Kamis, 22 Januari 2026

Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Perbuatan keji, salah dan dosa akan diampuni oleh Allah dengan mengingat Allah untuk kembali (dzikir) dan memohon ampun (istighfar) serta tidak akan pernah mengulangi perbuatan salahnya (QS. Ali Imran:135). Bersegera minta ampunan kepada Allah atas dosa diperintahkan dan merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa.

Selasa, 20 Januari 2026

Kok Disucikan, Tuhan Sekotor apa, Doel?

Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?

“Pie, Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.

“Ga pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah ketululannya.

“Edyaaan Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo

“Ngene…. Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo

“Kita itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42). Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna, bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.  

Selain kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.

“Ngunu… diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.

“Lha yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan lebih mendalam.

“Butuh kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.

Tasbih yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah. “Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan ya Yazid?”.

“Ngerti Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa menyadari sesta pikirnya.

Dari cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid. Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan, tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20, artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?

Malaikat bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas perintah-

Seluruh ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi, seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.

Tasbih tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari, bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana dengan manusia?

Manusia dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan apapun di dalamnya.

“Setelah bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.

“Oooooh …. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah

“Ngunu Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari pengannjal perut.


Sabtu, 17 Januari 2026

Perbanyak Ingat, Doel!!

Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).

Al-Quran dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun: sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).

Shalat merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.

Belajar atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur) juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih ambisi duniawiyah.

Termasuk kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah, dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.

Dzikir secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah (tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli) dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi) biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi, dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.

Kalimat dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah” atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna) menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim), penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan (al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.

Rerata pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan, kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.


Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Pe...