Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2026

Kampung Apung: Solusi Bagi Wilayah Terdampak Abrasi dan Banjir Rob

Di beberapa wilayah pesisir pantai utara seperti Demak, Semarang, Batang, Pekalongan dan Pemalang, hampir tiap tahun terkena banjir karena peningkatan debit air karena hujan atau rob. Beberapa penanganan yang telah dilakukan adalah memperbaiki saluran air, membangun talud, meninggikan jalan, dan merelokasi rumah terdampak. Mayarakat yang tetap tinggal karena mata pencaharian sebagai nelayan atau berbasis hasil perikanan menguruk tanah atau meninggikan rumah-rumah mereka.

Upaya menguruk rumah, jalanan, atau pembuatan talud dalam jangka panjang tidak menjadi solusi yang efektif. Bukit yang diambil tanah dan batuan untuk bahan material urukan akan menjadikan dataran rendah, yang juga akan berdampak pada bajir yang semakin mengarah ke daratan. Air pada dasarnya tidak bisa ditimbun, menguruk areal banjir maka akan menambah aliran air ke arah selatan atau daratan.

Sejenak mari melihat rumah-rumah Suku Bajo, yang berada di tepi-tepi laut. Rob besar mereka tidak kebanjiran, bahkan bisa mendapatkan ikan tangkapan yang terbawa oleh rob. Rumah-rumah Suku Baju berbentuk panggung dengan material bambu sebagai penyangganya. Selain rumah Suku Bajo, kita bisa melihat rumah-rumah di pantai Kalimantan, Lampung dan masyarakat yang tinggal di pinggir kali (Girli) atau sungai. Mereka tetap bisa beraktivita bermata pencaharian berbasis perikanan, juga tidak terkena dampak banjir.

Rumah Panggung atau rumah apung bisa ditawarkan bagi masyarakat yang terdampak banjir rob. Pemerintah bisa membuatkan kampung apung hingga pasar apung serta jalur lalu lintas air untuk membantu aktivitas masyarakat ke kota. Selain rumah-ramah suku Bajo dan pesisir pantai Kalimantan, Lampung dan lainnya, terdapat Kampung Apung Teko di Jakarta Barat dan Ayapoo di Papua.

Tidak hanya di dalam negeri, ada kampung apung di luar negeri seperti Santa Cruz Del Islote di Kolombia, Koh Ponyee di Thailand, Waterbuurt di Belanda, Desa Fadaoth di Senegal, Ha-Long Bay di Vietnam, Kampong Ayer di Brunei, Desa Ganvie di Afrika, dan Mexcaltitan di Meksiko.

Nah, para pengabdi masyarakat dan masyarakat terdampak abrasi dan banjir rob sudah harus memulai membuat solusi inovatif dengan membuat rumah apung, kampung apung, pasar apung dan jalur transportasi air sebagai solusi. Dan meninggalkan solusi klasik dengan menguruk rumah, jalanan dan lahan-lahan yang dapat mengakibatkan bajir meluas dan menenggelamkan seluruh daratan di pulau jawa.

Jumat, 15 Mei 2026

Haji Kok Nunggu Panggilan

Kalimat yang sering terucap ketika kita bertanya pada seseorang terkait dengan kewajiban berhaji, yaitu nunggu panggilan dan belum mampu (istithoah). Bila ngitung berapa panjang daftar waiting list, “nunggu panggilan” itu adalah menunggu panggilan untuk pelunasan Biaya Haji dari Kementeraian Haji, yang dulu dikelola Kementerian Agama.

Senin, 11 Agustus 2025

Sumber Jariyah Tak Putus Pahala

Kita sering mendengar para muballigh menyampaikan amal jariyah yang pahalanya tidak terputus meskipun orangnya sudah meninggal. Satu, shadaqatun jariyatun atau sedekah jariyah. Yaitu, sedekah maliyah yang tetap mengalir pahalanya karena sesuatu yang disedekahkan masih difungsikan untuk ibadah. Kedua, ilmu bermanfaat. Ilmu (agama) atau pengetahuan yang kita berikan kepada orang lain dan dengan ilmu tersebut mereka melakukan kebaikan. Ketiga, doa anak yang shaleh kepada orang tuanya. Anak-anak shaleh merupakan deposito pahala yang akan selalu mengalir kepada orang tuanya, sebab didikan baik orang tuanya.

