Minggu, 09 Maret 2025

Puasa: Menyehatkan Itu Bonus

Puasa menjadi pembahasan dalam talkshow dan podcast yang bersliweran di media sosial. Salah satunya, yang menyatakan bahwa puasa itu menyehatkan. Puasa juga dikaitkan dengan diet intermittent fasting (IF) yang mengharuskan orang berpuasa selama 12 (dua belas) jam. Dengan berpuasa selama itu dapat memicu tubuh mengubah simpanan lemak menjadi energi, melepaskan keton ke dalam darah, menurunkan berat badan, memberi waktu istirahat pada sistem pencernaan, meningkatkan metabolisme dan kesehatan secara keseluruhan.

Beberapa peneliti menghubungkan puasa dengan kesehatan. Penelitian dari Jordan University Hospital menemukan bahwa puasa dapat membantu menurunkan kolesterol berbahaya, kadar lemak, dan tekanan darah.  Penelitian dari World Journal of Diabetes menemukan bahwa puasa dapat secara signifikan menurunkan kadar gula darah pada orang dengan diabetes mellitus tipe 2 (dua). Penelitian dari American Journal of Cardiology menemukan bahwa puasa dapat meningkatkan kadar hormon pertumbuhan hingga lima kali lipat. Penelitian dari National Institute on Aging menemukan bahwa puasa dapat meningkatkan biomarker penyakit, mengurangi stres oksidatif, dan menjaga fungsi pembelajaran dan memori.

Puasa merupakan perintah bagi umat muslim dan pemeluk agama dahulu agar kita lebih bertaqwa (QS. Al-Baqarah:183). Kewajiban tersebut memiliki manfaat jasmani, ruhani, dan ukhrawi. Manfaat jasmani termasuk didalamnya adalah seperti yang diungkap di atas, tentang metabolisme tubuh, mengurangi kadar gula, menurunkan berat badan dan lain sebagainya. Puasa bermanfaat bagi ruhani atau kejiwaan seperti mengendalikan syahwat, menyadarkan bahwa manusia memiliki kelebihan dibandingkan hewan, melemahkan hawa nafsu dan membersihkan jiwa. Dan ketiga, bermanfaat secara ukhrowi yaitu tentang balasan atas puasa mukmin yang ikhlas dan bersemangat dalam mengisi waktunya dengan meningkatkan nilai ibadahnya.

Manfaat puasa itu jelas bila kita menjalankan perintah dengan ikhlas penuh dengan ketundukan. Sedangkan niatan untuk kesehatan jasmani dan ruhani serta kehidupan lebih baik setelah mati adalah bonus dari Allah Swt atas keimanan dan keikhlasan serta ketundukan dalam menjalankan perintah tersebut. Momen mulia ini jangan dikotori dengan niatan selain tunduk kepada Allah untuk mencapai derajat muttaqin.

Kamis, 06 Februari 2025

Nak, Latihlah Otot-Ototmu

Sering sekali saat kita masih kecil mengeluh karena disuruh-suruh oleh orang tua kita. Pagi-pagi sudah kena omelan; “tidur mbader, bangun siang, mau jadi apa?”. Setelah bangun kemudian disuruh bantu angkat-angkat baskom/wadah jualan ke pasar. Belum kalau Bapak yang nyuruh ke sawah, nungguin padi, tebar urea, ke tambak dan seterusnya. Setelah angkat-angkat jualan Simak, berangkat sekolah di last minute (pukul 06:40) harus naik sepeda onthel sejauh 3Km, ngos-ngosan berkeringat masuk kelas. Dan banyak lagi peristiwa seakan orang tua tidak sayang kepada kita.

Keluhan dan rasa tidak terima saat itu ternyata melatih diri kita untuk bisa survive di semua keadaan. Ketiadaan keuangan orang tua yang pada akhirnya tak bisa memenuhi keingain kita membandingkan anak-anak yang berkecukupan. Kebiasaan mengencangkan otot dengan paksaan orang tua membuahkan hasil yang baru kita sadari saat dewasa dan berkeluarga.

