Jumat, 16 Juni 2017

Laila al-(a)Kadar

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, dimana dalam bulan tersebut terdapat satu malam setara dengan seribu bulan dalam beribadah kepada Allah swt., yaitu Laila al-Qadar. Semua umat islam berharap bertemu dengan malam tersebut dalam rangkaian malam Ramadhan dengan memperbanyak peribadatan sunah. Banyak riwayat yang mengatakan Laila al-Qadar akan turun pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. 

Dengan apa kita menyambutnya ?
Bila malam tersebut adalah malam istimewa, maka kita pun harus menyiapkan jamuan-jamuan peribadatan yang istimewa pula sebagai ritual penyambutannya. Seperti halnya Nabi saw., para sahabat, tabiin, kyai, dan orang-orang khusus memperbanyak amalan ibadah pada sepuluh malam terakhir. 

Apakah malam istimewa itu akan menemui orang-orang istimewa ?
Bila Laila al Qadar adalah malam sebagai pergantian siang, maka setiap muslim yang beribadah pada malam hari pada rangkaian malam bulan Ramadhan pasti akan mendapatkan malam tersebut. Namun bila malam tersebut adalah malam istimewa yang akan menemui orang-orang istimewa, maka tidak semua dari kita (muslim) akan menemuinya. Mereka totalitas berpuasa di siang hari, tidak hanya menahan makan dan minum saja melainkan totalitas menahan (membuang) apa yang menjadi keinginan dan pada malam harinya memperbanyak ibadah hingga subuh berkumandang.

Layakkah kita ditemuinya ?
Ibadah kita hanya alakadarnya, hanya terawih dan tadarus alakadarnya. Puasa kita juga alakadarnya, hanya menahan makna dan minum saja. Mungkin kita tidak akan ditemui Laila al Qadar, kita hanya akan ditemui oleh Laila al-(a)kadar, karena ibadah kita hanya alakadarnya tidak bersungguh-sungguh untuk layak bertemu Laila al-Qadar.

Apakah kita akan berjumpa dengan Laila al-Qadar atau Laila al-(a)kadar ?
Selamat menyambut Laila, mana yang lebih pantas menjumpai kita sesuai dengan persembahan ritual penyambutan kita padanya.

Kamis, 16 Februari 2017

0, 1, 2, 3, ....9, kembali angka 0

Angka-angka itu seakan merupakan tangga kehidupan yang harus dilakukan kita. Kita dilahirkan tanpa memiliki apapun, agama menyebutkan dalam keadaan fitrah, teori mengatakan manusia dilahirkan dalam keadaan kosong seperti kertas putih yang harus dicorat-coret sehingga kehidupan mencapai puncak kesempurnaan.

Pertama yang harus diisikan dalam diri kita dan anak-anak kita adalah angka 1, tauhid atau keesaan Allah.  Luqman al Hakim berpesan pada anaknya; "Hai anakku, Janganlah kamu menyekutukan Allah, karena sesungguhnya menyekutukan-Nya adalah dosa (kesesatan) yang sangat-sangat besar". Dan "Allah tidak akan mengampuni bila kita menyekutukan-Nya dan mengampuni dosa selainya kepada orang-orang yang dikehendaki". 

Tauhid (agama) menjadi landasan utama dalam mencapai angka sembilan (9) atau kesempurnaan. Kesempurnaan dapat kita maknai dengan baik di dunia dan akhirat (hasanah fi al dunya wa fil akhirah), juga dapat kita maknai sebagai pencapaian derajat yang tinggi di sisi Allah, yaitu taqwa. Kesempurnaan bukan menafikan dunia, bukan tidak boleh sukses dalam pekerjaan, bukan tidak boleh kaya raya, melainkan semua itu hanyalah hasil sementara dari proses kebaikan yang digunakan sebagai alat untuk taqarruban ila Allah (dalam rangka mencapai takwa).

Setelah mencapai puncak, maka kita pun harus kembali pada Allah 0 (nol), menjadi nir dan tidak memiliki apapun. Ibadah kita, amalan baik kita, shalat, puasa dan sedekah kita, haji kita, dan seluruh kebaikan kita menjadi tak berarti di-nol-kan dihadapan Allah swt. Kita pun dikembalikan kepada Allah hanya berbekal kain kaffan, meninggalkan seluruh kesuksesan yang telah kita upayakan di dunia. Selamat menapaki, jalan kehidupan seperti hitungan angka-angka matematika kehidupan.


Rabu, 15 Februari 2017

Agama Tanpa Nyawa, Seperti Suara Melewati TOA

Anda mengupas ilmu dan ketinggian derajat karenanya, namun anda biarkan pendidikan di sekitar anda tak berkualitas untuk meningkatkan derajat anak-anak didiknya.

