Jumat, 22 Mei 2026

Saudara Penguasamu Vs Teman Raja Diraja

Tuhan adalah Raja Diraja (Malikal Mulk), penguasa yang tiada tak ada tandingannya. Siapapun dan apapun bisa diperintahkan untuk menghancurkan apapun yang dikehendaki. Tapi, Tuhan tidak mengedapankan sifat jalaliyah, melainkan dengan sifat jamaliyah-Nya. Allah memberikan waktu pendosa untuk bertaubat, dengan taubatan nashuha akan diampuni. Bila pun kemudian diberikan musibah (azab) sudah beberapa kali diingatkan oleh rasul-Nya.

Siapapun yang dekat dengan-Nya, permintaannya tak akan ditolaknya. Siapapun yang dicintanya, tak akan pamer dan mengancam siapapun termasuk orang-orang yang menyakitinya. Orang-orang yang dekat dengan-Nya berakhlakul karimah, lemah-lembut, menebarkan kedamaian dan kasih sayang. Mereka menghindari kekasihnya kecewa, dan selalu mendoakan semua makhluk-makhluk di bumi.

Muhammad saw., yang paling dicintai kala disakiti orang-orang Yastrib malah mendoakan mereka, padahal betapa geramnya malaikat yang akan menindihnya dengan gunung. Umar ra., dicaci orang tua kafir namun tetap membantunya tanpa menyakiti sedikit pun cacian dan kekerasan fisik padanya. Ibrahim as. ditegur Allah, karena menolak memberikan makan pria tua Majusi karena tidak mau masuk Islam, padahal seumur hidupnya mereka tak menyembahnya.

Selain nabi, para wali (auliya’illah) sangat dekat dengan Sang Raja Penguasa (Malikal Mulk). Kita bisa membaca, melihat dan merasakan akhlak mereka, kasih sayang mereka terhadap sesama, tak pernah menyakiti siapapun, dan yang terpenting mereka tidak menonjolkan (nih…aku dekat dengan Raja Penguasa). Sebaliknya, bila mereka ditampakkan oleh Allah kepada khalayak mereka justeru minta diselesaikan misinya dan pindah ke wilayah lainnya.

Di sekitar kita, fenomena ini terbalik. Ada saudaranya RT atau kepala desa caci-maki warga miskin yang mengajukan bantuan. Kita bisa melihat atau mendengar dan membaca berita bahwa saudara, ada teman, kolega atau siapapun yang merasa dekat dengan penguasa begitu arogannya. Siapapun penguasa itu, ditingkat komunal, lokal, regional, nasional maupun internasional.

Seakan merasa paling menentukan untuk menurunkan atau merekomendasikan orang. Mereka bisa mengancam siapapun, karena merasa dekat dengan kekuasaan. Melakukan penguasaan seakan selalu mendapatkan restu penguasa. Sesungguhnya dengan arogansi dan keangkuhan sejatinya merusak nama baik kekuasaan. Seandainya teman atau saudara kekuasaan itu santun, berakhlak baik dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan maka nama baik kekuasaan itu akan dikenang baik oleh karyawannya dan masyarakat.

Andaikata saudara penguasamu berperilaku seperti teman Raja Diraja, akan sangat damai dan tenteram. Mereka akan selalu menyayangi orang-orang kecil dan membantunya untuk menyelesaikan problematikanya, bukan saling berebut posisi. Para teman Raja Diraja (aulia’) tak pernah berebut posisi, mereka justeru sangat tawadhu’ dengan menjadi pelayan yang baik dan tidak berebut ketenaran.

Semoga saudara penguasa di tingkat lokal, regional, nasional hingga internasional bisa belajar dengan teman Yang Maha Kuasa dengan kesantunan akhlaknya, rasa kasih-sayang terhadap sesama, dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan serta tidak membuat kerusakan.

Jumat, 15 Mei 2026

Haji Kok Nunggu Panggilan

Kalimat yang sering terucap ketika kita bertanya pada seseorang terkait dengan kewajiban berhaji, yaitu nunggu panggilan dan belum mampu (istithoah). Bila ngitung berapa panjang daftar waiting list, “nunggu panggilan” itu adalah menunggu panggilan untuk pelunasan Biaya Haji dari Kementeraian Haji, yang dulu dikelola Kementerian Agama.

Kamis, 14 Mei 2026

Okehno Solawat Ben Dikenal Nabi Muhammad

“Doel, okehno awakmu moco solawat”, tetiba Kiai Ahmad menasihati Doel Semprul.