Dari ketiga sumber pahala tersebut, paling instan adalah menyumbangkan sejumlah uang atau barang ke masjid atau lembaga pendidikan. Dan motivasi para muballigh menyampaikan sumber pahala ini, bukan tidak mungkin juga agar masjid/mushalla dan lembaga pendidikan maju termasuk milik mereka. Bila kita memiliki kekayaan harta, alihkan ke pembuatan jalan, lembaga pendidikan, pembukaan lapangan kerja, dan fasilitas-fasilitas yang dapat meringankan masalah orang lain, selain untuk pembangunan rumah ibadah.

Ilmu (agama) tidak semua orang ahli di bidang tersebut, kecuali ahli agama seperti mufti, ulama, dan kiai. Lebih banyak dari kita mengetahui pendidikan agama dasar untuk pengamalan agama yang kita anut dengan baik, tidak sebagai pendidik (allim allamah). Yang ketiga, kita tidak yakin menilai diri kita sebagai orang yang shaleh yang doanya dapat memberikan aliran pahala kepada orang tua kita. Fenomena di masyarakat, kita akan mengundang orang-orang sekitar dan pemimpin agama untuk hadir mendoakan orang tua kita yang sudah mati sebagai bentuk pengakuan bahwa doa mereka lebih baik daripada doa kita (merasa).

Selain ketiga sumber pahala di atas, jarang kita melihat muballigh menyampaikan sumber pahala lain yang tidak pernah putus. Sumber tersebut adalah jariyah sosial dan lingkungan. Jariyah sosial adalah tindakan keteladanan dalam membentuk peradaban madani sehingga menjadi daerah atau wilayah yang baik (baldatun/qaryatun thayyibatun) dan Allah selalu memberikan pengampunan atau permakluman atas perilaku masyarakatnya (warabbun ghafur). Suatu tindak keteladanan seseorang yang kemudian membudaya menjadi tradisi baik, akan menjadi sumber pahala yang tak pernah putus sepanjang peradaban baik tersebut masih berjalan.

Rasul saw., menyampaikan dalam riwayat imam Muslim ra, “man sanna sunatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amilabiha ba’dahu min ghairi ‘an yanqusa min ujurihim syai’un”. Barang siapa melakukan tindakan yang baik, dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang-orang yang mengikutinya. Menciptakan peradaban baik, adalah sumber pahala yang tak pernah putus dari praktek sosial masyarakat. Satu tindakan baik kita yang menjadi tradisi baik, merupakan sumber pahala jariyah kita yang tak pernah putus. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan budi baiknya.

Sumber lainnya adalah jariyah bi’ah, atau jariyah lingkungan. Yaitu menciptakan lingkungan yang memberikan kemaslahatan bagi manusia, binatang, ekosistem, konservasi air tanah, ketersediaan oksigen (O2) dan unsur lingkungan lainnya. membiarkan kerusakan lingkungan bagian dari kontribusi fasadun fi al-ardh. Dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, “Tiada seorang Muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu dimakan oleh burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya.”

Orang yang menanam pohon atau biji, ketika tumbuh besar dan berbuah kemudian baginya pahala yang tak pernah putus selama pohon yang ditanamnya memberikan manfaat. Kita hitung kasar manfaat satu pohon dewasa. Dalam satu lembar daun paling tidak mengeluarkan 5 mililiter O2/Jam. Pada mohon tersebut hidup, semut, ulat, dan serangga, yang dapat mengundang burung untuk datang mencari makan. Bila pohon berbuah, akan mengundang burung, kelelawar, lalat buah, dan manusia sebagai penikmat buah tersebut. Akar pohon menyimpan air tanah, dan memberikan kehidupan organisme dalam tanah seperti cacing dan bakteri pembusuk tatkala daun-daun berguguran. Dan masih banyak kemanfaatan lain dari satu pohon yang kita tanam.