Anda mengupas thaharoh, sementara anda membutakan diri setiap hari melewati lingkungan yang kumuh. Membiarkan orang-orang membuang sampah sembarangan.

Anda mengupas shalat dan manfaatnya, bahkan seringkali menjadi imam. Namun anda tak bisa merapatkan barisan umat di luar shalat, mereka dihujat dianggap tidak taat padahal sang imam khianat.

Anda mengupas kewajiban zakat dan anjuran infak serta sedekah, anda sendiri berharap upah saat ceramah. Mengapa anda tidak membuatkan wadah ?

Anda membahas puasa dan faedahnya, namun anda tak rela mengencangkan ikat pinggang dan mengulurkan tangan memberi makan yang membutuhkan.

Anda membicarakan riba dan ancamanya, namun membiarkan tetangga dan jamaah mempraktekannya tanpa mencegahnya dengan pinjaman lunak atau sedekah untuk mereka.

Ceramah menguap, agama tanpa nyawa, dan anda tanpa rupa. Tak ubahnya suara melewati Toa, begitu pula islam hanya lewat dari mulut anda, terdengar ada suara dan hilang menguap mengudara.

Sabtu, 11 Februari 2017

Blumbang (Tempat Sampah) Kearifan

Dulu, saat kecil bapak sering menggali tanah dengan ukuran 1 meter kubik, sebagai tempat sampah alami. Sebelum banyak sampah-sampah tak terurai dari bahan plastik, kaca, dan karet, sampah-sampah organik membantu proses penggemburan dan peninggian tanah. Dengan adanya mikro organisme atau pengurai, sampah diubah menjadi kompos dan tanah pun semakin subur. 

Blumbang harus siap menerima semua sampah, sampah terurai membuat tanah gembur dan subur. Yang tidak dapat diurai terkubur dalam tanah tak tampak lagi, meskipun limbah tersebut mengganggu kesuburan tanah. Bisakah kita menjadi "Blumbang" untuk menampung dan mengubah sampah-sampah cacian, makian, hinaan, keluhan, kemarahan orang, cerita bahagia, sapaan, pujian, dan lain sebagainya, dengan menyiapkan pengurai yang bisa menyuburkan dan meninggikan derajat kita ? hingga orang lain menuai manisnya kebaikan kita.

Selasa, 27 Desember 2016

Satrio Wirang

Tanpa tanding di medan perang;
Tak bisa kau cerita pertempuran;
Tak bisa berkata menang, kecuali pecundang;


Perang tak hanya kata-kata propaganda;
Atau provokasi belaka;
Tanpa kau di depan sebagai pandega;

Kamis, 22 Desember 2016

A Pathetic Farewell ( Kepergian Yang Dinanti )

Saat kita lahir, orang-orang disekitar kita tersenyum bahagia padahal kita bayi menangis meraung-raung dilahirkan di dunia. Namun apakah suatu saat meninggalkan dunia ini mereka akan sedih atau bahagia dengan ketiadaan kita. Para kekasih sangat disedihkan oleh pecintanya, hingga langit dan bumi pun ikut menangis sedih. Matahari takkan menampakkan sinarnya, langit kelam, angin tak menghembuskan diri karena kesedihan itu. 

Kamis, 15 Desember 2016

Allah Heran

Allah pun heran kepada 9 (sembilan) orang, sebagai berikut:
  1. orang yang percaya terhadap pastinya maut tetapi mereka masih sombong dan membanggakan diri;
  2.  orang yang mengetahui hari perhitungan, tetapi mereka masih sibuk menumpuk-nimpuk harta;
  3. orang yang paham bahwa dia pasti akan masuk lobang kubiran, tetapi mereka sanggup tertawa terbahak-bahak;
  4. orang yang yakin terhadap hari akhirat tetapi mereka masih berpanjang-panjang dalam  kesenangan dan lalai
  5.  orang yang mengerti bahwa dunia ini fana tetapi ia masih terus saja menambatkan hati kepadanya
  6.  orang yang pandai bicara tetapi ia bodoh di dalam menyelami pengertian
  7. orang yang hari-harinya habis (sibuk) membicarakan aib orang lain tetapi ia lupa melihat cacatnya (aibnya) sendiri
  8.  orang yang sadar bahwa Aku memperhatikan tingkah lakunya (kapan dan dimana pun saja) tetapi tetap saja ia durhaka;
  9. orang-orang yang tahu bahwa ia akan mati sendirian danmasuk kuburan sendirian tetapi masih saja menggantungkan kebahagiaan kepada senda gurau dan main-main dengan banyak orang.

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...