Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).
Al-Quran
dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun:
sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan
menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran
bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan
dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).
Shalat
merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka
dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat
lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan
shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan
witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada
waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta
pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.
Belajar
atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori
dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah
kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu.
Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul
ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi
dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan
serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan
didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur)
juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu
berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih
ambisi duniawiyah.
Termasuk
kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas
kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah,
dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya
mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang
tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa
alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.
Dzikir
secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir
bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah
(tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan
dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli)
dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi)
biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir
bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi,
dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami
dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.
Kalimat
dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi
perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa
ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal
kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah”
atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan
tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna)
menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim),
penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan
(al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.
Rerata
pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan,
kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan
bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan
yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan
asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita
mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan
taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar