Apa yang Anda pkirikan kala melihat status
orang dengan ayat inna ma’al ‘usri yusran? Saya hanya menilai bahwa
orang tersebut sedang merasa mengalami kesulitan hidup. Dengan memosting potongan
ayat tersebut dengan segara hilang kesulitan kemudian datang kemudahan. Atau kemudian
potongan ayar tersebut diwiridkan dengan jumlah tertentu, kemudian terjadi
keajaiban kesulitan menjadi kemudahan.
Inna ma’al usri yusran, yang diartikan “sesungguh
sesudah/beserta kesulitan itu ada kemudahan” sering digunakan untuk status
seseorang sepertinya masih dalam keadaan kesusahan. Dengan mengunggah postingan
tersebut berharap menjadi energi positif bahkan pelipur lara. Kemudahan bukan “ujug-ujug”
datang sebagai keajaiban. Kemudahan yang bersifat given dari Allah hanya
diperuntukkan bagi manusia yang dikehendaki. Kemudahan yang ikhtiyari adalah penggunaan
akal pikiran untuk mencari solusi atas kesulitan tersebut sebagai doa (pengharapan)
implementatif.
Ingatkah dengan cerita Willian Kamkwamba dari
Malawi, Afrika Timur yang mencari solusi atas kekeringan yang melanda desanya.
Kamkwamba memanfaatkan angin sebagai sumber energi yang diubah menjadi energi
listrik untuk menggerakkan mesin air rakitannya mengeluarkan air dari dalam
tanah untuk mengairi lahan dan penghidupan warga desa.
Di Indonesia ada Mak Eroh dari Tasikmalaya yang
membelah bukit cadas lereng Gunung Galunggung untuk mencari sumber air
pengairan sawah warga yang kekeringan (1980-an). Mbah Sadiman dari Wonogiri
yang mengkonservasi air tanah dengan menanam ribuan pohon beringin di lahan
tandus, kemudian sukses mengairi sawah-sawah dan sumber air warga sekitar.
Selain cerita heroik lingkungan, banyak juga
cerita inspiratif dari para pengusaha yang bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bob
Sadino, yang rela berjualan telor ayam setelah kecelakaan dan akhirnya memiliki
banyak perusahaan. Kisah Dokter Eca (Eka Nur Prasetyawati) dibalik cerita viral
“Layangan Putus” yang terpuruk karena menolak poligami dan mengalami KDRT
kembali bangkit membuka usaha untuk menghidupi anak-anaknya. Dan masih banyak
cerita-cerita inspiratif lainniya yang bisa kita jadikan motivasi dari kala
sedang terpuruk. Jangan merasah seakan diri kita adalah orang-orang yang paling
susah. Sementara ada orang-orang yang diberikan keterbatasan fisik tetap semangat
menjalankan hidup penuh dengan rasa syukur.
Bila masalah diibaratkan batu besar yang berat
kita pikul, bukan menempelkan potongan ayat di atas pada batu tersebut atau
mewiridkannya sehingga batu tersebut menjadi ringan. Berpikirlah bagaimana cara
memindahkan batu tersebut agar lebih mudah dan ringan. Bisa saja dibelah
menjadi belahan yang mudah diangkat atau menggunakan alat berat untuk
memindahkan batu tersebut.
Nabi saw pernah menegur sahabat yang setiap
harinya dzikir di masjid dan tidak bekerja untuk menafkahi keluarganya. Berdzikir
merupakan perintah (wadzkurullah dzikran katsiran), dzikir juga bisa
menenangkan batin (yathmainnul qulub) dan melangkah untuk mencari solusi
problematika hidup juga dianjurkan (fantasyiru fil ardh wabtaghu min fadhlillah
wadzkurullah dzikran katsiran). Penting untuk menggabungkan antara dzikir
dan doa (pengharapan) dengan implementatif problem solving idea (mengimplementasikan
ide penyelesaian masalah).
Dan perlu kita ketahui bahwa kesulitan
dan kemudahan itu adalah siklus, masalah dengan penyelesainnya. Siklus tersebut
akan dihadapi manusia sepanjang hidupnya, baik itu terkait dengan perekonomian,
problem interaksi sosial, pekerjaan, teknologi, masyarakat, hingga negara
bangsa. Satu masalah telah selesai, maka akan ada haral rintang kembali saat
kita menjalankan kebaikan (faidza faraghta fanshob).
Penyelesaian problem harus sesuai
kaidah ketuhanan, bukan semakin menjauhkan diri pada Tuhan YME. Sesuai dengan
kaidah ketuhanan adalah tidak melanggar aturan, misalnya kesulitan ekonomi
diselesaikan dengan bekerja bukan mencuri atau merampok dan kriminal lainnya.
Kesulitan perekonomian juga tidak kemudian pergi ke dukun, gunung kawi, atau
tempat pesugihan lainnya yang menjauhkan diri pada Tuhan.
Dalam ayat terakhir “wa ila
rabbika farghob: dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah”, kita tidak boleh
melakukan tindakan yang dilarang oleh Allah swt, seperti kriminal, kemusyrikan,
kecurangan, dan lainnya yang akan menjauhkan kita pada Allah swt. Harapan harus
dilangitkan dengan doa dan ibadah agar ketenangan diri membantu kita untuk
lebih optimis dalam menjalankan solusi yang menjadi pilihan kita.