Saat ini bisa nyangkul, menggergaji, nukang kayu, nukang batu, dan lainnya karena paksaan Bapak menempa anak-anaknya tanpa kurikulum yang jelas. Orang tua hanya mengatakan belajar, berusaha dan bekerjalah untuk meraih cita-cita, jangan pernah mengharap pemberian dan warisan orang tua. Semua keterampilan harus dikuasai, sebab keterampilanlah yang akan membantu kita mendapatkan uang. Kesusahan dan kepedihan yang membuat kita kuat mental saat menghadapi kepailitan ekonomi.

Nak, era saat ini menjadikan kita terlena menjadi kaum rebahan. Dengan pegang gadget kita bisa nonton sambil tiduran, bisa pesen makan tak perlu memasak, bisa beli barang tanpa kita ke pasar atau toko, bisa pesan ojek online tanpa kita harus mengayuh sepeda, tanpa keliling traveling kita bisa melihat dunia.

Ingatlah! Bahwa gadget atau gawai dan internet adalah alat yang bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan kita harus tahu bahwa tubuh kita yang diciptakan Allah membutuhkan latihan, gerak otot, melangkah, berpikir, dan seluruh aktivitas gerak kita bermanfaat agar tubuh tidak karatan. Jangan gadaikan otakmu dalam internet, kamu harus meramu pengetahuan dari apa yang kamu baca dalam otakmu.

Bila ototmu tidak dilatih dan otakmu tergadai oleh gawai, saat semua fasiltas itu rusak kamu akan gagap dan rapuh. Para peneliti mengistilahkan generasimu sebagai generasi strawbery. Nampak indah berwarna, namun tak bisa bertahan lama dan gampang membusuk. Tidak kuat diterpa angin ujian kehidupan, mudah rusak dan hilang. Bila benar generasimu sebaga generasi strawbery, maka berkolaborasilah dengan blender dan ice, sehingga menjadi jus yang menyegarkan. Juga berkolaborasi dengan semua lini kehidupan untuk menjadikan dirimu bertahan dan dikenang oleh orang.

Nak, latihlah otot-ototmu agar tidak rapuh dan kuat menghadapi tantangan kehidupan. Jangan gadaikan otak dan pikiranmu oleh gawai, sehingga saat hilang gawai seakan hidupmu turut hilang. Kita diajarkan tidak mempercayakan kepada hasil produk (makhluk) tetapi mempercayakan kepada sang pembuat (khalik). Atau ketika kita mengimplementasikan diri dari sifat tersebut, maka kita harus menjadi pemain atau pembuat (creator) bukan penikmat apalagi objek dari teknologi yang entah kapan akan berkembang atau bahkan hilang karena perang (abdul basid).

Rabu, 05 Februari 2025

Green Religion Dalam Kebijakan Riset PTKI

Tiga garis besar arahan Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nazarudin Umar, MA. dalam rapat kerja nasional pendidikan islam yang diselenggarakan di Hotel Mercure, Ancol yaiitu green religion, agama cinta (religion of love) dan nasionalime. Tiga isu tersebut harus menjadi landasan lembaga pendidikan untuk menanamkan pada anak didik melalui satuan pendidikan di bawah pembinaan Kementerian Agama dalam menyiapkan generasi menuju mencapai Indonesia Emas 2045.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebagai salah satu satuan pendidikan tinggi di bawah binaan Kementerian Agama memiliki human resource peneliti yang dapat memberikan data (data supplay) tentang tiga hal tersebut melalui riset selain tema-tema pengembangan keilmuan dan perguruan tinggi.  Ada sembilan prioritas riset perguruan tinggi keagamaan islam yang dituangkan dalam Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6088 Tahun 2024, yaitu Agama dan Keagamaan, Pangan-Pertanian, Energi, Kedokteran dan Kesehatan, Transportasi, Produksi Rekayasa Keteknikan, Pertahanan dan Keamanan, Kemaritiman, Sosial Humaniora.