Dari sumber-sumber pahala jariyah di atas, kiranya kita dapat melakukan satu diantaranya dalam sepanjang umur kita, sedekah jariyah, menyampaikan ilmu, jariyah sosial dan jariyah bi’ah atau lingkungan. Jalani semua atas dasar keasadaran sebagai manusia yang memilki tanggung jawab di bumi (khalifah fil ardl) yang memiliki dasar agama dan pengetahuan yang untuk kemaslahatan ummat.

Kamis, 28 Maret 2024

Catatan Bedah Buku “Di Balik Meja Birokrat”

Buku berjudul “Di Balik Meja Birokrat: Fikih Islam tentang Pelayanan Publik” karya Kang Jaja Zarkasyi merupakan sebuah karya tulis yang disajikan dalam bahasa populis (karya tulis populer). Buku yang mencoba mengaitkan aktivitas layanan publik aparat sipil negara (ASN) dengan yurisprudensi islam (fikih) ini bisa dijadikan bahan bacaan ringan dalam suasana santai.

Dilihat dari isi buku, saya menduga penulis merupakan orang yang tegak lurus sebagai ASN dan hanya ingin menampilkan sisi positif yang bisa dilakukan oleh ASN seperti inovasi, kebijakan yang tepat sasaran, birokrasi ladang amal shaleh, birokrat adalah amanat dan lain sebagainya. Penulis tak ingin terjebak pada penilaian negatif yang tidak memberikan solusi atas mandat yang diberikan pada birokrat.

Kedua, sekilas melihat judul yang ada di banner (backdroup) dibenak saya mengatakan bahwa buku ini menarik dengan mendialektikakan konsep fikih dengan laku keseharian birokrat dan solusi penyelesaiannya. Ternyata tidak demikian, sisi-sisi kritik sosial kinerja ASN, hukum fikih dan solusinya belum disinggung dalam buku ini. Padahal ini sangat menarik sebagai panduan reflektif dan muhasabatun nafs seorang birokrat yang ingin husnul khatimah dalam tugasnya.

Tulisan populer ini akan lebih menarik, bila ada penambahan judul menjadi DI BALIK MEJA BIROKRAT ADA BERKAT DAN KAFARAT. Menjadi seorang ASN atau birokrat bukan hanya persoalan penghasilan, melainkan ada berkah(t) berupa kehormatan dan penghargaan atas pekerjaan tersebut yang harus dijaga kehormatannya. ASN merupakan salah satu warga yang terdidik, dan tidak berada di bawah garis kemiskinan dan pada posisi menengah ke atas pada strata sosial masyarakat.

Disamping kehormatan kita tidak memungkiri ada kebiasan yang tidak stabil dari perilaku ASN, misalnya datang terlambat dan pulang lebih cepat meski tidak setiap hari namun dalam kehidupan birokrat pasti mengalami hal tersebut. Kemudian dalam melayani tidak santun, tidak berada di tempat, dan lain sebagainya. Perilaku-perilaku yang kurang tepat tersebut membutuhkan denda, dalam konteks fikih adalah KAFARAT. Betul, sudah ada peraturan yang mengatur sanksi bagi ASN, meskipun tidak terkena sanksi bukan berarti yang bersangkutan bersih dari penilaian umum costumer atau pelanggan.

Konsep kafarat ini bila disajikan dalam buku ini, akan memberikan motivasi positif bagi kinerja ASN untuk meningkatkan kinerja dan membersihkan penghasilannya dari kesyubhatan. Kafarat tersebut misalnya, bisa dalam bentuk atensi lebih terhadap pekerjaan, inovasi, prestasi atau bentuk lainnya di atas rerata standar kinerja. Atau kemudian menjadi pelayan umat, kontribusi positif aktiv di masyarakat, memberikan sebagian penghasilan kepada yang berhak, dan kegiatan lain yang memberikan penilaian positif masyarakat terhadap sosok ASN tersebut.

Sekali lagi, buku ini menarik dibaca dan semoga bisa memberikan efek positif bagi pembaca dan menjadi jariah bagi penulis dan orang-orang yang terlibat dalam proses penulisan hingga penerbitan buku (Abdul Basid).

Senin, 28 Agustus 2023

Mengapa Dikubur di Dekat Rumah?

