Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Perbuatan keji, salah dan dosa akan diampuni oleh Allah dengan mengingat Allah untuk kembali (dzikir) dan memohon ampun (istighfar) serta tidak akan pernah mengulangi perbuatan salahnya (QS. Ali Imran:135). Bersegera minta ampunan kepada Allah atas dosa diperintahkan dan merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa.
Doel Zemprull
Jangan percaya tulisan-tulisan ini dan Penulisnya. Percayalah pada Tuhanmu, bila engkau dapat mengambil pelajaran bukan karena Penulis atau tulisannya melainkan Tuhan yang memberimu pemahaman.
Kamis, 22 Januari 2026
Selasa, 20 Januari 2026
Kok Disucikan, Tuhan Sekotor apa, Doel?
Dalam
obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan
aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?
“Pie,
Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.
“Ga
pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua
makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah
ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah
ketululannya.
“Edyaaan
Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo
“Ngene….
Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo
“Kita
itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42).
Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna,
bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih
yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal
hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.
Selain
kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan
yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi
wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada
kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat
hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.
“Ngunu…
diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.
“Lha
yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan
lebih mendalam.
“Butuh
kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.
Tasbih
yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct
hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang
dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa
Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka
ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah.
“Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan
ya Yazid?”.
“Ngerti
Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli
ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan
menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa
menyadari sesta pikirnya.
Dari
cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita
bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid.
Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori
eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita
juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan,
tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20,
artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan
(malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk
menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak
henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?
Malaikat
bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna
bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di
sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat
bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh
aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna
maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas
perintah-
Seluruh
ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita
juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan
hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi,
seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam
jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku
bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali
diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya
memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan
dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular
beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa
pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.
Tasbih
tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa
pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar
buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah
mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya
juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari,
bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana
dengan manusia?
Manusia
dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status
kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan
tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa
terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan
menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia
makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam
lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan
perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan
apapun di dalamnya.
“Setelah
bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan
Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul
menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.
“Oooooh
…. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah
“Ngunu
Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari
pengannjal perut.
Sabtu, 17 Januari 2026
Perbanyak Ingat, Doel!!
Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).
Al-Quran
dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun:
sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan
menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran
bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan
dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).
Shalat
merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka
dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat
lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan
shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan
witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada
waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta
pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.
Belajar
atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori
dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah
kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu.
Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul
ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi
dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan
serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan
didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur)
juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu
berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih
ambisi duniawiyah.
Termasuk
kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas
kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah,
dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya
mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang
tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa
alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.
Dzikir
secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir
bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah
(tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan
dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli)
dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi)
biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir
bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi,
dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami
dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.
Kalimat
dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi
perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa
ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal
kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah”
atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan
tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna)
menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim),
penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan
(al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.
Rerata
pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan,
kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan
bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan
yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan
asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita
mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan
taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.
Minggu, 09 November 2025
Piket dan Kerja Bakti (rokan) di Sekolah Jangan Dihapuskan
Miris saat melihat lingkungan sekolah yang kotor, kumuh, sampah berserak dan di beberapa tempat ditumbuhi rumput dan semak belukar. Kepala sekolah dan guru gagal menerapkan materi ajar untuk membangun tanggung jawab terhadap masyarakat sekolah yang membiarkan lingkungannya kotor, kumuh dan jorok. Kepala sekolah disibukkan dengan rapat dan rapat, sedangkan guru hanya fokus mengajar.
Sekolah unggulan
menghindari protes orang tua/wali, dengan biaya mahal namun tetap menerapkan
budaya feodalisme memanfaatkan anak-anak untuk bersih-bersih sekolah. Ada beberapa
orang yang menghitung biaya pendidikan dengan layanan yang diberikan oleh
sekolah. Secara tak sadar anak-anak hanya datang, mengikuti belajar mengajar di
kelas dan kemudian pulang selama masa studi.
Di beberapa
sekolah, menghapuskan jadwal piket (bersih-bersih) kelas untuk memperoleh fokus
belajar. Padahal kita bisa mengamati, betapa anak-anak akan bangun pagi dan
berangkat lebih awal untuk menunjukkan tanggung jawabnya saat jadwal piketnya. Sekolah
juga sudah tidak lagi mengadakan kerja bakti siswa, dulu diistilahkan “Jumat
Bersih”. Kegiatan tersebut bukan sebagai seremonial belaka yang fungsinya sudah
diambil oleh Tukang Kebun atau Cleaning Servis. Jumat Bersih merupakan bagian
dari penanaman budaya kebersihan, rasa memiliki terhadap tempat belajarnya, dan
menjaga kebersihan lingkungan.