Tentang green religion, apakah lembaga-lembaga agama dan pendidikan agama/keagamaan sudah berperan dalam memperpanjang usia bumi, mencegah perubahan iklim secara eskstrim, mencegah kerusakan lingkungan, deforestasi, dan isu-isu kerusakan lingkungan lainnya. Agama memiliki dalil tentang larangan perusakan bumi (laa tufsidu fil ardhy ba’da ishlahiha) dan dalil lainnya seperti QS. Al-Baqarah: 30 dan 205, QS. Al-Maidah: 32, QS. Al-Isra: 70, QS. Shaad:27-28, dan lainnya. Quran sebagai pedoman hidup seorang muslim dan juga menjadi petunjuk bagi seluruh manusia (hudan linnas) harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam menjaga lingkungan.

Menurut Indeks Kebersihan Lingkungan negara-negara atau Enviromental Performance Index (EPI), sepuluh negara dengan skor tertinggi tahun 2024 adalan Estonesia (75,3), Luxemburg (75,1), Jerman (74,5), Finlandia (73,8), Inggris (72,6), Swedia (70,3), Norwegia (69,9), Austria (68,9), Swiss (67,8) dan Denmark (67,7). Sementara Indonesia berada di urutan 117 terbersih di dunia.

Indonesia merupakan negara mayoritas muslim di dunia yang memiliki al-Quran sebagai pedoman hidup (way of life) yang tidak terkecuali persoalan menjaga bumi dari kerusakan. Kementerian Agama memiliki tugas dan fungsi pendidikan dan keagamaan yang dapat menggerakkan seluruh elemen pendidikan dan keagamaan untuk menjaga bumi dari kerusakan melalui kebijakan-kebijakan berbasis data (policy base data) yang mendukung terhadap pelestarian lingkungan. Untuk itu penting kiranya perguruan tinggi keagamaan dapat menyisipkan tema-tema riset tentang perubahan iklim (climate changes), pelestarian lingkungan, deforestasi, dan lainnya dalam rangka mendukung kebijakan tersebut. 

Kampus dapat memberikan peluang terhadap tema riset green religion melalui bantuan riset pada satuan kerja perguruan tinggi. Kampus bisa memberikan kontribusi solusi pencegahan kerusakan lingkungan sekitar kampus melalui usulan kebijakan ke pemerintah daerah, model rancang bangun lingkungan bebas banjir dan bencana lainnya, model pendampingan masyarakat rentan bencana, model pengabdian masyarakat berbasis mitigasi bencana, dan bentuk lainnya.

Peneliti perguruan tinggi keagamaan juga bisa akses penelitian di satuan kerja Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam melalui program bantuan riset BOPT dan program pendanaan riset Indonesia bangkit atau MoRA the AIR Funds Program melalui aplikasi Litapdimas. Program MoRA the AIR Funds yang telah dilaunching akhir 2024 membatasi empat fokus, yaitu Sosial Humaniora, Sains dan Teknologi, Ekonomi dan Lingkungan serta Kebijakan Layanan Pendidikan dan Keagamaan.

Hasil riset para dosen atau peneliti PTKI diharapkan tidak hanya publikasi ilmiah (artikel) pada jurnal ilmiah nasional maupun internasional, diharapkan dapat memberikan kemanfaatan langsung pada perubahan sosial masyarakat. Kebermanfaatan langsung bagi masyarakat bisa dalam bentuk penggunaan teknologi tepat guna hasil riset, kebijakan pemerintah dan pemberdayaan atau pengabdian masyarakat berbasis riset. Setelah riset, peneliti/dosen memiliki darma pengabdian yang bisa dikembangkan dari riset yang telah dilakukan (riset and development).

Riset PTKI juga harus didesain menghasilkan data survei, rekomendasi kebijakan, pillot project, prototype/model, pencatatan varietas/strain, dan memperkaya hak kekayaan intelektual seperti paten, merek dagang, dan rahasia dagang serta kekayaan intelektual lainnya. Dari riset, seharusnya kita bisa memetakan peran kampus perguruan tinggi keagamaan dalam mencegah kerusakan bumi melalui melalui riset dan pengabdian masyarakat berbais green religion (abdul basid)

Senin, 03 Februari 2025

Shalat Kok Ben Sehat

 Shalat dianggap sebuah hadiah perintah Allah kepada umat islam melalui nabi Muhammad saw saat peristiwa Is’ra’ Mi’raj. Shalat dzuhur, ashar, maghrib, isya’ dan subuh kemudian disebut sebagai shalat lima waktu. Dalam perjalanan dakwah penyebaran Islam, ada yang mendakwahkan “shalat wektu telu”, shalat tiga waktu (bukan lima waktu). Ini didasarkan pada ayat aqimi al-shalata liduluki al-syamsi ila ghasaqi al-laili wa qur’an al fajr yang artinya dirikan shalat saat waktu matahari, malam hari, dan pagi hari. Saat terang sinar matahari ada shalat dzuhur dan ashar, saat malam ada maghrib dan isya, dan saat fajar ada shalat subuh.