 Kuburan dianggap sebagai salah satu spot yang ditakuti orang. Kesereman kuburan terbayang disana banyak gundukan orang mati, kemudian nongol sosok pocok dan hantu lainnya seperti dalam cerita-cerita yang beredar di masyarakat dan ditayangkan di film-film horor Indonesia. Karena kesereman tersebut kuburan atau tempat pemakaman umum biasanya berada di sudut desa, jauh dari pemukiman. Atau bisa jadi kesereman tersebut diciptakan agar tetap terpelihara kesakralan kuburan agar tidak aktivitas di kuburan selain datang mengirimkan doa.

Kamis, 29 Juli 2021

MOLIMODOT: IKHTIAR SEHAT & SELAMAT COVID-19

Molimo adalah angka lima yang dibaca berulang dengan dialek Madura (mo-limo), merupakan lima protokol kesehatan sebagai ikhtiyar terhindar infeksi Covid-19. Tindakan menjalankan protokol kesehatan merupakan bagian dari menjalankan anjuran Nabi saw.: “Laa dharara wala dhiraran” yang artinya janganlah berbuat madharat dan hal yang membuat madharat (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ibnu Hanbal). Berikut adalah MOLOMI-DOT yang merupakan ikhtiyari kita:

      1.   Mencuci Tangan.

Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, disinyalir akan menghilangkan virus atau bakteri yang menempel di tangan kita. Bukan hanya virus dan bakteri, najis yang menempel pada tangan kita bisa disucikan sehingga tak turut serta masuk ke dalam perut kita bersama dengan makanan yang kita makan. Meski bukan najis ‘ainiyah, baik bila kita mencuci tangan kita.

     2.      Memakai Masker

Masker dianggap sebagai penghalang droplet yang keluar dari mulut kita saat bicara dan nafas kita. Double masker akan lebih ketat dalam mengantisipasi kita menularkan virus kepada orang lain, atau menangkalnya dari orang lain.

Ambillah pelajaran, bahwa masker yang sekarang dipakai untuk menurunkan resiko penyebaran Covid-19 menjadi peringatan bagi kita agar tidak banyak cakap kecuali yang bermanfaat, hindari ghibbah dan fitnah, tak berbicara yang bukan kapasitasnya, dan lebih baik diam untuk kebaikan.

      3.      Menjaga Jarak

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19, disebutkan bahwa jarak aman minimal satu meter dari orang lain untuk menghindari terkena droplets dari orang yang berbicara, batuk, bersin serta menghindari kerumunan, keramaian dan berdesakan.

Protokol kesehatan ini ditentang oleh beberapa kelompok muslim yang meyakini bahwa protokol ini menyalahi syariat “merapatkan shaf” dalam shalat.  

Ini juga mengisyaratkan kita agar menjaga jarak dalam berteman, mengetahui hak dan kewajiban sebagai seorang teman untuk tidak mencampuri urusan pribadinya kecuali diminta pendapatnya.

     4.      Menjauhi Kerumunan

Berkerumun berpotensi lebih mudah virus menular sebab bertemu banyak orang yang kita tidak tahu satu sama lainnya. Berkerumun juga cenderung susang mengontrol jarak satu sama lainnya. Saat kita berkerumun akan mengobrol bebas, dan dimungkinkan orang tak telah terpapar (OTG) berada dalam kerumunan tersebut menularkan Covid-19. 

     5.      Mengurangi Mobilitas

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, banyak larangan-larangan bepergian kecuali alasan dinas dan krusial lainnya yang harus menunjukkan syarat administrasi telah divaksin, negatif PCR/rapid antigen, surat keterangan dari tempat tugas atau RT/RW.

Mengurangi mobilitas merupakan bagian dari menjalankan sunah rasul Saw., yang termaktub dalam sebuah hadis tentang tha’un; “…… Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR. Bukhori-Muslim)

     6.      Doa

Berdoa merupakan ibadah, dan bagian dari kefakiran hamba terhadap Tuhannya. Disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah:184 bahwa “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” dan dalam Surat al-Ghafir: 60 disebutkan “…berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku kabulkan untuk kalian”.

