“Doel,
okehno awakmu moco solawat”, tetiba Kiai Ahmad menasihati Doel Semprul.
“Kata
orang-orang kae, berselawat kui mengikuti (ittiba’) ro Kanjeng Nabi, Yai? Opo cukup
moco thok?”, sahut Doel Kemplo.
“Wis,
rasah didawak-dawakno. Koen kabeh rung karuan bisa mengikuti nabi dengan
sempurna. Yang penting usaha untuk menjalankan ibadah karena taat pada Allah dan
ikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi, sahabat, tabiin dan para ulama”
“Yang
seneng baca barzanji, dziba, burdah, simthudduror, dan kitab maulid lainnya
dilanjutkan. Anggonmu moco yo karena seneng ro nabi, berkah oleh kenduri. Sinambi
dibaca, dipahami dan ikuti apa yang menjadi teladan nabi. Bila belum sempat
duduk bareng di majelis untuk baca sirah nabawi (kitab maulid), sempatkan
perbanyak baca solawat agar awakmu tetap nyambung dengan Kanjeng Rasul”.
“Mpean
ra sah bidngah-bidngahne wong-wong sing seneng moco barzanji, maulid, solawat
nang mesjid. Mereka itu berusaha memahami sejarah dan mengikuti nabi yang butuh
cukup waktu”.
“Yai,
saiki yo aneh-aneh, solawat nggo ben sugeh. Aku ra sugeh-sugeh Yai….”, sela
Rasdan memprotes niatan bersolawat agar kaya tetapi belum mendapatkan kekayaan.
Gusti
Alah mengerti tentang kita, bukan diberi harta melimpah tetapi Dia lebih sayang
terhadap kita agar tetap istiqomah selalu berada bersimpuh setiap malam. Ingatlah,
Tsa’labah yang didoakan nabi diberik kekayaan melimpah binatang gembalaannya
hingga akhirnya jauh dari agama.
Jamaah
Gendheng Wal Gemblung (di majelis Pagemblungan), sejak dakwah nabi hingga saat
ini berapa banyak jumlah ummat islam sesuai dengan tingkatan masing-masing. Ada
sahabat, tabiin, tabiuttabiin, ulama, kiai, ustadz, syuhada, para shalihin,
para penulis kitab-kitab, dan orang-orang mulia lainnya.
Lhah….,
Koen modelane ngene. Guendheng kabeh, rep saingan dengan mereka yang status keilmuan,
jasa dan spiritualnya lebih tinggi dari kalian. Koen kui sampah, boro-boro
dianggep, dilirik wae nggak, rung karuan masuk surga. Makanya perbanyak shalawat
kepada Gusti Nabi.
Ingatlah,
sekali Koen solawat bakal dibales kanjeng nabi dengan sepuluh jawaban (solawat:
didoakan), Koen moco 10 solawat dibales 100 jawaban. Berapapun solawat yang kau
baca akan dibalas sepuluh kali lipatnta (10x lipat). Bacalah sebanyak-banyaknya,
agar Kanjeng Nabi Muhammad penasaran atasmu sehingga beliau akan mengunjungimu,
mengenal dan kelak mendapatkan syafaat dalam hidup dan matimu kelak. Kala di
surga tak ada dirimu, Kanjeng Nabi akan mengingat dan menanyakannya kepada
Jibril as.
“Dapuranmu
itu susah untuk ikuti Nabi secara ideal, ngaji wae bolong-bolong. Dzikir –
wirid Pagemblungan saja jarang-jarang dilakukan. Terus, opo sing mok arep-arep?”,
tandas Doel.
“Masuk
surgalah, Doel!!, sela Doel Gemblung
“Surgooo
Mbahmu!!”, Jawab Doel Semprul
“Sudah-sudah,
kalian jangan saling menyalahkan”, Kiai Ahmad menasihati jamaah Pagemblungan.
“Kalian
jangan meremehkan solawat, Orang badui modal cinta nabi saja masuk surga, bahkan
dengan modal cerita dan sangat mencintai nabi akhirnya menjadi ahli surga
(cerita ya karim). Ada sahabat yang memeluk nabi agar harum wangi badan nabi
menjadi saksi di hadapan Allah. Ada yang da’imushalawat, saat meninggal
didatangi nabi”.
“Okehno
anggonmu solawat dan jangan bosan, semoga Kanjeng Nabi mengenali kita dan kita
bisa berkumpul bersama dengan beliau”
“Aamiiiiin………….”,
serempak jamaah Pagemblungan mengaminkan doa Kiai Ahmad.