Kita menganggap orang gila sangat menjijikkan, kotor dan mengganggu pemandangan kota. Mereka dengan pakaian kumal, tidak utuh, bahkan sebagian lain tidak mengenakan baju sama sekali ( telanjang ). Kita menganggap diri kita lebih mulia dari mereka karena menggunakan baju, pernak-pernik, sepatu, berkendara, makan higienis, olah raga dan ngumpul bersosialita. Berpendidikan tinggi, bekerja di perusahaan multi nasional, menjadi pegawai negeri, wakil rakyat dan pejabat.
Jangan percaya tulisan-tulisan ini dan Penulisnya. Percayalah pada Tuhanmu, bila engkau dapat mengambil pelajaran bukan karena Penulis atau tulisannya melainkan Tuhan yang memberimu pemahaman.
Langganan:
Postingan (Atom)
Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok
Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...
-
Bismillah, dengan nama (-nama) Allah kita memulai aktivitas dengan kebaikan dan mengakhirinya dengan rasa syukur (kebaikan) dengan kalimat h...
-
Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga ki...
-
Populer merupakan hasil dari sebuah proses baik yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Dalam perpolitikan penting te...
