Jumat, 30 Mei 2025

Petugas Tersesat Abaikan Adzan

Salah satu Bus Rombongan dari Madinah   
Menuju Makkah

Setelah menempuh perjalanan dari Madinah, sampai di Makkah istirahat untuk persiapan menunaikan umrah wajib dan thawaf qudum di malam hari. Jamaah menunaikannya sesuai dengan rombongan masing-masing, kami hanya menyarankan habis isya’ suasana lebih adem. Kami ikut rombongan yang akan ke masjidil haram di jam 11 malam, agar bisa langsung ikut jamaah subuh.Setelah menjalankan rangkaian peribadatan, pas adzan pertama sebelum subuh. Karena lumayan lelah, Kami berempat, 3 petugas dan 1 jamaah memilih untuk kembali ke maktab menunaikan shalat subuh di maktab, sembari istirahat. Kami berjalan menuju terminal Syib Amir, dan naik bis sesuai dengan nomor yang rutenya ke arah maktab.

Sambil ngobrol dan bercengkrama, tiba-tiba bis yang seharusnya belok ke kiri melewati depan maktab kami, belok ke kanan. Kami kaget dan langsung, memberikan kode untuk turun bis. Kita diturunkan kurang lebih 1,5Km harus jalan ke maktab kami, sambil tertawa berempat.

Petugas A  : “Syukurin, dah dipanggil adzan malah kabur….hahaha”

Petugas B   : “langsung kena tegooor tuh….. haha”

Jamaah       : “kitanya saja yang kelewatan,….dah adzan malah kabur,…wkwk”

Petugas C   : ”kok bisa yaa….”

Kami semua sadar dan menertawakan diri sendiri sebagai bentuk kedunguan kita yang tidak langsung ikut jamaah shalat subuh di masjidil haram. Mungkin tidak kita ungkapkan dengan entheng mempunyai perhitungan sendiri untuk shalat di maktab. Kami sampai di kamar tetap tertawa menertawakan diri sendiri, “mosok..! petugas kok tersesat…..Hahahha”

Setelah Mina Kembali Ke Setelan Awal

Mas Yudi terlelap di balik pintu bis
perjalanan Mina ke Maktab

Selama berhaji, kita dilatih untuk menjaga diri dari perbuatan rafats, fusuq dan jidal, faman faradha fihinna al-hajja falaa rafatsa wala fusuqa wala jidaala fi al-hajj. Ketiganya merusak ibadah haji. Rafats meruapakan perkataan atau perbuatan yang mengarah pada nafsu birahi, cabul dan hubungan seksual serta pornografi. Fusuq merupakan perbuatan maksiat (fasik) seperti mencaci-maki, takabbur atau sombong, hasud, zalim, fasad (merusak) atau perbuatan dapat menodai akidah dan keimanannya kepada Allah swt. Jidal, merupakan perbuatan berbantah-bantahan (poro-padu), memicu emosi orang lain, dan merasa diri paling benar. Bila sukses selama empat puluh hari menjaga perbuatan tersebut selama berhaji, Insyaallah akan mendapatkan kemabruran.

Jamaah saat awal sampai di tanah suci, mereka masih santun dengan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan atau ucapan yang masuk dalam tiga larangan tersebut. Mereka masih menikmati karunia sebagai dhyufurrahman, untuk santun di rumah tuan ruman (haramain). Mereka juga tidak mau hajinya batal gegara tiga perbuatan tersebut. Gelombang I yang lebih dulu ke Madinah mempersiapkan diri untuk ambil miqat menuju Makkah, semua masih baik-baik saja hingga wukuf di Arafah.

Kondisi yang akan memicu emosi saat bis-bisa mengangkut jamaah dari hotel ke Arafah, alhamdulillah saat itu jamaah rapi antri sesuai yang kita sepakati. Mas Dody dan Mas Azam bilang; “jamaah Kloter Bapak yang paling rapi antri, dibandingkan kloter lain” di sektor 4 Makkah. Orang akan berebut naik ke bis agar cepat sampai di Arafah atau takut ketinggalan.