“Kata orang-orang kae, berselawat kui mengikuti (ittiba’) ro Kanjeng Nabi, Yai? Opo cukup moco thok?”, sahut Doel Kemplo.

“Wis, rasah didawak-dawakno. Koen kabeh rung karuan bisa mengikuti nabi dengan sempurna. Yang penting usaha untuk menjalankan ibadah karena taat pada Allah dan ikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi, sahabat, tabiin dan para ulama”

“Yang seneng baca barzanji, dziba, burdah, simthudduror, dan kitab maulid lainnya dilanjutkan. Anggonmu moco yo karena seneng ro nabi, berkah oleh kenduri. Sinambi dibaca, dipahami dan ikuti apa yang menjadi teladan nabi. Bila belum sempat duduk bareng di majelis untuk baca sirah nabawi (kitab maulid), sempatkan perbanyak baca solawat agar awakmu tetap nyambung dengan Kanjeng Rasul”.

“Mpean ra sah bidngah-bidngahne wong-wong sing seneng moco barzanji, maulid, solawat nang mesjid. Mereka itu berusaha memahami sejarah dan mengikuti nabi yang butuh cukup waktu”.

“Yai, saiki yo aneh-aneh, solawat nggo ben sugeh. Aku ra sugeh-sugeh Yai….”, sela Rasdan memprotes niatan bersolawat agar kaya tetapi belum mendapatkan kekayaan.

Gusti Alah mengerti tentang kita, bukan diberi harta melimpah tetapi Dia lebih sayang terhadap kita agar tetap istiqomah selalu berada bersimpuh setiap malam. Ingatlah, Tsa’labah yang didoakan nabi diberik kekayaan melimpah binatang gembalaannya hingga akhirnya jauh dari agama.

Jamaah Gendheng Wal Gemblung (di majelis Pagemblungan), sejak dakwah nabi hingga saat ini berapa banyak jumlah ummat islam sesuai dengan tingkatan masing-masing. Ada sahabat, tabiin, tabiuttabiin, ulama, kiai, ustadz, syuhada, para shalihin, para penulis kitab-kitab, dan orang-orang mulia lainnya.

Lhah…., Koen modelane ngene. Guendheng kabeh, rep saingan dengan mereka yang status keilmuan, jasa dan spiritualnya lebih tinggi dari kalian. Koen kui sampah, boro-boro dianggep, dilirik wae nggak, rung karuan masuk surga. Makanya perbanyak shalawat kepada Gusti Nabi.

Ingatlah, sekali Koen solawat bakal dibales kanjeng nabi dengan sepuluh jawaban (solawat: didoakan), Koen moco 10 solawat dibales 100 jawaban. Berapapun solawat yang kau baca akan dibalas sepuluh kali lipatnta (10x lipat). Bacalah sebanyak-banyaknya, agar Kanjeng Nabi Muhammad penasaran atasmu sehingga beliau akan mengunjungimu, mengenal dan kelak mendapatkan syafaat dalam hidup dan matimu kelak. Kala di surga tak ada dirimu, Kanjeng Nabi akan mengingat dan menanyakannya kepada Jibril as.

“Dapuranmu itu susah untuk ikuti Nabi secara ideal, ngaji wae bolong-bolong. Dzikir – wirid Pagemblungan saja jarang-jarang dilakukan. Terus, opo sing mok arep-arep?”, tandas Doel.

“Masuk surgalah, Doel!!, sela Doel Gemblung

“Surgooo Mbahmu!!”, Jawab Doel Semprul

“Sudah-sudah, kalian jangan saling menyalahkan”, Kiai Ahmad menasihati jamaah Pagemblungan.  

“Kalian jangan meremehkan solawat, Orang badui modal cinta nabi saja masuk surga, bahkan dengan modal cerita dan sangat mencintai nabi akhirnya menjadi ahli surga (cerita ya karim). Ada sahabat yang memeluk nabi agar harum wangi badan nabi menjadi saksi di hadapan Allah. Ada yang da’imushalawat, saat meninggal didatangi nabi”.

“Okehno anggonmu solawat dan jangan bosan, semoga Kanjeng Nabi mengenali kita dan kita bisa berkumpul bersama dengan beliau”

“Aamiiiiin………….”, serempak jamaah Pagemblungan mengaminkan doa Kiai Ahmad.

