Dalam
obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan
aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?
“Pie,
Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.
“Ga
pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua
makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah
ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah
ketululannya.
“Edyaaan
Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo
“Ngene….
Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo
“Kita
itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42).
Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna,
bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih
yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal
hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.
Selain
kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan
yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi
wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada
kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat
hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.
“Ngunu…
diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.
“Lha
yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan
lebih mendalam.
“Butuh
kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.
Tasbih
yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct
hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang
dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa
Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka
ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah.
“Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan
ya Yazid?”.
“Ngerti
Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli
ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan
menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa
menyadari sesta pikirnya.
Dari
cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita
bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid.
Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori
eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita
juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan,
tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20,
artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan
(malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk
menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak
henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?
Malaikat
bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna
bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di
sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat
bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh
aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna
maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas
perintah-
Seluruh
ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita
juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan
hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi,
seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam
jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku
bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali
diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya
memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan
dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular
beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa
pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.
Tasbih
tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa
pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar
buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah
mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya
juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari,
bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana
dengan manusia?
Manusia
dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status
kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan
tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa
terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan
menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia
makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam
lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan
perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan
apapun di dalamnya.
“Setelah
bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan
Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul
menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.
“Oooooh
…. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah
“Ngunu
Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari
pengannjal perut.