Hampir ribut, saat rombongan terakhir mau naik bus. Tiba-tiba kondektur mengatakan, pengangkutan jamaah akan dilakukan kembali setelah selesai shalat Jumat (jam 1 siang waktu Makkah). Kita negosiasi tidak berhasil, jamaah kita dorong kembali ke aula hotel untuk persiapan shalat Jumat, sudah pada ngedumel dan saya pura-pura budek saja sambil melayani. Lima menit kemudian bus kembali lagi, kita diminta segera naik, ributlah kembali.

Jamaah     : “bikin capek saja, sudah naik lift disuruh turun lagi”

Jamaah 2  : “sudah, ikuti saja. Nanti malah ketinggalan, tidak ngelah-ngeluh”. Mereka saling mengingatkan sesama jamaah.

Crowdit di Arafah, Musdalifah dan Mina, serta di tengah perjalanan, katerlambatan akomodasi, orang ngga jelas sendiri, jamaah hilang dan faktor lainnya akan memicu emosi jamaah. Para Petugas harus mengendalikan samudera kesabarannya dalam melayani jamaah dengan berusaha maksimal dengan penuh kepasrahan. Mereka masih bisa saling mengingatkan, sebab proses haji itu yaa di Armuzna (wukuf di Arafah, Mabid di Muzdalifah dan Mina).

Selesai Mabid di Mina ada peristiwa menarik, jamaah diangkut enam bis, saya, Ustadz Heri dan Mas Yudhi menjadi tim sapu ranjau. Dalam bis perjalanan ke hotel petugas kesehatan telpon:

Bu Dar     : “Ketua, bus kita nyasar dan masuk satu jalur lorong lawan arah”

                   “Hampir ribut dengan pemilik mobil yang diserempet spionnya”.

Saya         : “Ada siapa saja di rombongan?”

Bu Dar     : “si A, si B, dan lainnya”

Saya         : “Dinikmati saja dan sampai bertemu di hotel dengan selamat”

Bus terakhir lebih dahulu sampai di maktab, dibandingkan bisa kedua yang nyasar dan sedikit drama perjalanan.

Bersungguh-sungguhlah dalam menjaga tiga larangan rafats, fusuq dan jidal selama perjalanan haji anda. Kita akan diuji melalui pasangan, teman, anak, jamaah dari kloter dan negara lain. Penting melakukan kendali diri tiga laranangan tersebut, semoga mendapatkan kemabruran diri dengan ditandai tebaran kebaikan setelah hajian.

Haji Adalah Panggilan

        Gambar: Pak Nasib & dr. Rian       
Ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima, bagi mereka yang mampu (istitho’ah) baik kesehatan maupun sarana untuk sampai ke haramain. Orang kampung menyikapi enteng; “yen wis diundang, wancine berangkat”. Sedemikian itu keyakinan masyarakat kampung, meski di kampung yang lain menjalankan ibadah haji harus menjual sawah dan kebon. Setelah menjadi Pak Haji, maka derajat sosial menjadi lebih tinggi, minimal kalau kenduren dapat dua berkat…heee.

Mampu (istitho’ah) yang pertama adalah melunasi biaya perjalanan, atau dibiayai oleh orang lain. Orang kaya belum tentu terketuk hatinya untuk mendaftarkan diri untuk berhaji. Ada orang kaya yang sudah dipanggil pelunasan oleh Kementerian Agama, tidak mau melunasi padahal banyak orang yang ingin segera menunaikan ibadah haji. Dia takut dengan cerita-cerita mistis para jamaah saat di haramain. Sementara seorang marbot masjid, tiba-tiba dikabari berangkat haji secara mendadak dibiayai oleh orang lain. Ada orang tak berpunya menabung seperak-dua perak dan akhirnya berangkat haji..