Rabu, 13 Mei 2026

Kau Dikenal Penduduk Langit?

Populer merupakan hasil dari sebuah proses baik yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Dalam perpolitikan penting tetap menjaga popularitas diri agar tidak tenggelam dan dianggap tidak penting dan kontributif. Isu ijasah palsu bisa jadi merupakan bagian dari pemanfaatan objek isu agar popularitas tetap terjaga bagi orang-orang tertentu. Isu makin populer juga akan menghasilkan cuan dari bisnis media. Percuma, populer di dunia tetapi tidak populer di langit sebagai orang yang dicintai langit.

Sahabat Bilal bin Rabah, sendal terompahnya terdengar di surga padahal Bilal belum meninggal dunia. Uwais al-Qorni masyhur di kalangan malaikat, karena begitu baktinya kepada ibunya yang lumpuh, taat beribadah dan menjaga ketakwaannya. Kedua sahabat tersebut adalah contoh orang-orang yang populer di langit tetapi tak terkenal hebat di bumi. Bilal seorang budak hitam yang dibebaskan sayyidina Umar r.a. dan Uwais adalah pemuda miskin yang hanya fokus berbakti pada ibunya.

Selain itu ada ada seseeorang hilang popularitasnya di kalangan malaikat, setelah makan sebutir kurma “curian”. Doa-doanya yang selalu membuat penasaran para malaikat di langit tetiba tak ada jejak doa itu menembus ‘arsy. Untuk memulihkan popularitasnya, dia harus minta keikhlasan penjual kurma. Penjual tersebut sudah meninggal dunia, dia harus mencari tiga anak penjual kurma hingga diikhlaskan sebutir kurma tersebut.

Ada cerita lain tentang seseorang yang harus menanggung beban bekerja setahun hanya untuk meminta ikhlas sebuah delima yang dia temukan di aliran sungai. Dia juga harus menikahi anak petani tersebut yang dikondisinya diceritakan tidak “sempurna” oleh petanu tersebut. Pemuda tersebut adalah manusia pilihan yang kemudian melahirkan salah satu imam dari empat imam madzhab.

Apakah kita dikenal penduduk langit? Boro-boro populer, dikenal saja tidak. Orang-orang tertentu yang populer di langit adalah orang istimewa yang saat Allah mencintai-Nya, maka Dia akan memamerkan pada para malaikat. Kemudian mereka diminta untuk mencintainya juga hingga suatu saat akan diceritakan kepada para kekasih lainnya.

Para penduduk langit akan selalu mengintip penduduk bumi, mereka yang bersinar akan membuat penasaran para penduduk langit. Kita diciptakan dari dua unsur cahaya (nur) dan kegelapan (dhulumat), keduanya tidak bisa bercampur. Bila ingin bercahaya dan dilihat oleh penduduk langit, maka kita harus meninggalkan perilaku gelap (dholim). Keimanan seseorang bisa bertambah (yazid) karena ibadah dan ketakwaannya, dan bisa mengurang (yanqush) karena kedzaliman dan kekufuran yang dilakukannya.

Kau telah sibuk mengejar sesuatu yang menambah gelap dan tak nampak oleh penduduk langit. Rakus, culas, dzalim, membuat kerusakan (fasad), memelihara dosa (fasik), inkar nasihat (kufur), dan perbuatan lain yang mencegah cahaya masuk dalam hati (qalb-sirr-latifah). Bila hati gelap, maka cahaya tidak bisa dipantulkan ke langit, sehingga nampak terlihat oleh mereka.

Bila kau masih keluar masuk ruangan penguasa dan menunjuk diri, merendahkan lainnya, mengumpulkan receh yang akan menjadikan hatimu tambah kelam. Uang yang kau dapatkan secara culas, akan menambah nafsumu berkobar dan membakar hatimu yang semakin jauh untuk nampak di langit. Popularitasmu di dunia tak bisa menyinarkan hatimu, bukankah Fir’aun, Qorun, dan Haman populer di eranya?

