Sabtu, 17 Januari 2026

Perbanyak Ingat, Doel!!

Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).

Al-Quran dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun: sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).

Shalat merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.

Belajar atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur) juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih ambisi duniawiyah.

Termasuk kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah, dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.

Dzikir secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah (tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli) dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi) biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi, dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.

Kalimat dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah” atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna) menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim), penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan (al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.

Rerata pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan, kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.


Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Pe...