Di sekolah
sudah tidak diberi tanggung jawab, di rumah juga akan lebih sulit orang tua
menyuruh anak-anaknya untuk menyapu dan bersih-bersih rumah. Mereka hanya fokus
pada gadget dan malas gerak (mager) untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Sementara
ada hasil riset yang dilakukan selama 75 tahun oleh Harvard University, bahwa
anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga akan memiliki peluang
meraih kesuksesan di masa dewasa.
Coba Kita amati,
mba-mba atau mas-mas penjaga Alfa atau Indomart. Mereka menata dagangan, menyapu,
membersihkan kaca, sopan melayani pembeli dan menjadi kasir bahkan merangkap
sebagai securiti. Kita mungkin menilai hal demikian sebagai bentuk eksploitasi,
karena perusahaan tidak mau rugi. Di sisi lain, perusahaan ingin membangun
kecintaan karyawan terhadap lingkungan dan pekerjaannya. Seakan ingin
mengatakan “Kamu mendapatkan penghasilan dari toko, maka Kamu harus layani dan jaga
baik-baik tempat penghasilanmu”.
Nah, dengan
melihat mekanisme kerja di atas, sekolah/madrasah seharusnya bisa membangun
tanggung jawab, rasa cinta terhadap tempat belajarnya, menjaga kenyamanan
belajar, menjadikan siswa dan orang tua sebagai sales marketing (kepuasan
layanan), disiplin, hormat pada guru dan orang yang lebih tua, kemandirian (kemampuan
mengurus diri), peduli sesama, cinta tanah air dan bangsa melalui proses
belajar mengajar dan habbituasi yang mengarah pada pencapaian tujuan tersebut. Penguasaan
mata pelajaran bisa dicapai dalam waktu singkat, namun masa studi jangan disia-siakan
hanya untuk penguasaan materi dengan nilai-nilai bagus di raport namun tidak
berkarakter.
Salah satu
kagiatan untuk bangun karakter tanggung jawab, penanaman kebersihan, cinta terhadap
tempat belajar, dan menjaga kenyamanan belajar adalah piket kelas dan kerja
bakti. Kerja bakti di pesantren dikenal dengan rokan, yang berasal dari tabarukan
atau mencari berkah dari kontribusinya pada pesantren yang akan menjadi jariyah
para santri. Tabarukan atau ngalap berkah atas keikhlasan kiai yang mengajarkan
ilmu agama. Menjalankan piket kelas, dan kerja bakti di sekolah juga menjadi
keberkahan sendiri bagi para siswa tentunya melalui teladan para guru dan
pemangku sekolah. Sehingga tidak hanya capaian akademik yang baik, juga terbangun
budaya atau habbit yang baik di sekolah yang akan mengkarakter pada individu
siswa yang bermanfaat kelak nanti (AB09112025).
Sabtu, 08 November 2025
Mungkinkah Dibentuk Pesantren Desa?
Pesantren
memiliki lima unsur yaitu; Kiai, Santri, Masjid, Kitab Kuning (kurikulum), dan
pondok sebagian menambahkan adanya maqbarah para muassis (makam pendiri). Pesantren
dikenal dengan kemandiriannya, terintegrasi dengan masyarakat, dan tidak
menggunakan pendekatan klasikal melainkan sorogan dan bandongan serta menganut
ketuntatasan dalam pembelajaran (mastery
learning). Ciri lain
pesantren adalah moderat, mengajarkan cinta tanah air dan bangsa serta
menghargai keragaman. Dalam perkembangannya, pesantren dibedakan dengan
pesantren modern (kholaf) dan tradisional (salaf/slafiyah). Pesantren modern memadukan
antara pendidikan umum dan kajian kitab kuning sedangkan pesantren tradisional
(salaf/salafiyah) hanya kajian kitab kuning. Apakah ciri-ciri dan karakter ini
bisa diimplementasikan dalam lingkungan yang lebih luas dan komperhensif, yaitu
di Desa.
