Tuhan
adalah Raja Diraja (Malikal Mulk), penguasa yang tiada tak ada
tandingannya. Siapapun dan apapun bisa diperintahkan untuk menghancurkan apapun
yang dikehendaki. Tapi, Tuhan tidak mengedapankan sifat jalaliyah, melainkan dengan
sifat jamaliyah-Nya. Allah memberikan waktu pendosa untuk bertaubat, dengan
taubatan nashuha akan diampuni. Bila pun kemudian diberikan musibah (azab)
sudah beberapa kali diingatkan oleh rasul-Nya.
Siapapun
yang dekat dengan-Nya, permintaannya tak akan ditolaknya. Siapapun yang
dicintanya, tak akan pamer dan mengancam siapapun termasuk orang-orang yang
menyakitinya. Orang-orang yang dekat dengan-Nya berakhlakul karimah, lemah-lembut,
menebarkan kedamaian dan kasih sayang. Mereka menghindari kekasihnya kecewa,
dan selalu mendoakan semua makhluk-makhluk di bumi.
Muhammad
saw., yang paling dicintai kala disakiti orang-orang Yastrib malah mendoakan
mereka, padahal betapa geramnya malaikat yang akan menindihnya dengan gunung. Umar
ra., dicaci orang tua kafir namun tetap membantunya tanpa menyakiti sedikit pun
cacian dan kekerasan fisik padanya. Ibrahim as. ditegur Allah, karena menolak memberikan
makan pria tua Majusi karena tidak mau masuk Islam, padahal seumur hidupnya
mereka tak menyembahnya.
Selain
nabi, para wali (auliya’illah) sangat dekat dengan Sang Raja Penguasa (Malikal
Mulk). Kita bisa membaca, melihat dan merasakan akhlak mereka, kasih sayang
mereka terhadap sesama, tak pernah menyakiti siapapun, dan yang terpenting
mereka tidak menonjolkan (nih…aku dekat dengan Raja Penguasa). Sebaliknya, bila
mereka ditampakkan oleh Allah kepada khalayak mereka justeru minta diselesaikan
misinya dan pindah ke wilayah lainnya.
Di
sekitar kita, fenomena ini terbalik. Ada saudaranya RT atau kepala desa caci-maki
warga miskin yang mengajukan bantuan. Kita bisa melihat atau mendengar dan
membaca berita bahwa saudara, ada teman, kolega atau siapapun yang merasa dekat
dengan penguasa begitu arogannya. Siapapun penguasa itu, ditingkat komunal, lokal,
regional, nasional maupun internasional.
Seakan
merasa paling menentukan untuk menurunkan atau merekomendasikan orang. Mereka bisa
mengancam siapapun, karena merasa dekat dengan kekuasaan. Melakukan penguasaan
seakan selalu mendapatkan restu penguasa. Sesungguhnya dengan arogansi dan keangkuhan
sejatinya merusak nama baik kekuasaan. Seandainya teman atau saudara kekuasaan
itu santun, berakhlak baik dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan
maka nama baik kekuasaan itu akan dikenang baik oleh karyawannya dan masyarakat.
Andaikata
saudara penguasamu berperilaku seperti teman Raja Diraja, akan sangat damai dan
tenteram. Mereka akan selalu menyayangi orang-orang kecil dan membantunya untuk
menyelesaikan problematikanya, bukan saling berebut posisi. Para teman Raja
Diraja (aulia’) tak pernah berebut posisi, mereka justeru sangat tawadhu’
dengan menjadi pelayan yang baik dan tidak berebut ketenaran.
Semoga
saudara penguasa di tingkat lokal, regional, nasional hingga internasional bisa
belajar dengan teman Yang Maha Kuasa dengan kesantunan akhlaknya, rasa kasih-sayang
terhadap sesama, dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan serta tidak membuat
kerusakan.