Bila kita berdoa, memohonkan perlindungan dan keselamatan dari wabah Covod-19 sejatinya kita menegaskan kefakiran kita atas kekuasaan Allah di atas segala sesuatu. Dia yang menciptakan virus dan menurunkan obat serta mengendalikannya.

      7.      Tawakal

Setelah ikhtiyar dengan 5 M (molomo) dan berdoa, kita harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt. Kematian kita sudah tercatat sejak kita belum terbentuk menjadi manusia. Ikhitayr adalah upaya kita sebagai manusia, berdoa adalah kelemahan kita yang membutuhkan Tuhan dan tawakkal bagian dari kepasrahan kita pada Allah Swt yang dapat berkehendak atas para makhluk-Nya.

Protokol Kesehatan yang dirumuskan oleh Kementerian Kesehatan merupakan bagian dari ikhtiyari manusia agar selamat dan sehat dari Covid-19. Berdoa merupakan pengakuan kelemahan kita terhadap Tuhan, dan tawakal merupakan kepasrahan kita atas takdir-Nya. Meski kita sudah menjalankan protokol yang ketat dan berdoa, bila Allah berkehendak lain atas diri kita maka kita juga akan terpapar Covid-19.

Penerapan protokol kesehatan tak bisa diyakini sepenuhnya sebagai tindakan yang pasti tidak menyebabkan tertular Covid-19. Keyaninan tersebut bagian dari arogansi dan menghilangkan kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu (innallaha ‘ala kulli syai’in qadir). Menolak tidak menerapkan protokol kesehatan dengan meyakini bahwa “takut kok dengan corona, takut itu pada Allah”, juga bukan tindakan yang benar. Sebab menjalankan protokol kesehatan merupakan ikhtiyar manusia berdasarkan kajian para ahli multidispilin ilmu kesehatan.

Kombinasikanlah ikhtiyar kita sebagai manusia dengan merapkan protokol kesehatan, berdoa dan bertawakallah kepada Allah Swt. Niatkan menerapkan protokol tersebut berdasarkan ilmu agama, sehingga tindakan kita bermanfaat bagi diri dan sesama serta berpotensi menjadi ibadah (AB).

 

Jumat, 17 Juli 2020

Kebutuhan Dasar: Kesehatan Diri


Setelah mengetahui tentang apa yang dimakan, cara memasak, mencari, dan menikmati makanan, kita juga harus mengetahui tentang kebutuhan dasar hidup kita lainnya, yaitu sehat atau tidak sakit. Sehat akan memperlancar aktivitas kita, sedangkan sakit dapat menghambatnya.

Kamis, 16 Juli 2020

Kebutuhan Dasar: Ngelmuni Makanan


 Dalam hidup kita harus ngelmuni makanan, kesehatan diri, dan kebutuhan ruhani. Bila kita makan nasi, maka kita harus mengetahui cara memasak nasi. Memasak nasi adalah keahlian dasar bagi setiap orang yang makan nasi, pembelajarannya dilakukan dengan disuruh-suruh orang tua untuk membantu masak nasi. Belum lagi diminta bantu menggoreng, ngulek bumbu, menyiangi ikan dan seterusnya untuk lauk nasi. 

Sabtu, 15 Desember 2018

Apakah kamu yang selalu menyisakan makan?

"Mubazir!!!,....."  bukan hanya memubazirkan saja, karena makanan sisamu bisa saja dimakan ayam, cacing dan hewan pengurai lainnya. Melainkan ada hal-hal yang tidak kita sadari:

Selasa, 11 Desember 2018

Mental Penanam Pohon, Kangkung dan Tengkulak


Ada orang yang suka menanam biji atau bibit pohon berkayu besar. Dengan sabar penanam pohon itu memiliki harapan yang lebih luas, agar lingkungannya rindang, sumber air sumur, ada burung prenjak atau kutilang yang bercuitan sambil mengais ulat di pepohonan, dan pohon-pohon itu kelak berbuah untuk dimakan. Mereka tak hanya berbagi antar sesama manusia, namun codot, lalat buah, ulat buah, tikus pohon dapat menikmati buah tanaman tersebut. Disamping itu ada pencari kayu bakar yang mengais ranting kering, tumbuh jamur, dan perdu di sekitar pohon dan akhirnya akan menjadi rumah besar ekosistem baru yang saling menjalankan fungsi untuk keberlangsungan hidup. 