Secara
umum, desa memiliki masjid jami’ dan mushalla-mushalla di RT atau RW. Desa memiliki
Kiai Kampung, dan ada tradisi keagamaan yang melekat di masyarakat. Di desa
terdapat pengajian al-Quran, TPQ, Madrasah Diniyah, dan pengajian rutin. Pendidikan
dilakukan dari anak usia dini hingga usia lanjut. Rumah penduduk merupakan
pondok/kobong santri (masyarakat). Desa juga memiliki satuan pendidikan umum
seperti Pendidikan anak usia dini (KB & TK/RA), SD/MI, dan sebagian memilki
SMP atau MTs.
Untuk
mengaplikasikan karakter pesantren dalam kehidupan masyarakat, harus didesain
bersama, menyusun visi dan misi bersama serta mendesain kurikulum bersama. Desain
kurikulum harus dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, anak-anak,
remaja, dewasa hingga usia lanjut baik keagamaan maupun pendidikan umum
sehingga ada keseimbangan antara kebutuhan keagamaan dan pendidikan umum. Untuk
diimplementasikan di desa, lebih cocok menggunakan karakteristik pesantren kholaf
(modern).
Selain
kurikulum dan vokasi/keterampilan, membutuhkan pemimpin spiritual (kiai) yang disegani
oleh masyarakat disamping penguasaan kitab kuning. Penirian Pesantren Desa
membutuhkan pemimpin struktural yang kuat dan bisa merangkul seluruh lapisan
masyarakat serta mampu bekerjasama dengan pemimpin spiritual untuk membuat kebijakan
yang mendukung pembentukan sebuah desa pesantren atau desa madani atau qaryah
thayyibah dalam bingkai pesantren.
Membangun
masyarakat pesantren tidak semudah mendirikan bangunan pesantren penuh
fasilitas kemudian membuka pendaftaran para guru, santri dan pelaksanaan
pembelajaran. Tradisi baik dalam pesantren yang akan dipraktikkan dalam
lingkungan masyarakat yang heterogen membutuhkan waktu dan pendekatan serta kekuatan
spiritualitas pemimpin desa. Desain kurikulum terpadu antara pendidikan umum
dan keagamaan harus linier dengan praktik keagamaan serta teladan dari tokoh
masyarakat dan tokoh agama.
Bila
kepala desa dianggap sebagai lurah pondok, maka dia harus bertanggung jawab
mengawal masyarakat (santri) belajar dan mempraktikkan keagamaan dengan baik.
praktik keagamaan tidak hanya shalat jamaah, shalat sunnah, zakat, puasa, dan
ibadah lainnya termasuk akhlakul karimah masyarakat. Tokoh agama harus menjadi
teladan dan sumber ilmu bagi masyarakat. Santri (masyarakat) yang menyalahi
adat istiadat atau etika kemasyarakat terkena hukuman sosial (takzir), maka para
pemimpin harus berintegritas serta mampu menjadi teladan.
Di
pesantren, semua santri yang hadir atau dipaksa hadir oleh orang tuanya harus
memiliki satu tujuan yaitu menuntut ilmu dan mengikuti tata aturan dalam
pesantren. Nah, masyarakat desa harus membangun kepentingan dan tujuan bersama,
yang akan memudahkan dalam membentuk Pesantren Desa tersebut.
Pesantren
Desa bukanlah sebuah projek sesaat, melainkan membangun masyarakat dengan mengimplementasikan
nilai-nilai yang dikembangkan pada pesantren. Nabi Muhammad saw, bisa mendirikan
kota Madinah dengan pemerintahan yang penuh teladan kenabian dan petunjuk (al-Quran).
Kita tidak memiliki effort prophetic, yang dapat kita lihat adalah praktik yang
dilakukan para kiai yang mengasuk pesantren dengan ciri-ciri di atas yang dimungkinkan
dapat dikembangkan dalam lingkungan masyarakat yang beragam.
Senin, 11 Agustus 2025
Sumber Jariyah Tak Putus Pahala
Kita
sering mendengar para muballigh menyampaikan amal jariyah yang pahalanya tidak
terputus meskipun orangnya sudah meninggal. Satu, shadaqatun jariyatun atau
sedekah jariyah. Yaitu, sedekah maliyah yang tetap mengalir pahalanya karena
sesuatu yang disedekahkan masih difungsikan untuk ibadah. Kedua, ilmu
bermanfaat. Ilmu (agama) atau pengetahuan yang kita berikan kepada orang lain dan
dengan ilmu tersebut mereka melakukan kebaikan. Ketiga, doa anak yang shaleh
kepada orang tuanya. Anak-anak shaleh merupakan deposito pahala yang akan
selalu mengalir kepada orang tuanya, sebab didikan baik orang tuanya.
Dari
ketiga sumber pahala tersebut, paling instan adalah menyumbangkan sejumlah uang
atau barang ke masjid atau lembaga pendidikan. Dan motivasi para muballigh
menyampaikan sumber pahala ini, bukan tidak mungkin juga agar masjid/mushalla
dan lembaga pendidikan maju termasuk milik mereka. Bila kita memiliki kekayaan
harta, alihkan ke pembuatan jalan, lembaga pendidikan, pembukaan lapangan
kerja, dan fasilitas-fasilitas yang dapat meringankan masalah orang lain,
selain untuk pembangunan rumah ibadah.
Ilmu
(agama) tidak semua orang ahli di bidang tersebut, kecuali ahli agama seperti
mufti, ulama, dan kiai. Lebih banyak dari kita mengetahui pendidikan agama
dasar untuk pengamalan agama yang kita anut dengan baik, tidak sebagai pendidik
(allim allamah). Yang ketiga, kita tidak yakin menilai diri kita sebagai orang
yang shaleh yang doanya dapat memberikan aliran pahala kepada orang tua kita. Fenomena
di masyarakat, kita akan mengundang orang-orang sekitar dan pemimpin agama
untuk hadir mendoakan orang tua kita yang sudah mati sebagai bentuk pengakuan
bahwa doa mereka lebih baik daripada doa kita (merasa).
Selain
ketiga sumber pahala di atas, jarang kita melihat muballigh menyampaikan sumber
pahala lain yang tidak pernah putus. Sumber tersebut adalah jariyah sosial dan
lingkungan. Jariyah sosial adalah tindakan keteladanan dalam membentuk
peradaban madani sehingga menjadi daerah atau wilayah yang baik
(baldatun/qaryatun thayyibatun) dan Allah selalu memberikan pengampunan atau
permakluman atas perilaku masyarakatnya (warabbun ghafur). Suatu tindak
keteladanan seseorang yang kemudian membudaya menjadi tradisi baik, akan
menjadi sumber pahala yang tak pernah putus sepanjang peradaban baik tersebut
masih berjalan.
Rasul
saw., menyampaikan dalam riwayat imam Muslim ra, “man sanna sunatan
hasanatan falahu ajruha wa ajru man amilabiha ba’dahu min ghairi ‘an yanqusa min
ujurihim syai’un”. Barang siapa melakukan tindakan yang baik, dia akan
memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit
pun pahala orang-orang yang mengikutinya. Menciptakan peradaban baik, adalah sumber
pahala yang tak pernah putus dari praktek sosial masyarakat. Satu tindakan baik
kita yang menjadi tradisi baik, merupakan sumber pahala jariyah kita yang tak
pernah putus. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang
dan manusia mati meninggalkan budi baiknya.
Sumber
lainnya adalah jariyah bi’ah, atau jariyah lingkungan. Yaitu menciptakan
lingkungan yang memberikan kemaslahatan bagi manusia, binatang, ekosistem, konservasi
air tanah, ketersediaan oksigen (O2) dan unsur lingkungan lainnya. membiarkan
kerusakan lingkungan bagian dari kontribusi fasadun fi al-ardh. Dijelaskan
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, “Tiada seorang Muslim yang
menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu dimakan oleh burung atau
manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya.”
Orang
yang menanam pohon atau biji, ketika tumbuh besar dan berbuah kemudian baginya pahala
yang tak pernah putus selama pohon yang ditanamnya memberikan manfaat. Kita hitung
kasar manfaat satu pohon dewasa. Dalam satu lembar daun paling tidak mengeluarkan
5 mililiter O2/Jam. Pada mohon tersebut hidup, semut, ulat, dan serangga, yang dapat
mengundang burung untuk datang mencari makan. Bila pohon berbuah, akan
mengundang burung, kelelawar, lalat buah, dan manusia sebagai penikmat buah
tersebut. Akar pohon menyimpan air tanah, dan memberikan kehidupan organisme
dalam tanah seperti cacing dan bakteri pembusuk tatkala daun-daun berguguran. Dan
masih banyak kemanfaatan lain dari satu pohon yang kita tanam.