Shalat adalah perintah, dengan banyak permaknaan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Ada orang yang menganggap efek shalat itu sehat, atau rangkaian gerakan shalat bisa menyehatkan. Penelitian di FKUI yang menunjukkan bahwa shalat merupakan rangkaian gerakan berirama yang dapat menyebabkan kontraksi dan relaksasi otot yang harmonis. Penelitian di Jurnal Kesehatan yang menunjukkan bahwa shalat dapat menjaga kesehatan hati dan urat nadi. Penelitian di FEBI UINSI Samarinda yang menunjukkan bahwa shalat dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian di Tipa ftk.uin-suska.ac.id yang menunjukkan bahwa shalat dapat membantu pencernaan. Penelitian di Jurnal Emerald dan NCBI yang menunjukkan bahwa shalat dapat membantu terapi psikologis.

Ada yang mendasarkan diri bahwa shalat harus dalam kesadaran untuk menerapkan impactnya dalam bermasyarakat (tanha an al-fahsya’ wa al-munkar). Shalat rajin kemudian masih berbuat keji dan munkar, maka shalatnya tidak dianggap memberikan dampak positif diri. Bila ada seseorang itu baik sekali sehingga tidak nampak keburukannya, tetapi dia ga pernah shalat (non muslim), apa yang membedakan dengan muslim bila ukuran shalat dari pencegahan perbuatan keji dan munkar?

Ada yang mendasarkan bahwa menjalankan shalat karena diperintah saja, kalau tidak ada kewajiban pasti tidak dikerjakan atau sesekali saja. Mereka hanya mengikuti keabsahan fiqhiyah, terpenting terpenuhi syarat dan rukun shalat. Ada yang memaknai shalat sebagai tiket awal checking entry ke surga. Mereka serius dalam shalatnya, sehingga nampak berlebih-lebihan mengkhusyukkan diri. Secara psikis dapat memberikan dampak buruk others judgment, tidak baik shalatnya. Benci terhadap orang-orang yang tidak memprioritaskan shalat dan kerjakan atau aktivitas lainnya.

Ada shalat goyang, yen lego sembahyang (shalat bila sempat). Mereka yang diberikan nikmat kesibukan sehingga ingat shalat saat dia tidak sibuk, atau merasa tidak bisa menyempatkan waktu dalam kesibukannya untuk menjalankan shalat. Ada pula yang menjalankan shalat lima waktu sambil melengkapi sunah shalatnya, hingga menjalankan shalat-shalat sunah.

Dalam menjalankan shalat sunnah pun ragam motivnya. Mereka serius menjaga shalat dhuhanya agar rejeki lancar dan tambah berkah. Ada yang menjaga shalat malamnya, agar mendapatkan tempat yang mulia (maqam mahmudah). Ada menjaga shalat fajar, karena lebih mulia dari dunia dan seisinya. Ada yang menjaga shalat sunah rawatibnya untuk menambal bolong-bolong shalat fardhunya. Ada yang menjaga shalat taubat, shalat tasbih, shalat-shalat sunah mutlak lainnya menurut motivasi masing-masing.

Tuhan tidak mengintervensi motivasi shalat kita, bahkan memberikan karunia-Nya sesuai degan motivasi kita termasuk motivasi jahat. Shalat merupakan rangkaian doa, dan setiap doa pengharapan serta motivasi dalam mengerjakannya bakal dikabulkan oleh Allah Swt (ud’uni astajiblakum). Pu demikian, kita juga harus mempertimbangkan motivasi kita dalam mengerjakan shalat. Bila niatan kita untuk kepentingan kita dunia maupun akhirat hanya akan diberikan sesuai dengan motivasi kita. Motivasi jahat, Allah menugaskan setan untuk membantu memnyempurnakan motivasi kita.