Ingatlah, sekalah hatimu agar kembali bercahaya dan mendapatkan doa dari penduduk langit. Dan kemudian kau akan dikenal mereka, kelak disapa saat kau sampai disana. Bila hatimu bercahaya, maka seluruh anggota tubuhmu akan konsisten pada ketaatan. Santun dan lembut dalam berbicara, tegas dalam kebenaran. Kembalilah segera …………

Minggu, 10 Mei 2026

Eco Teologi: Beragama dengan Baik

Eco Theology menjadi salah satu prioritas dari delapan program prioritas (Asta Protas) Kementerian Agama. Eco Theology berasal dari kata Ecology dan Theology, penggabungan kata tersebut (eco theology) dalam bahasa Inggris dapat berarti teologi lingkungan. Eco Theology merupakan ilmu yang membahas tentang inter relasi antara pandangan teologis-filosofis yang terkandung dalam ajaran agam dengan alam, khususnya lingkungan. Dalam kajian fiqih ada fikih lingkungan atau fiqh al biah, yaitu cabang ilmu fikih yang mengatur norma perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan berdasarkan Alquran dan sunnah.

Sabtu, 11 April 2026

Mungkinkah Dibentuk "Desa Pesantren"?

Pesantren memiliki lima unsur yaitu; Kiai, Santri, Masjid, Kitab Kuning (kurikulum), dan pondok sebagian menambahkan adanya maqbarah para muassis (makam pendiri). Pesantren dikenal dengan kemandiriannya, terintegrasi dengan masyarakat, dan tidak menggunakan pendekatan klasikal melainkan sorogan dan bandongan serta menganut ketuntatasan dalam pembelajaran (mastery learning).

Kamis, 09 April 2026

Ampunilah, Gusti

Ya Allah, Jangankan bersua, berharap surg-Mu saja tak pantas bagiku yang ahli maksiat ini. Jasad sempurna yang Kau berikan, setiap saat bermaksiat mulai dari kepala hingga ujung kaki. Ruh yang telah ikrar kepadamu, bermaksiat menuruti hawa nafsu. Ampunilah ruh dan jasadku ini ya Gusti.

Rabu, 01 April 2026

Inna Ma’al ‘usri Yusran Bukan Mantra

Apa yang Anda pkirikan kala melihat status orang dengan ayat inna ma’al ‘usri yusran? Saya hanya menilai bahwa orang tersebut sedang merasa mengalami kesulitan hidup. Dengan memosting potongan ayat tersebut dengan segara hilang kesulitan kemudian datang kemudahan. Atau kemudian potongan ayar tersebut diwiridkan dengan jumlah tertentu, kemudian terjadi keajaiban kesulitan menjadi kemudahan.

Inna ma’al usri yusran, yang diartikan “sesungguh sesudah/beserta kesulitan itu ada kemudahan” sering digunakan untuk status seseorang sepertinya masih dalam keadaan kesusahan. Dengan mengunggah postingan tersebut berharap menjadi energi positif bahkan pelipur lara. Kemudahan bukan “ujug-ujug” datang sebagai keajaiban. Kemudahan yang bersifat given dari Allah hanya diperuntukkan bagi manusia yang dikehendaki. Kemudahan yang ikhtiyari adalah penggunaan akal pikiran untuk mencari solusi atas kesulitan tersebut sebagai doa (pengharapan) implementatif.

Ingatkah dengan cerita Willian Kamkwamba dari Malawi, Afrika Timur yang mencari solusi atas kekeringan yang melanda desanya. Kamkwamba memanfaatkan angin sebagai sumber energi yang diubah menjadi energi listrik untuk menggerakkan mesin air rakitannya mengeluarkan air dari dalam tanah untuk mengairi lahan dan penghidupan warga desa.

Di Indonesia ada Mak Eroh dari Tasikmalaya yang membelah bukit cadas lereng Gunung Galunggung untuk mencari sumber air pengairan sawah warga yang kekeringan (1980-an). Mbah Sadiman dari Wonogiri yang mengkonservasi air tanah dengan menanam ribuan pohon beringin di lahan tandus, kemudian sukses mengairi sawah-sawah dan sumber air warga sekitar.

Selain cerita heroik lingkungan, banyak juga cerita inspiratif dari para pengusaha yang bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bob Sadino, yang rela berjualan telor ayam setelah kecelakaan dan akhirnya memiliki banyak perusahaan. Kisah Dokter Eca (Eka Nur Prasetyawati) dibalik cerita viral “Layangan Putus” yang terpuruk karena menolak poligami dan mengalami KDRT kembali bangkit membuka usaha untuk menghidupi anak-anaknya. Dan masih banyak cerita-cerita inspiratif lainniya yang bisa kita jadikan motivasi dari kala sedang terpuruk. Jangan merasah seakan diri kita adalah orang-orang yang paling susah. Sementara ada orang-orang yang diberikan keterbatasan fisik tetap semangat menjalankan hidup penuh dengan rasa syukur.