Dari
sumber-sumber pahala jariyah di atas, kiranya kita dapat melakukan satu
diantaranya dalam sepanjang umur kita, sedekah jariyah, menyampaikan ilmu, jariyah
sosial dan jariyah bi’ah atau lingkungan. Jalani semua atas dasar keasadaran sebagai
manusia yang memilki tanggung jawab di bumi (khalifah fil ardl) yang memiliki
dasar agama dan pengetahuan yang untuk kemaslahatan ummat.
Sabtu, 26 Juli 2025
Cerewet: Alarm Cinta Seorang Ibu
Pagi buta kita
sudah mendengar omelan ibu sambil terdengar “glomprang” suara perabot yang
sedang dicucinya. Bila kita tak beranjak juga, akan terdengar teriakan panggilan
dan sumpah serapahnya. “Subuh belum bangun, nanti mau jadi apa!!” lanjut “nanti
rejekimu dipatuk ayam”. Belum lagi omelan saat kita tidak membantu pekerjaan
rumah, jualan, tidak belajar dan tidur malem. Bahkan saat kita sudah merasa
dewasa, omelan sayang ibu dianggap keterlaluan.
Meskipun kita sudah
dewasa bahkan sudah menikah dan memiliki keluarga besar sendiri. Tetaplah seorang
ibu menganggap kita sebagai anak-anak (anaknya) yang perlu dikhawatirkan
bertindak salah dan ceroboh. Sehingga kita tidak nyaman atas tindakan Ibu yang
anggap turut campur urusan kita dan merasa tidak nyaman atas kecerewetannya. Nasehatnya
terkadang tidak sesuai dengan nalar kita, sehingga membutuhkan energi untuk
menahan emosi.
Cobalah berpikir
dengan baik dan cermat, “Kenapa kita tidak marah atas suara sama dan keras alarm
yang bangunkan kita di pagi buta dan berulang tiap hari?” bahkan dengan sengaja
kita setting alarm tersebut.
Tidakkah kita anggap
kecerewetan Ibu itu sebagai alarm, pengingat kita, bentuk rasa sayangnya pada
kita, dan ada yang dilihat seorang Ibu yang tidak kita ketahui. Sebagai orang
yang memberikan Asi, mendidik dan mendampingi kita hingga bertahun-tahun, Ibu
sangat memahami karakter kita. Rasa sayangnya yang tinggi diwujudkan dalam
kecerewetannya merupakan anugerah bagi kita.
Janganlah marah,
jangan ditentang dan sakit hati, senyumi dan ambil tindakan yang tidak
menyakitkan hatinya. Kerelaan Ibu (orang tua) menjadi jalan keridhoaan Allah
swt. Frekuensi dan power kecerewetan bisa nambah level saat Ibu kita bertambah
usia. Cobalah diingat dan refleksi diri, betapa sabarnya seorang Ibu yang
momong kita dengan sabar dari kenakalan kita. Dia menjaga kita dari ketidaklaparan,
dia menangis mendoakan kita agar sukses dan menjadi orang yang bermanfaat.
Setelah kita
sukses dan menjadi orang yang bermanfaat, kita lupa dan abaikan jasa ibu. Dan hanya
melihat kecerewetannya belaka. Kesombongan kita bertambah dengan merasa kesuksesan
itu karena usaha dan ikhtiyar kita. Bila Tuhan tidak memberikan rasa sayang
pada kita, bisa saja kita dicekik mati dan ditelantarkan. Ibu kita dengan susah
payah membesarkan kita, dia rela tidak makan untuk sekedar anaknya kenyang dan
tidak menangis.
Bila kalian
masih punya orang tua, jadikanlah dia pusaka yang diletakkan di hati kalian dan
berbuat baiklah kepada mereka (birrul walidain). Bila telah tiada, kunjungi
makamnya sebagai bentuk perhatianmu pada mereka. Doakan tiap saat, hadiahkan
amal untuk mereka, sebab kalian tidak akan bisa mengirimkan pizza, roti, sate, nasi
goreng dan lainnya kecuali sudah ditransformasi menjadi amal (sedekah) untuk
mereka. Tiada hadiah yang berharga bagi selain doa dan kesalehan kita. Shaleh adalah
proses transformasi menuju kesempurnaan (insan kamil).
Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf
Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Pe...
-
Bismillah, dengan nama (-nama) Allah kita memulai aktivitas dengan kebaikan dan mengakhirinya dengan rasa syukur (kebaikan) dengan kalimat h...
-
Gb. Di Depan Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah Dini hari waktu Makkah saat itu mendapatkan pesan wattshap, mengabarkan wafatnya Mbah Moen...
-
Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga ki...
.png)