Mampu (istitho’ah) kedua, adalah sehat jasmani dan ruhani ditentukan oleh puskesmas atau rumah sakit. Pun demikian banyak resiko tinggi dan memiliki riwayat sakit bisa diberangkatkan, apakah itu dispensasi pemerintah sebab antrian panjang atau memang Allah yang memanggil untuk menjadi tamunya. Labbaikallahumma hajjan wau mratan, aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk berhaji dan umrah.

Pak Nasib kloter 14 tertunda pemberangkatannya karena sakit, beliau berusia kurang lebih 80-an tahun. Beliau sendirian dan akhirnya berangkat dititipkan di kloter 19.

Dr. Rian      : “Pak Ketua, belaiu seharus tidak diberangkatkan, Pak. Saturasi oksigennya                                    rendah, tak mungkin layak terbang sebab beresiko tinggi”

Ketua            : “Kita hanya dititipi, dok. Bila Allah memanggilnya, Insyaallah berangkat, dan

                           bila tidak, pasti akan terkendala di pemeriksaan”

Akhirnya Pak Nasib jadi berangkat dengan kami ke Madinah terlebih dahulu dan saat di Makkah dikembalikan ke kloter semula.

Dalam cerita yang lain, di tahun yang sama. Ada seorang perempuan batal berangkat dua kali pemberangkatan haji (2 tahun), dan di tahun 2019 kondisinya masih sama, tidak memungkinkan secara medis untuk berangkat haji. Kemudian ada seorang alim memberikan saran kepada suaminya agar memohon kepada Allah, karena Dia yang mengundang sevagai tamunya (dhuyufurrahman). Saran tersebut dilakukan, dan rekomendasi medis perempuan tersebut layak terbang untuk menunaikan ibadah haji. Sedari kedatangan hingga pelaksanaan wukuf, perempuan itu sehat wal afiyat. Selesai pelaksanaan wukuf perempuan tersebut masuk rumah sakit seperti sedia kala saat di Indonesia, tak berselang lama meninggal dunia.

Dalam cerita lainnya penderita TB tulang, mendapatkan rekomendasi dari salah satu rumah sakit di Jakarta Timur karena saat diperiksa oleh tim medis dinyatakan sehat dan bisa berangkat menunaikan haji. Setelah di Makkah terdeteksi TB tulang, yang bersangkutan di karantina hingga kepulangannya. Ibadah hajinya dikawal oleh tim medis, wukuf dalam pengawasan tim medis. Setelah dipulangkan di penerbangan terakhir bersama petugas, sesampai di Indonesia dinyatakan sehat, sembuh dari penyakitnya.

Keyakinan orang kampung tentang haji adalah panggilan itu juga tidak mengada-ada, banya sekali kejadian yang mengarah pembenaran tersebut. Penulis cerita pun tidak menyangka berangkat ke tanah suci, padahal sudah tidak mau urusi diterima atau tidak menjadi pelayan tamu Allah. Ada banyak orang yang mendaftar hingga sembilan kali, namun tak lolos. Rasa ga tega dan ga layak, mengurungkan harapan tersebut. Mereka yang berangkat dan bertugas. Pesan isteri; “Mas, mpean itu dikon mangkat, dienteni ning kono” (wallahu a’lam).

Kamis, 29 Mei 2025

Bertemu Setelah Wafat

Gb. Di Depan Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah 

Dini hari waktu Makkah saat itu mendapatkan pesan wattshap, mengabarkan wafatnya Mbah Moen. Bus shalawat sudah tidak lakukan layanan, transportasi yang bisa digunakan adalah taksi menuju Kantor Urusan Haji Indonesia di Makkah, tempat Mbah Moen disemayamkan. Saat itu saya langsung menghubungi isteri, kemudian disarankan untuk menuju tempat persemayaman Mbah Moen. Isteri mengatakan; “Mpean diminta ke Sarang sampai saat ini belum dilakukan, mumpung berada di Makkah, temui Mbah Moen!”, seraya menyuruh dengan rasa kesel terhadap saya.