Senin, 10 Desember 2018

Generasi Dispenser

Di era millenial kita diperkenalkan dengan istilah jaman old dan jaman now, sebuah perpaduan lucu-lucuan atau karena seringnya orang Indonesia mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan. Padahal saat ini yang disebut sebagai jaman now, pada waktunya akan menjadi jaman old di era generasi berikutnya.

Jumat, 14 Agustus 2015

Kidung Wahyu Kolosebo

Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Hinggo pupusing jaman


Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Tinambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Sang Hyang Jati Pengeran

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Tumuju dateng gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Manunggaling kawulo gusti, krenteg ati bakal dumadi
Mukti ingsun …tanpo piranti

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Tyasing roso mardiko,……..

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
Byar manjing sigro-sigro

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
Kataman wahyu ……..Kolosebo

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung
Segoro gando arum, suh rep dupo kumelun
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Titahing Sang Hyang Agung

Rembesing tresno, tondo luhing netro roso
Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
Palilahing Sang Hyang Wenang

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Datan gingsir….sewu warso

https://www.youtube.com/watch?v=gwoZ4Fry9E0

Jumat, 24 Juli 2015

Mudik itu Syar'i Lhoo,...

"Wong lungo nyang ndi parane, musti muleh", siapapun yang pergi kemana pun akan pulang/kembali atau dalam istilah lain "urip iku mung mampir ngombe", hidup itu sekedar mampir untuk minum. Tradisi pulang kampung atau mudik saat lebaran mungkin hanya ada di Indonesia, karena filosofi warganya untuk mengingat kampung halaman sebagai bagian dari sejarah hidupnya.

Kamis, 23 Juli 2015

Salim Salaman

Saat kecil kita diajari oleh orang kita untuk salim. Dalam kamus bahasa Indonesia berarti sehat, sempurna dan tidak rusak. Sementara dalam bahasa arab berarti orang yang selamat (saalimun).  Sebuah nilai filosofi yang tinggi telah ditanamkan namun tidak kita sadari. Yaitu menjadi orang yang selamat (salim), dalam al Qur'an menyebutkan "jangan kalian semua mati kecuali dalam keadaan selamat" atau dalam keadaan muslim ( wala tamutunna illa wa antum muslimuna ).

Kata salaman (bersalaman) lebih familiar di telinga kita dibanding jabat tangan. Jabat tangan lebih bersifat formal, karena yang melakukan adalah tangan-tangan pejabat sementara embah-embah kita ngajari kita untuk salaman. Bukan sebuah pilihan kata yang tidak sengaja, melainkan bagaimana kita dapat menciptakan keselamatan bagi diri, orang lain dan lingkungan. 

Salim salaman, hanya mampu dilakukan oleh mereka yang selamat/damai (dirinya) untuk memberikan keselamatan orang lain dan lingkungannya. Tidak sempurna iman kita bila orang lain tidak bisa selamat dari lisan dan perbuatan kita. Dan amanah untuk menjaga agar kita tidak menciptakan kerusakan di muka bumi, setelah terjadi kedamaian. Bagi mereka yang selamat dan tenteram jiwanya, merekalah yang mampu untuk kembali pada Tuhannya.

Jadi, salim merupakan pesan simbolik yang diajarkan oleh embah-embah kita untuk menjaga keselamatan kita dengan bersopan-santun dan menghormat pada yang lebih tua. Salaman biasanya diposisikan antara kita dengan orang-orang yang setara dengan kita sebagai orang dewasa dengan tetap menjaga dan menciptakan kedamaian/keselamatan sesama.(doel)
 

Rabu, 22 Juli 2015

NGAPUR-O

Ngapuro merupakan kata atau kalimat perintah dari kata kapur, yang biasa dilakukan masyarakat jawa dulu untuk "nglabur" tembok atau gedek atau pager menggunakan kapur atau gamping agar putih menjelang Iedul Fitri. Ngapuro juga berarti memaafkan. Penggunaan idiom ngapuro untuk menggantikan kata maaf bukan ngasal melainkan untuk saling memutihkan atau saling berhalalan.

