Minggu, 19 Juli 2026

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan mengganggu ekosistem air. Saat musim hujan mulai tiba, bila tidak dibersihkan akan mengganggu kelancaran aliran air dan dapat menyebabkan banjir karena penyumbatan aliran.

Enceng Gondok dapat penyaring alami (fitoremediasi) yang menyerap logam berat dan polutan air, bahan baku kompos, campuran pakan bebek/endog, peneduh alami dan substart tempat menempel ikan. Beberapa warga memanfaatkan enceng gondok sebagai bahan pembuat kerajinan tangan seperti tas, sendal rajut, dan lainnya. Lahan pertanian sudah jarang, pemanfaatan enceng gondok sebagai bahan kompos tidak memungkinkan. Peternak bebek dan endog, lebih memilih bahan campuran lain dibandingkan enceng gondok. Hasil kerajinan dari enceng gondok sudah kalah trend dengan produk-produk impor yang murah dan awet.

Nah, di sungai-sungai yang masih tawar airnya atau sedikit payau, hamparan enceng gondok dapat disulap sebagai lahan pertanian apung (floating gardens/floating bed). Dengan bambu yang dijajar (mirip gethek bambu) kemudian atasnya ditata enceng gondok, ditumpuk dengan diselingi tanah lumpur. Bentukan air seperti bedhengan sawah yang terapung. Setelah siap, kemudian bisa ditanami sayuran, atau tanaman yang sesuai dengan media tersebut.

Pemanfaatan enceng gondok sebagai floating gardens, tidak perlu mengangkat enceng gondok keluar sungai yang akan menambah kerjaan, waktu dan estetika pinggir kali. Bila masih ada enceng gondok yang berkembang biak di sungai, bisa kemudian diambil dan ditumpukkan ke bedhengan floating gardens.

Dengan demikian, diharapkan sungai terkendali dari blooming enceng gondok, warga memperoleh penghasilan, dan ada manajemen pengelolaan kali untuk kesejahteraan masyarakat. Manajemen pengelolaan kali/sungai dapat dikembangkan menjadi wisata air (river tourism), dengan memanen sayur dan memancing ikan menggunakan cano atau sampan.

Sabtu, 18 Juli 2026

Kampung Apung: Solusi Bagi Wilayah Terdampak Abrasi dan Banjir Rob

Di beberapa wilayah pesisir pantai utara seperti Demak, Semarang, Batang, Pekalongan dan Pemalang, hampir tiap tahun terkena banjir karena peningkatan debit air karena hujan atau rob. Beberapa penanganan yang telah dilakukan adalah memperbaiki saluran air, membangun talud, meninggikan jalan, dan merelokasi rumah terdampak. Mayarakat yang tetap tinggal karena mata pencaharian sebagai nelayan atau berbasis hasil perikanan menguruk tanah atau meninggikan rumah-rumah mereka.

Upaya menguruk rumah, jalanan, atau pembuatan talud dalam jangka panjang tidak menjadi solusi yang efektif. Bukit yang diambil tanah dan batuan untuk bahan material urukan akan menjadikan dataran rendah, yang juga akan berdampak pada bajir yang semakin mengarah ke daratan. Air pada dasarnya tidak bisa ditimbun, menguruk areal banjir maka akan menambah aliran air ke arah selatan atau daratan.

Sejenak mari melihat rumah-rumah Suku Bajo, yang berada di tepi-tepi laut. Rob besar mereka tidak kebanjiran, bahkan bisa mendapatkan ikan tangkapan yang terbawa oleh rob. Rumah-rumah Suku Baju berbentuk panggung dengan material bambu sebagai penyangganya. Selain rumah Suku Bajo, kita bisa melihat rumah-rumah di pantai Kalimantan, Lampung dan masyarakat yang tinggal di pinggir kali (Girli) atau sungai. Mereka tetap bisa beraktivita bermata pencaharian berbasis perikanan, juga tidak terkena dampak banjir.

Rumah Panggung atau rumah apung bisa ditawarkan bagi masyarakat yang terdampak banjir rob. Pemerintah bisa membuatkan kampung apung hingga pasar apung serta jalur lalu lintas air untuk membantu aktivitas masyarakat ke kota. Selain rumah-ramah suku Bajo dan pesisir pantai Kalimantan, Lampung dan lainnya, terdapat Kampung Apung Teko di Jakarta Barat dan Ayapoo di Papua.

Tidak hanya di dalam negeri, ada kampung apung di luar negeri seperti Santa Cruz Del Islote di Kolombia, Koh Ponyee di Thailand, Waterbuurt di Belanda, Desa Fadaoth di Senegal, Ha-Long Bay di Vietnam, Kampong Ayer di Brunei, Desa Ganvie di Afrika, dan Mexcaltitan di Meksiko.

Nah, para pengabdi masyarakat dan masyarakat terdampak abrasi dan banjir rob sudah harus memulai membuat solusi inovatif dengan membuat rumah apung, kampung apung, pasar apung dan jalur transportasi air sebagai solusi. Dan meninggalkan solusi klasik dengan menguruk rumah, jalanan dan lahan-lahan yang dapat mengakibatkan bajir meluas dan menenggelamkan seluruh daratan di pulau jawa.

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...