Kita akan diberikan apa yang kita harapkan dari motivasi beribadah, bila dunia yang diharapkan maka dkan diberikan kesehatan, kesejahteraan, kehormatan dan lainnya di dunia. Bila shalat itu diibaratkan koin untuk bermain di playground, atau voucher hadiah, maka tatkala voucher yang digunakan untuk menukarkan kesejahteraan duniawiyah itu habis maka kita tak punya lagi voucher untuk masuk ke surga atau nirvana apalagi tiket privieage untuk bertemu Sang Idola.

Allah menggarisbawahi, bila niatan peribadatan itu hanya diperuntukkan diri-Nya maka akan diberikan keutamaan dibandingkan dunia dan seisinya. Berat untuk menjaga konsistensi kelurusan motivasi peribadatan kita, meski telah dituntun dalam pelafalan lillahi ta’ala. Apa yang dijanjikan itu “abstrak” sedangkan motivasi kesejahteraan, kehormatan, dan fasilitas untuk memperoleh kebahagiaan itu nampak nyata.

Untuk itu agar tidak tersesat motivasi kita, semua peribadatan atau yang berpotensi menjadi ibadah harus di-elmoni. Kesempuranaan membutuhkan ilmu dan latihan, sehingga kita mengetahui apa yang sebenarnya dikehendaki Allah atas perintah-perintah yang tertuang dalam al-Quran dan yang dicontohkan oleh nabi saw., dan para shabat-sahabatnya (abdul basid).

Minggu, 02 Februari 2025

Isra' Mi'raj Kita

Rajab telah berkahir, dan menjejaki Sya’ban yang merupakan bulannya Nabi, seperti dalam hadits Rajab syahrullah, wasya’ban syahriy, wa Ramadhan syahru ummatiy. Untuk mencapai ramadhan mubarok dan bermakna, kita harus menyiapkan diri paling tidak sejak bulan Rajab dengan ibadah dan memperbanyak sunnah serta kebutuhan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sehingga di Ramadhan fokus beribadah meraih kemenangan yang sebenarnya.

Tiap bulan Rajab kita akan mendengar ceramah atau taushiyah tentang isra’ mi’raj dan kupasan shalat sebagai hadiah dari mi’rajurrasul. Surat Isra’ ayat 1 menjadi landasan cerita tentang diperjalankan nabi pada malam hari dari masjid al-haram ke masjid al-aqhsa, kemudian mi’raj hingga sidratil muntaha dan mendapatkan perintah shalat lima waktu (baca: Isra’-Mi’raj).

Hidup sejatinya dari tempat satu ke tempat yang lainnya adalah sujud atau tunduk pada Allah swt., dengan shalat serta dampak dalam kehidupan. Masjid berarti tempat (isim makan), dimana pun kita berada baik di pasar, rumah, terminal, transportasi, dan segal hal wal makan diperintahkan untuk sujud atau tunduk pada aturan-aturan Allah swt. Masjid tidak dimaknai sebagai tempat shalat, melainkan tempat sujud ketundukan.

Sujud secara fisik yang nampak adalah shalat lima waktu yang memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial diri dalam berinteraksi di segala bidang. Setelah sujud secara fisik, manusia harus menghadirkan ketundukan secara batiniah, ketundukan pikiran (sujud al-fikri) dan hati (sujud al-qalbi) tidak melenceng dari Allah swt.

Sujud al-fikri lebih kepada menggunakan potensi kritis dan akal untuk menghasilkan pikiran yang positif dalam membangun tatanan sosial masyarakat. Sedangkan sujud hati (sujud al-qalbi) mengelola hati untuk tunduk kepada Allah dan terhindar dari hal-hal yang menggoyahkan dari selain-Nya.

Sidratil Muntaha adalah simbol saat kita diperjalankan oleh Allah dari tempat ke tempat di bumi tetap tunduk (sujud) hingga akhir kehidupan kita, maka kita akan sampai dan bertemu Allah swt. Yang kemudian disebutkan bahwa shalat merupakan mi’rajnya orang mukmin, tidak kemudian setiap kita shalat bisa wushul dan bertemu dengan Allah swt (abdul basid).

