Kamis, 09 April 2026

Ampunilah, Gusti

Ya Allah, Jangankan bersua, berharap surg-Mu saja tak pantas bagiku yang ahli maksiat ini. Jasad sempurna yang Kau berikan, setiap saat bermaksiat mulai dari kepala hingga ujung kaki. Ruh yang telah ikrar kepadamu, bermaksiat menuruti hawa nafsu. Ampunilah ruh dan jasadku ini ya Gusti.

Ya Allah, Rambut hitam bukan dibasuh air wudhu, melainkan diusap minyak agar klimis, rapi dan dipertontonkan pada manusia. Kepanikan saat warna memudar dan uban tumbuh dimana-mana, bukan sadar bahwa Kau telah mengingatkanku segera kembali. Melainkan menyemir kembali agar tampak muda gagah perkasa. Ampunilah rambut yang kuajak maksiat ini Gusti.

Ya Allah, Otak yang Kau berikan untuk berfikir, memperdalam pengetahuan, dan kesadaran diri atas-Mu, malah kugunakan untuk panjang angan2 (thulul amal), berfikir kotor dan aniaya. Akal pikiranku tidak digunakan untuk mikir dan mendekatkan diri kepada Mu, ampunilah otak ini Gusti.

Ya Allah, mata ini kau berikan kesempurnaan untuk melihat, yang seharusnya dijaga dari maksiat. Digunakan untuk membaca dan memahami ayat-ayat-Mu agar mengenal-Mu dan ibadah dengan benar. Aku gunakan untuk melihat kemaksiatan dan dosa, ampunkanlah dan jaga kedua mata ini dari kemaksiatan, Gusti.

Ya Allah, kedua telinga ini lebih tertarik mendengarkan fitnah, ghibah, dan kebohongan serta kemaksiatan lainnya. Bukan aku gunakan untuk mendengarkan ilmu, nasihat, dzikir, bacaan al-Quran, dan kebaikan lainnya. Ampuni dan jagalah kedua telinga ini dari kemungkaran dan kemaksiatan, Gusti.

Ya Allah, mulut ini selalu makan dan minum tanpa menyebut namamu. Kumasukkan seluruh makanan dan minuman tanpa memilah yang halal, dan berlebihan atas keduanya, bahkan haram pun kumakan. Lisan ini, selalu berucap dusta, fitnah, lacut, dan lebih suka ghibah daripada untuk berdzikir dan berkata baik. Ampunilah mulut dan lisan ini ya Allah, jagalah mulut dan lisan ini agar tidak maksiat dan mudah berdzikir serta berkata baik, Gusti.

Ya Allah, hati ini penuh iri, dengki, takabbur, bangga diri, dan lalai kepadamu. Ampunilah hati ini ya Allah, bimbinglah agar bisa menggantikan penyakit hati dengan kesibukan mengingat-Mu. Tiap detak jantung berisi kecemasan dan kekhawatiran, menghilangkan eksisten-Mu. Ampunilah, Gusti.

Ya Allah, ampunilah paru ini yang keluar masuk hirup udara dengan lalai tanpa mengingat-Mu. Ampuni dan Bimbinglah agar bisa mengingat-Mu dalam tiap tarikan dan hembusan nafasku, Gusti.

Ya Allah, ampunilah usus dan lambung serta perutku yang bermaksiat kepadamu. Perutku yang menerima dan memproses makananan berlebihan, subhat, makruh dan haram yang masuk ke dalamnya. Ampunilah, dan jaga perut hamba agar enggan terima makanan haram dan berlebih-lebihan, Gusti.

Ya Allah, darah yang mengalir seluruh tubuh teracuni oleh makanan tercampur haram, dan pasokan oksigen tanpa sebutan nama-Mu. Sehingga menggerakkan diri bermaksiat dan lupa kepada-Mu, ampunilah Gusti.  

Ya Allah, daging dalam tubuh ini yang tersusun dari makanan yang tidak kau ridhoi yang akan terancam dihanguskan oleh api neraka-Mu. Kulit pembungkus tubuh pun turut bermaksiat kepadamu. Kujaga kulitku bukan karena rasa syukur atas-Mu melainkan karena manusia. Ampunilah, Gusti.

Ya Allah, tulang dan sendi hamba mengikuti gerak maksiat kepada-Mu. Mereka tunduk pada nafsu bukan kepada-Mu. Ampunilah, Gusti. Tulang yang menegakkan tubuh dan persendian yang menggerakkan tubuh tidak kugunakan untuk ibadah kepada-Mu. Ampunilah, Gusti.

Ya Allah, qubul dan duburku juga bermaksiat kepada-Mu. Tidak menjaganya dari kesucian dan membiarkan bermaksiat, bersenggama tanpa mengingat-Mu. Ampunilah, Gusti.

Ya Allah, kedua kaki yang seharusnya melangkah ke majelis ilmu, mencari penghidupan keluarga, membantu orang-orang yang membutuhkan kugunakan untuk menuruti kemauan nafsu melakukan dosa dan maksiat kepadamu. Ampunilah, Gusti.

Masih pantaskah ku berharap surga, sementara aku tahu tempatku. Pantaskah ku minta pangkat, jabatan, dan kekayaan serta kemuliaan. Sementara jiwa dan raga ini bermaksiat tanpa sedikit pun beribadah kepada-Mu, Gusti. Terus, kepada siapa aku meminta? Bila bukan kepada-Mu yang memiliki keluasan pengampunan dan kasih-sayang. Ighfir lidzdzunubi yaa ghaffar……….wa aghisna birahmatika ya arhamarrahimin (AB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mungkinkah Dibentuk "Desa Pesantren"?

Pesantren memiliki lima unsur yaitu; Kiai, Santri, Masjid, Kitab Kuning (kurikulum), dan pondok sebagian menambahkan adanya maqbarah para mu...