Kenapa isteri menyuruh demikian, pernah suatu malam isteri bermimpi didatangi seseorang yang sepuh, menggunakan tongkat dan bersorban hijau.

Isteri           : “Jenengan sinten, Mbah?”

Sesorang    : “Saya Maemoen”

Isteri           : “Jarene taksih gerah?”

Sesorang    : “nggih, yen ra dikongkon rene Sahal nggih mboten mriki”

                      (Sebelum mimpi bertemu Mbah Moen, isteri bermimpi didatangi Mbah Sahal)

Setelah memberikan nasihat tentang merawat keluarga, yang kurang lebih menasehatkan “bila ingin anak-anakmu baik, shaleh-shalehah, perbaiki perilakumu dan suamimu”, Mbah Mon kemudian berpamitan pulang.

Sesorang    : “Wis yaa…saya mau pulang, kapan-kapan dolan ke Sarang”

Isteri           : “Nggih …Insyaallah Mbah”

Setelah saya pulang dari Jakarta, sebagai perantau dengan julukan PJKA (pulang jumat kembali ahad), isteri cerita mimpi tersebut.

Isteri           : “Orang itu siapa sih, Mas?”

Saya           : “Ciri-cirinya seperti apa?”

Isteri kemudian menceritakan ciri-ciri detail yang mengarah pada sosok Mbah Maimoen Zubair. Saya searching foto beliau di google dan tunjukkan ke isteri, dan isteri menjawab “iya, betul”. Saat itu yang saya dengar Mbah Moen sedang gerah (sakit) dan dalam mimpi isteri juga mengatakan demikian (wallahu a’lam).

Mimpi tersebut yang membuat semangat menuju Kantor Layanan Haki di Makkah, dan sesampainya disana, saya menunggu uyel-uyelan di depan pintu yang secara bergantian dibuka-tutup bagi para pelayat yang rata-rata santri beliau. Saya ditemani petugas pembimbing haji kloter 19 dari Jakarta Timur dan salah satu jamaah.

Setelah masuk, langsung menuju Mbah Moen yang tengah banyak orang menshalatkannya. Saya duduk tepat di samping kepala beliau, menunduk sambil menangis ngeracau ngomong ga jelas. Saya tidak menshalatkan beliau karena merasa malu saja, beliau seorang wali saya malu turut menshalatkan. Setelah cukup lama duduk, pundak saya ditepuk teman yang saya pikir sudah meninggalkan saya (berharap begitu) untuk leluasa ikut mengantarkan Mbah Moen.

Saya beranjak menuju pintu belakang, bertemu dengan anggota dewan HBR yang menawari ikut dalam ambulan yang mengantarkan ke Ma’la. Saya menolak, dengan alasan masih harus mengurus jamaah, jangan sampai jamaah saya terlantar Pak Kaji, dan saya pamitan kembali ke hotel. Saya sudah merasa senang ditemui beliau meski tanpa nasihat dari lisan beliau, dan merasa tak pantas berada dalam kerumunan orang-orang baik disana. 

Ada makna dan nasihat yang kami dapat dari peristiwa tersebut, baik yang melalui mimpi maupun pertemuan setelah beliau wafat. Andaikata kami sowan saat beliau masih hidup, akan banyak nasihat dan doa kebaikan untuk kami dan anak-anak kami. Kebanggan kami beliau dikenal sebagai min auliyaillah yang sangat teduh dalam membimbing umat (wallahu a’lam)


Jumat, 21 Maret 2025

Shuwu Aswafakum Dalam Fenomena Bermasyarakat

Tiap akan melaksanakan shalat jamaah termasuk saat terawih, Imam akan menyampaikan “shuwu aswafakum finna taswiyata al-shaff min tamami al-shalah”, luruskan dan rapatkan shaf kalian, sesungguhnya lurusny shaf bagian dari kesempurnaan shalat. Ada fenomena menarik saat meluruskan dan merapatkan shaf, yaitu ada orang-orang yang menempelkan telapak kaki hingga menginjakkan kaki makmum sebelahnya. Bahkan sampai ngangkang untuk memenuhi “kesunahan” tersebut. Ini oleh sebagian dianggap sesuai sunnah, dan sebagian besar masyarakat Indonesia tidak berlebih-lebihan, sehingga sekedar rapat, kaki tak perlu melebar (sesuai kebutuhan saat ruku’ dan sujud).