Sabtu, 11 Januari 2025

5 Kebermanfaatan Riset yang Harus Diraih Peneliti PTKI

Dosen berkewajiban menjalankan tiga darma, yaitu mendidik dan mengajar, riset dan mengabdikan diri pada masyarakat. Semua jenjang jabatan dosen (asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar) memiliki kewajiban untuk mendidik dan mengajar. Riset menjadi darma untuk pengembangan keilmuan bidang kepakaran para dosen tersebut. Sebaiknya, tema-tema riset berkaitan dengan bidang kepakaran dosen bukan berbasis nominal pembiayaan atau trend setter. Dari hasil riset dan kajian, dosen harus mampu mengimplementasikan keilmuannya dalam mendampingi dan memberdayakan masyarakat.

Tema riset harus mempertimbangkan prioritas pembangunan nasional, dasar pembangunan dunia (SDGs: Suistainebality Development Goals), Agenda Riset Nasional pada PTKI, Agenda Riset Nasional, Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), dan Asta Cita Pembangunan Nasiona, serta problematika sosial masyarakat.

Riset minimal harus memberikan kebermanfaatan pada 5 (lima) unsur, yaitu pengembangan keilmuan, kesejahteraan peneliti/dosen, institusi atau perguruan tinggi, masyarakat, bangsa dan negara. Pertama, riset harus dapat mengembangkan keilmuan yang ditandai dengan menemukan teori baru, menguji teori, atau menerapkan teori dalam risetnya. Agar temuan riset dapat dimanfaatkan oleh ilmuan/akademis lainnya harus dipublikasikan. Publikasi dapat meliputi publikasi pada junral ilmiah nasiona/internasional, penerbitan buku, prosiding, info/video grafis, diseminasi, national/internastional conference dan bentuk lainnya.

Kedua, bermanfaat bagi kesejahteraan peneliti/dosen. Riset harus berbanding lurus dengan kesejahteraan peneliti/dosen. Makin banyak riset atau kajian yang mendalam yang dipublikasi, peneliti akan dapat menggunakan hasil publikasi untuk peningkatan jenjang jabatan hingga menjadi Guru Besar. Mereka juga akan dikenal sebagai pakar di bidang tertentu yang menjadi fokus kajiannya, sehingga dapat menyebarkan hasil risetnya, menjadi narasumber yang secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan benefit bagi peneliti.

Ketiga, riset harus bermanfaat bagi institusi atau perguruan tinggi atau universitasnya. Publikasi riset dosen menjadi data pendukung pelaksanaan akreditasi program studi atau lembaga. Manfaat lainnya adalah nama institusi akan selalu disebut setiap peneliti menjadi narasumber dan pemakalah. Dalam mekanisme Badan Layanan Umum (BLU), institusi akan mendapatkan keuntungan pendapatan dari para peneliti yang menjadi narasumber nasional atau internasional.

Keempat, riset harus memberikan kontribusi pada perubahan sosial masyarakat (social community change). Objek riset tidak hanya dieksploitasi data untuk kepentingan peneliti, melainkan peneliti harus menawarkan soslusi atas problematika objek riset untuk bangkit dari problematinya (problem solver). Banyak peneliti yang hanya mengambil data, mengolah, menganalisis, dan ambil kesimpulan tanpa melibatkan objeknya untuk membantu penyelsaian permasalahannya. Ada anekdot “Masalahmu Menjadi Rejekiku” itu merupakan kenyataan yang seharusnya tidak terjadi dalam “dunia riset” perguruan tinggi keagamaan islam.

Kelima, riset harus dapat memberikan entry point kepada policy maker untuk membuat kebijakan perbaikan atas masalah-masalah sosial kemasyarakatan atau riset menjadi basis pengambilan kebijakan atau policy base data/riset. Rekomendasi sering dituliskan dalam laporan-laporan penelitian yang hanya menjadi syarat rukun outline penyusunan laporan akademik yang tidak pernah sampai pada pemegang kebijakan yaitu pemerintah. Riset harus dapat menyajikan data singkat, padat, dan komprehensif yang dituliskan dalam bentuk saran kebijakan yang diberikan kepada pemerintah pusat atau daerah. Negara memberikan anggaran besar untuk penelitian seharus terbantu oleh data riset yang akan digunakan sebagai dasar pertimbangan penyusunan kebijakan.

