Eceng gondok atau Eichhornia
crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga
menutupi seluruh permukaan air dan mengganggu ekosistem air. Saat musim hujan
mulai tiba, bila tidak dibersihkan akan mengganggu kelancaran aliran air dan
dapat menyebabkan banjir karena penyumbatan aliran.
Enceng Gondok dapat penyaring
alami (fitoremediasi) yang menyerap logam berat dan polutan air, bahan baku
kompos, campuran pakan bebek/endog, peneduh alami dan substart tempat menempel
ikan. Beberapa warga memanfaatkan enceng gondok sebagai bahan pembuat kerajinan
tangan seperti tas, sendal rajut, dan lainnya. Lahan pertanian sudah jarang,
pemanfaatan enceng gondok sebagai bahan kompos tidak memungkinkan. Peternak bebek
dan endog, lebih memilih bahan campuran lain dibandingkan enceng gondok. Hasil
kerajinan dari enceng gondok sudah kalah trend dengan produk-produk impor yang
murah dan awet.
Nah, di sungai-sungai yang masih
tawar airnya atau sedikit payau, hamparan enceng gondok dapat disulap sebagai
lahan pertanian apung (floating gardens/floating bed). Dengan bambu yang
dijajar (mirip gethek bambu) kemudian atasnya ditata enceng gondok, ditumpuk
dengan diselingi tanah lumpur. Bentukan air seperti bedhengan sawah yang
terapung. Setelah siap, kemudian bisa ditanami sayuran, atau tanaman yang
sesuai dengan media tersebut.
Pemanfaatan enceng gondok sebagai
floating gardens, tidak perlu mengangkat enceng gondok keluar sungai
yang akan menambah kerjaan, waktu dan estetika pinggir kali. Bila masih ada
enceng gondok yang berkembang biak di sungai, bisa kemudian diambil dan
ditumpukkan ke bedhengan floating gardens.
Dengan demikian, diharapkan
sungai terkendali dari blooming enceng gondok, warga memperoleh penghasilan,
dan ada manajemen pengelolaan kali untuk kesejahteraan masyarakat. Manajemen
pengelolaan kali/sungai dapat dikembangkan menjadi wisata air (river tourism),
dengan memanen sayur dan memancing ikan menggunakan cano atau sampan.
