Populer merupakan
hasil dari sebuah proses baik yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih
luas lagi. Dalam perpolitikan penting tetap menjaga popularitas diri agar tidak
tenggelam dan dianggap tidak penting dan kontributif. Isu ijasah palsu bisa
jadi merupakan bagian dari pemanfaatan objek isu agar popularitas tetap terjaga
bagi orang-orang tertentu. Isu makin populer juga akan menghasilkan cuan dari
bisnis media. Percuma, populer di dunia tetapi tidak populer di langit sebagai
orang yang dicintai langit.
Sahabat
Bilal bin Rabah, sendal terompahnya terdengar di surga padahal Bilal belum
meninggal dunia. Uwais al-Qorni masyhur di kalangan malaikat, karena begitu
baktinya kepada ibunya yang lumpuh, taat beribadah dan menjaga ketakwaannya. Kedua
sahabat tersebut adalah contoh orang-orang yang populer di langit tetapi tak
terkenal hebat di bumi. Bilal seorang budak hitam yang dibebaskan sayyidina
Umar r.a. dan Uwais adalah pemuda miskin yang hanya fokus berbakti pada ibunya.
Selain itu
ada ada seseeorang hilang popularitasnya di kalangan malaikat, setelah makan
sebutir kurma “curian”. Doa-doanya yang selalu membuat penasaran para malaikat
di langit tetiba tak ada jejak doa itu menembus ‘arsy. Untuk memulihkan
popularitasnya, dia harus minta keikhlasan penjual kurma. Penjual tersebut
sudah meninggal dunia, dia harus mencari tiga anak penjual kurma hingga
diikhlaskan sebutir kurma tersebut.
Ada cerita
lain tentang seseorang yang harus menanggung beban bekerja setahun hanya untuk
meminta ikhlas sebuah delima yang dia temukan di aliran sungai. Dia juga harus
menikahi anak petani tersebut yang dikondisinya diceritakan tidak “sempurna”
oleh petanu tersebut. Pemuda tersebut adalah manusia pilihan yang kemudian
melahirkan salah satu imam dari empat imam madzhab.
Apakah kita
dikenal penduduk langit? Boro-boro populer, dikenal saja tidak. Orang-orang
tertentu yang populer di langit adalah orang istimewa yang saat Allah mencintai-Nya,
maka Dia akan memamerkan pada para malaikat. Kemudian mereka diminta untuk
mencintainya juga hingga suatu saat akan diceritakan kepada para kekasih
lainnya.
Para penduduk
langit akan selalu mengintip penduduk bumi, mereka yang bersinar akan membuat
penasaran para penduduk langit. Kita diciptakan dari dua unsur cahaya (nur)
dan kegelapan (dhulumat), keduanya tidak bisa bercampur. Bila ingin bercahaya
dan dilihat oleh penduduk langit, maka kita harus meninggalkan perilaku gelap (dholim).
Keimanan seseorang bisa bertambah (yazid) karena ibadah dan
ketakwaannya, dan bisa mengurang (yanqush) karena kedzaliman dan
kekufuran yang dilakukannya.
Kau telah
sibuk mengejar sesuatu yang menambah gelap dan tak nampak oleh penduduk langit.
Rakus, culas, dzalim, membuat kerusakan (fasad), memelihara dosa (fasik),
inkar nasihat (kufur), dan perbuatan lain yang mencegah cahaya masuk dalam
hati (qalb-sirr-latifah). Bila hati gelap, maka cahaya tidak bisa dipantulkan
ke langit, sehingga nampak terlihat oleh mereka.
Bila kau masih
keluar masuk ruangan penguasa dan menunjuk diri, merendahkan lainnya, mengumpulkan
receh yang akan menjadikan hatimu tambah kelam. Uang yang kau dapatkan secara
culas, akan menambah nafsumu berkobar dan membakar hatimu yang semakin jauh
untuk nampak di langit. Popularitasmu di dunia tak bisa menyinarkan hatimu,
bukankah Fir’aun, Qorun, dan Haman populer di eranya?
Ingatlah,
sekalah hatimu agar kembali bercahaya dan mendapatkan doa dari penduduk langit.
Dan kemudian kau akan dikenal mereka, kelak disapa saat kau sampai disana. Bila
hatimu bercahaya, maka seluruh anggota tubuhmu akan konsisten pada ketaatan. Santun
dan lembut dalam berbicara, tegas dalam kebenaran. Kembalilah segera …………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar