Sabtu, 18 Juli 2026

Kampung Apung: Solusi Bagi Wilayah Terdampak Abrasi dan Banjir Rob

Di beberapa wilayah pesisir pantai utara seperti Demak, Semarang, Batang, Pekalongan dan Pemalang, hampir tiap tahun terkena banjir karena peningkatan debit air karena hujan atau rob. Beberapa penanganan yang telah dilakukan adalah memperbaiki saluran air, membangun talud, meninggikan jalan, dan merelokasi rumah terdampak. Mayarakat yang tetap tinggal karena mata pencaharian sebagai nelayan atau berbasis hasil perikanan menguruk tanah atau meninggikan rumah-rumah mereka.

Upaya menguruk rumah, jalanan, atau pembuatan talud dalam jangka panjang tidak menjadi solusi yang efektif. Bukit yang diambil tanah dan batuan untuk bahan material urukan akan menjadikan dataran rendah, yang juga akan berdampak pada bajir yang semakin mengarah ke daratan. Air pada dasarnya tidak bisa ditimbun, menguruk areal banjir maka akan menambah aliran air ke arah selatan atau daratan.

Sejenak mari melihat rumah-rumah Suku Bajo, yang berada di tepi-tepi laut. Rob besar mereka tidak kebanjiran, bahkan bisa mendapatkan ikan tangkapan yang terbawa oleh rob. Rumah-rumah Suku Baju berbentuk panggung dengan material bambu sebagai penyangganya. Selain rumah Suku Bajo, kita bisa melihat rumah-rumah di pantai Kalimantan, Lampung dan masyarakat yang tinggal di pinggir kali (Girli) atau sungai. Mereka tetap bisa beraktivita bermata pencaharian berbasis perikanan, juga tidak terkena dampak banjir.

Rumah Panggung atau rumah apung bisa ditawarkan bagi masyarakat yang terdampak banjir rob. Pemerintah bisa membuatkan kampung apung hingga pasar apung serta jalur lalu lintas air untuk membantu aktivitas masyarakat ke kota. Selain rumah-ramah suku Bajo dan pesisir pantai Kalimantan, Lampung dan lainnya, terdapat Kampung Apung Teko di Jakarta Barat dan Ayapoo di Papua.

Tidak hanya di dalam negeri, ada kampung apung di luar negeri seperti Santa Cruz Del Islote di Kolombia, Koh Ponyee di Thailand, Waterbuurt di Belanda, Desa Fadaoth di Senegal, Ha-Long Bay di Vietnam, Kampong Ayer di Brunei, Desa Ganvie di Afrika, dan Mexcaltitan di Meksiko.

Nah, para pengabdi masyarakat dan masyarakat terdampak abrasi dan banjir rob sudah harus memulai membuat solusi inovatif dengan membuat rumah apung, kampung apung, pasar apung dan jalur transportasi air sebagai solusi. Dan meninggalkan solusi klasik dengan menguruk rumah, jalanan dan lahan-lahan yang dapat mengakibatkan bajir meluas dan menenggelamkan seluruh daratan di pulau jawa.

Kampung Apung: Solusi Bagi Wilayah Terdampak Abrasi dan Banjir Rob

Di beberapa wilayah pesisir pantai utara seperti Demak, Semarang, Batang, Pekalongan dan Pemalang, hampir tiap tahun terkena banjir karena p...