Selain lima unsur tersebut, ada satu menfaat besar riset yaitu hilirisasi. Hilirisasi adalah proses pengembangan hasil riset dalam bentuk paten atau model/prototype menjadi suatu produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat atau bernilai ekonomis. Hilirisasi sejalan dengan asta cita pemerintahan yang melanjutkan sembilan cita-cita pemerintahan sebelumnya.

Bila lima unsur tersebut mendapatkan manfaat riset peneliti/dosen PTKI, saya yakin kontribusi kampus PTKI akan dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Unsur keenam membutuhkan effort yang cukup besar, harus bekerja sama dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI), dan pengembangan produk layak jual. (Ab)

Rabu, 18 Desember 2024

Rasa Bukan Hanya Tentang Lidah

Rasa itu bukan tentang manis, pahit, asam, asin, hambar dan pedas yang dirasakan lidah. Rasa dapat bermakna lebih dalam lagi, misalnya ada ungkapan bila sakit ditampar jangan pernah menampar orang lain. Bila tiak mau disakit, maka jangan pernah menyakiti siapapun. Pun demikian, sebaik nabi saw., pun mendapatkan persakitan yang luar biasa. Dan memaafkan atau tidak membalas orang yang menyakiti kita adalah tingkatan laku tasawuf yang membutuhkan latihan yang kemudian muncul ungkapan “ngaji roso”.

Ngaji Roso bisa dimaknai menuju kemuliaan dengan rasa. Sedangkan rasa merupakan kekuatan hati manusia untuk menanggapi sesuatu, yang berhubungan dengan olah rasa, kalbu, nurani, moral, kasih, tulus, senang, cinta, dan emosi. Rasa harus diolah dalam hubungan di keluarga, masyarakat, pekerjaan, pendidikan, dan lingkungan lainnya termasuk dalam lingkungan masyarakat yang hanya sekedar kita lewat dengan menggunakan etika.

Pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan oleh Asisten rumah tangga (ART), ada pikiran liar bila tetiba majikan mengerjakan kerjaan tersebut tanpa memberitahukan kepada ART tersebut. Seorang ART akan merasa bersalah atas pekerjaannya tanpa koreksi dan meluruskannya. Begitu pula dalam dunia kerja, direktur atau pimpinan perusahaan perlu memberitahukan kesalahan yang dilakukan bawahannya sehingga dapat memperbaruinya. Tidak kemudian melakukan take offer pekerjaan tersebut yang membuat rasa yang tidak menentu pekerja.

Dalam lingkungan pendidikan, murid tidak kemudian diberikan scorsing tanpa mengetahui kesalahannya. Begitu pula dengan para pekerja, yang harus dibimbing untuk melakukan pekerjaannya dengan benar. Baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, kerja, pendidikan dan lainnya saling mengingatkan, meluruskan, (tawa shaubi al haq) harus dilakukan dengan cara yang benar (hak) dan baik.

Kita sebagai pihak eksternal mengingatkan dengan baik, dan sebagai internal (diri) juga harus lebih wara’ atau hati-hati dalam bertindak agar tidak menyakiti orang lain. Rasa manis akan hilang dengan minum air tawar, rasa pedas akan hilang dengan goreng-gorengan, rasa pahit dan lainnya dapat hilang dengan makan-manakan enak yang kita kunyah. Namum, rasa sakit di hati terbawa pikiran, tidak akan hilang serta merta. Bila kita selalu melakukan tindakan tersebut, maka tidak menutup kemungkinan mendapatkan bala karena rasa sakit yang menjadi doa dari orang yang terdhalimi (du’a al madhlum istajabah). Hati-hati dengan rasa, yang dapat melukai tanpa berdarah, membunuh tanpa menyentuh, dan menjadikan orang gila karena merasa bersalah.

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...