Pada saat lebaran biasanya ada Kupat, dalam bahasa Indonesia dinamai ketupat. Kupat itu merupakan simbol yang harus ada atau diadakan saat lebaran Iedul Fitri, Kupat merupakan kependekan dari "ngaku lepat" atau pernyataan salah untuk minta maaf kepada sesama untuk mensucikan diri setelah sebulan berusaha untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. 

Kupat juga menjabarkan tentang "laku papat" atau empat perbuatan, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan. Lebaran berarti telah usai, setelah menjalani puasa selama sebulan ( di Bulan Ramadhan ), setelah itu dengan harta yang kita miliki haruslah berbagi dengan fakir miskin atau dengan Luberan. Luberan dari kata Luber mendapat imbuhan -an, yang berarti kepenuhan atau wadah tak bisa menampung air lagi sehingga tercecer atau luber. Atau dengan sengaja diluberkan sebagian harta kita untuk yang membutuhkan melalui zakat fitrah dan zakat maal. Budaya silaturrahim yang berubah menjadi silaturrahmi adalah upaya untuk melebur dosa-dosa kita dengan orang tua, kerabat, saudara, teman dan tetangga dengan berhalal bihalal atau kemudian disebut dengan leburan. Setelah (Lebaran) kita beribadah kepada Allah dengan puasa, tarawih, baca Qur'an, qiyamul lail, dan memperbanyak ibadah sunah, berzakat (Luberan), meminta dan memaafkan sesama (Leburan), pada prinsipnya kita telah melakukan Laburan. Artinya kita telah memutihkan diri dan menjaganya hingga bulan Ramadhan berikutnya. 

Bila untuk memutihkan tembok (ngapur/nglabur) dengan gamping atau kapur, maka diharapkan dengan ngapuro maka kita memiliki sifat pemaaf ( wal 'afiina an annaas ). Sehingga ngapuro bukan tidak syar'i atau tidak mengikuti sunah nabi saw melainkan itu adalah sebuah pilihan kata yang memiliki makna filosofis yang berdasarkan pada perintah Allah dan teladan nabi saw. (doel)

Selasa, 23 Juni 2015

Idealisme Mukena di Tangan Pasar

Mukena atau di kampung saya dikenal dengan "rukuh", merupakan pakaian khusus untuk wanita melakukan shalat. Biasanya berwarna putih, walau hingga berwarna kecoklatan seorang ibu-ibu tetap memakainya karena hanya satu-satunya yang ia miliki.

Selasa, 24 Maret 2015

Amanah Cinta

Saat kita naksir sama perempuan atau sebaliknya, tiada yang paling indah selain kata cinta. Membayangkan begitu indahnya bila dapat hidup bersama membangun keluarga indah, sakinah, mawaddah warahmah.

Kamis, 01 Januari 2015

Perayaan Tahun Baru: Surga, Neraka atau Tak Memilih Keduanya

Di jalan-jalan dipenuhi orang berkendara menuju tempat perayaan pergantian tahun, prat-pret terdengar suara terompet. Ramai lalu-lalang kendaraan berpawai keliling, menyatu suara kenalpot motor membuat bising bagi mereka yang tak menikmatinya. Sebagian telah berada di atas panggung untuk menghibur, duduk-duduk di pojokan sepi berduaan sambil memadu kasih.

Minggu, 23 November 2014

Bangsa Bebek Si Penunggu Magrib

Indonesia mempunyai ragam suku bangsa, bahasa dan budaya serta banyak kuliner dan karya anak bangsa yang tak kalah dengan asing. Namun belum nampak konsep pendidikan yang jelas agar generasi bangsa bangga terhadap negara, bahasa dan budayanya.

Jumat, 21 November 2014

Gara-gara Bid’ah: Slamet (an) Berganti Nama Tasyakur (an)



“Aneh,..!!, nama Slamet diubah menjadi Tasyakur, hanya karena tidak islami dan berbau kejawen. Slamet tak bisa menggantikan tasyakur, karena akar kata dan maknanya berbeda. Slamet bila diarabkan menjadi Salim atau Muslim bukan Syakur atau Tasyakur. 

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...