Bila masalah diibaratkan batu besar yang berat kita pikul, bukan menempelkan potongan ayat di atas pada batu tersebut atau mewiridkannya sehingga batu tersebut menjadi ringan. Berpikirlah bagaimana cara memindahkan batu tersebut agar lebih mudah dan ringan. Bisa saja dibelah menjadi belahan yang mudah diangkat atau menggunakan alat berat untuk memindahkan batu tersebut.

Nabi saw pernah menegur sahabat yang setiap harinya dzikir di masjid dan tidak bekerja untuk menafkahi keluarganya. Berdzikir merupakan perintah (wadzkurullah dzikran katsiran), dzikir juga bisa menenangkan batin (yathmainnul qulub) dan melangkah untuk mencari solusi problematika hidup juga dianjurkan (fantasyiru fil ardh wabtaghu min fadhlillah wadzkurullah dzikran katsiran). Penting untuk menggabungkan antara dzikir dan doa (pengharapan) dengan implementatif problem solving idea (mengimplementasikan ide penyelesaian masalah).

Dan perlu kita ketahui bahwa kesulitan dan kemudahan itu adalah siklus, masalah dengan penyelesainnya. Siklus tersebut akan dihadapi manusia sepanjang hidupnya, baik itu terkait dengan perekonomian, problem interaksi sosial, pekerjaan, teknologi, masyarakat, hingga negara bangsa. Satu masalah telah selesai, maka akan ada haral rintang kembali saat kita menjalankan kebaikan (faidza faraghta fanshob).

Penyelesaian problem harus sesuai kaidah ketuhanan, bukan semakin menjauhkan diri pada Tuhan YME. Sesuai dengan kaidah ketuhanan adalah tidak melanggar aturan, misalnya kesulitan ekonomi diselesaikan dengan bekerja bukan mencuri atau merampok dan kriminal lainnya. Kesulitan perekonomian juga tidak kemudian pergi ke dukun, gunung kawi, atau tempat pesugihan lainnya yang menjauhkan diri pada Tuhan.

Dalam ayat terakhir “wa ila rabbika farghob: dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah”, kita tidak boleh melakukan tindakan yang dilarang oleh Allah swt, seperti kriminal, kemusyrikan, kecurangan, dan lainnya yang akan menjauhkan kita pada Allah swt. Harapan harus dilangitkan dengan doa dan ibadah agar ketenangan diri membantu kita untuk lebih optimis dalam menjalankan solusi yang menjadi pilihan kita.

Kamis, 22 Januari 2026

Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Perbuatan keji, salah dan dosa akan diampuni oleh Allah dengan mengingat Allah untuk kembali (dzikir) dan memohon ampun (istighfar) serta tidak akan pernah mengulangi perbuatan salahnya (QS. Ali Imran:135). Bersegera minta ampunan kepada Allah atas dosa diperintahkan dan merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa.

Selasa, 20 Januari 2026

Kok Disucikan, Tuhan Sekotor apa, Doel?

Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?

“Pie, Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.

“Ga pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah ketululannya.

“Edyaaan Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo

“Ngene…. Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo

“Kita itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42). Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna, bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.  

Selain kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.

“Ngunu… diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.

“Lha yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan lebih mendalam.

“Butuh kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.

Tasbih yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah. “Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan ya Yazid?”.

“Ngerti Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa menyadari sesta pikirnya.

Dari cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid. Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan, tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20, artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?

Malaikat bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas perintah-

Seluruh ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi, seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.

Tasbih tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari, bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana dengan manusia?

Manusia dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan apapun di dalamnya.

“Setelah bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.

“Oooooh …. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah

“Ngunu Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari pengannjal perut.


Sabtu, 17 Januari 2026

Perbanyak Ingat, Doel!!

Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).

Al-Quran dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun: sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).

Shalat merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.

Belajar atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur) juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih ambisi duniawiyah.

Termasuk kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah, dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.

Dzikir secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah (tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli) dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi) biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi, dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.

Kalimat dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah” atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna) menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim), penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan (al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.

Rerata pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan, kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.


Saudara Penguasamu Vs Teman Raja Diraja

Tuhan adalah Raja Diraja ( Malikal Mulk ), penguasa yang tiada tak ada tandingannya. Siapapun dan apapun bisa diperintahkan untuk menghancur...