kota Madinah dengan pemerintahan yang penuh teladan kenabian dan petunjuk (al-Quran). Kita tidak memiliki effort prophetic, yang dapat kita lihat adalah praktik yang dilakukan para kiai yang mengasuk pesantren dengan ciri-ciri di atas yang dimungkinkan dapat dikembangkan dalam lingkungan masyarakat yang beragam.

Senin, 11 Agustus 2025

Sumber Jariyah Tak Putus Pahala

Kita sering mendengar para muballigh menyampaikan amal jariyah yang pahalanya tidak terputus meskipun orangnya sudah meninggal. Satu, shadaqatun jariyatun atau sedekah jariyah. Yaitu, sedekah maliyah yang tetap mengalir pahalanya karena sesuatu yang disedekahkan masih difungsikan untuk ibadah. Kedua, ilmu bermanfaat. Ilmu (agama) atau pengetahuan yang kita berikan kepada orang lain dan dengan ilmu tersebut mereka melakukan kebaikan. Ketiga, doa anak yang shaleh kepada orang tuanya. Anak-anak shaleh merupakan deposito pahala yang akan selalu mengalir kepada orang tuanya, sebab didikan baik orang tuanya.

Dari ketiga sumber pahala tersebut, paling instan adalah menyumbangkan sejumlah uang atau barang ke masjid atau lembaga pendidikan. Dan motivasi para muballigh menyampaikan sumber pahala ini, bukan tidak mungkin juga agar masjid/mushalla dan lembaga pendidikan maju termasuk milik mereka. Bila kita memiliki kekayaan harta, alihkan ke pembuatan jalan, lembaga pendidikan, pembukaan lapangan kerja, dan fasilitas-fasilitas yang dapat meringankan masalah orang lain, selain untuk pembangunan rumah ibadah.

Ilmu (agama) tidak semua orang ahli di bidang tersebut, kecuali ahli agama seperti mufti, ulama, dan kiai. Lebih banyak dari kita mengetahui pendidikan agama dasar untuk pengamalan agama yang kita anut dengan baik, tidak sebagai pendidik (allim allamah). Yang ketiga, kita tidak yakin menilai diri kita sebagai orang yang shaleh yang doanya dapat memberikan aliran pahala kepada orang tua kita. Fenomena di masyarakat, kita akan mengundang orang-orang sekitar dan pemimpin agama untuk hadir mendoakan orang tua kita yang sudah mati sebagai bentuk pengakuan bahwa doa mereka lebih baik daripada doa kita (merasa).

Selain ketiga sumber pahala di atas, jarang kita melihat muballigh menyampaikan sumber pahala lain yang tidak pernah putus. Sumber tersebut adalah jariyah sosial dan lingkungan. Jariyah sosial adalah tindakan keteladanan dalam membentuk peradaban madani sehingga menjadi daerah atau wilayah yang baik (baldatun/qaryatun thayyibatun) dan Allah selalu memberikan pengampunan atau permakluman atas perilaku masyarakatnya (warabbun ghafur). Suatu tindak keteladanan seseorang yang kemudian membudaya menjadi tradisi baik, akan menjadi sumber pahala yang tak pernah putus sepanjang peradaban baik tersebut masih berjalan.

Rasul saw., menyampaikan dalam riwayat imam Muslim ra, “man sanna sunatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amilabiha ba’dahu min ghairi ‘an yanqusa min ujurihim syai’un”. Barang siapa melakukan tindakan yang baik, dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang-orang yang mengikutinya. Menciptakan peradaban baik, adalah sumber pahala yang tak pernah putus dari praktek sosial masyarakat. Satu tindakan baik kita yang menjadi tradisi baik, merupakan sumber pahala jariyah kita yang tak pernah putus. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan budi baiknya.

Sumber lainnya adalah jariyah bi’ah, atau jariyah lingkungan. Yaitu menciptakan lingkungan yang memberikan kemaslahatan bagi manusia, binatang, ekosistem, konservasi air tanah, ketersediaan oksigen (O2) dan unsur lingkungan lainnya. membiarkan kerusakan lingkungan bagian dari kontribusi fasadun fi al-ardh. Dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, “Tiada seorang Muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu dimakan oleh burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya.”

Orang yang menanam pohon atau biji, ketika tumbuh besar dan berbuah kemudian baginya pahala yang tak pernah putus selama pohon yang ditanamnya memberikan manfaat. Kita hitung kasar manfaat satu pohon dewasa. Dalam satu lembar daun paling tidak mengeluarkan 5 mililiter O2/Jam. Pada mohon tersebut hidup, semut, ulat, dan serangga, yang dapat mengundang burung untuk datang mencari makan. Bila pohon berbuah, akan mengundang burung, kelelawar, lalat buah, dan manusia sebagai penikmat buah tersebut. Akar pohon menyimpan air tanah, dan memberikan kehidupan organisme dalam tanah seperti cacing dan bakteri pembusuk tatkala daun-daun berguguran. Dan masih banyak kemanfaatan lain dari satu pohon yang kita tanam.

Dari sumber-sumber pahala jariyah di atas, kiranya kita dapat melakukan satu diantaranya dalam sepanjang umur kita, sedekah jariyah, menyampaikan ilmu, jariyah sosial dan jariyah bi’ah atau lingkungan. Jalani semua atas dasar keasadaran sebagai manusia yang memilki tanggung jawab di bumi (khalifah fil ardl) yang memiliki dasar agama dan pengetahuan yang untuk kemaslahatan ummat.

Sabtu, 26 Juli 2025

Cerewet: Alarm Cinta Seorang Ibu

Pagi buta kita sudah mendengar omelan ibu sambil terdengar “glomprang” suara perabot yang sedang dicucinya. Bila kita tak beranjak juga, akan terdengar teriakan panggilan dan sumpah serapahnya. “Subuh belum bangun, nanti mau jadi apa!!” lanjut “nanti rejekimu dipatuk ayam”. Belum lagi omelan saat kita tidak membantu pekerjaan rumah, jualan, tidak belajar dan tidur malem. Bahkan saat kita sudah merasa dewasa, omelan sayang ibu dianggap keterlaluan.

Meskipun kita sudah dewasa bahkan sudah menikah dan memiliki keluarga besar sendiri. Tetaplah seorang ibu menganggap kita sebagai anak-anak (anaknya) yang perlu dikhawatirkan bertindak salah dan ceroboh. Sehingga kita tidak nyaman atas tindakan Ibu yang anggap turut campur urusan kita dan merasa tidak nyaman atas kecerewetannya. Nasehatnya terkadang tidak sesuai dengan nalar kita, sehingga membutuhkan energi untuk menahan emosi.

Cobalah berpikir dengan baik dan cermat, “Kenapa kita tidak marah atas suara sama dan keras alarm yang bangunkan kita di pagi buta dan berulang tiap hari?” bahkan dengan sengaja kita setting alarm tersebut.

Tidakkah kita anggap kecerewetan Ibu itu sebagai alarm, pengingat kita, bentuk rasa sayangnya pada kita, dan ada yang dilihat seorang Ibu yang tidak kita ketahui. Sebagai orang yang memberikan Asi, mendidik dan mendampingi kita hingga bertahun-tahun, Ibu sangat memahami karakter kita. Rasa sayangnya yang tinggi diwujudkan dalam kecerewetannya merupakan anugerah bagi kita.

Janganlah marah, jangan ditentang dan sakit hati, senyumi dan ambil tindakan yang tidak menyakitkan hatinya. Kerelaan Ibu (orang tua) menjadi jalan keridhoaan Allah swt. Frekuensi dan power kecerewetan bisa nambah level saat Ibu kita bertambah usia. Cobalah diingat dan refleksi diri, betapa sabarnya seorang Ibu yang momong kita dengan sabar dari kenakalan kita. Dia menjaga kita dari ketidaklaparan, dia menangis mendoakan kita agar sukses dan menjadi orang yang bermanfaat.

Setelah kita sukses dan menjadi orang yang bermanfaat, kita lupa dan abaikan jasa ibu. Dan hanya melihat kecerewetannya belaka. Kesombongan kita bertambah dengan merasa kesuksesan itu karena usaha dan ikhtiyar kita. Bila Tuhan tidak memberikan rasa sayang pada kita, bisa saja kita dicekik mati dan ditelantarkan. Ibu kita dengan susah payah membesarkan kita, dia rela tidak makan untuk sekedar anaknya kenyang dan tidak menangis.

Bila kalian masih punya orang tua, jadikanlah dia pusaka yang diletakkan di hati kalian dan berbuat baiklah kepada mereka (birrul walidain). Bila telah tiada, kunjungi makamnya sebagai bentuk perhatianmu pada mereka. Doakan tiap saat, hadiahkan amal untuk mereka, sebab kalian tidak akan bisa mengirimkan pizza, roti, sate, nasi goreng dan lainnya kecuali sudah ditransformasi menjadi amal (sedekah) untuk mereka. Tiada hadiah yang berharga bagi selain doa dan kesalehan kita. Shaleh adalah proses transformasi menuju kesempurnaan (insan kamil).

Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Pe...