Hal ini juga sama dalam dunia politik, birokrasi dan sosial masyarakat. Pemimpin akan mengatakan rapatkan barisan, bangun soliditas, dan melangkah kompak meraih tujuan bersama. Orang-orang akan merasa dekat dengan pemimpin baru atau mencari hubungan kedekatan dengan mereka dengan ragam motiv yang mendasarinya untuk merapatkan barisan. Kebanggaan dekat dengan pimpinan atau tokoh masyarakat atau agama, mempertahankan atau mencari jabatan, biar dianggap orang penting, mendapatkan akses kemudahan tertentu dan lain sebagainya.

Merapatkan dan meluruskan barisan dalam shalat itu penting untuk kesempurnaan shalat dan melaksanakan kesunahan, namun tak harus ngangkang dan menginjakkan kaki. Bertindaklah yang sewajarnya, pilihlah merapatkan ke samping dibandingkan harus melebarkan kaki (ngangkang) untuk memberikan makmum di belakang maju memenuhi shaf. Seperti halnya penting kita merapatkan diri pada kesempurnaan tujuan ideal program pemimpin politik, birokrasi, organisasi atau sosial masyarakat dengan tanpa saling menginjak kanan-kiri kita. Hingga melalukan tindakan over persuasif, ngangkang yang dapat menghalangi dan menjadikan tidak nyaman jamaah lainnya. Kesempurnaan shalat dapat diibaratkan sebagai kesempurnaan tujuan ideal dari program-program yang sudah ditentukan suatu negara, insititusi, organisasi dan masyarakat.

Jamaah masjid yang sudah istiqamah tak perlu mufarraqah karena pergantian imam sebagai fenomena biasa dalam jadwal takmir masjid di masyarakat. Imam bisa berganti dalam lima kali waktu shalat; dzuhur, ashar, maghrib, isya’ dan subuh. Bahkan untuk imam shalat Jumat, terawih, dan shalat Iedain bisa berbeda imam shalat rawatib. Begitu pula jumlah jamaah, pengikut, masyarakat pendukung bisa sedikit, dan banyak. Fokus penting dalam shalat berjamaah adalah kesempurnaan shalat (tamam al-shalat) berjamaah. Dan dalam kehidupan bermasyarakat adalah tujuan ideal bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemimpin bisa berganti sesuai dengan periodisasinya. Kepala negara, Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala Desa, Ketua RT dan RW bisa berganti. Tiap pemimpin membawa karakter dan visi-misi yang “lebih baik”, mereka juga ingin dikenang dengan meninggalkan legacy yang baik pula. Apapun karakter dan visi-misi pimpinan, tujuan idealnya adalah masyarakat yang adil dan makmur. Silih berganti pimpinan dan jumlah jamaah itu hal biasa, jangan sampai jamaah yang akan merapatkan diri saling injak membuat pesakitan jamaah yang lainnya.

Dalam hal shalat berjamaah pun, ada wilayah jamaah (makmum) untuk memberikan alarm positif (mengingatkan) apabila imam melakukan kesalahan dengan cara bertasbih bagi jamaah laki-laki atau suara tepukan telapak tangan bagi pengingat perempuan. Nah, upaya mengingatkan pimpinan apabila ada kesalahan atau ketidak-akuratan program, bisa dilakukan dengan cara-cara yang baik tanpa menciderai tujuan dan tidak gaduh tujuan ideal negara, institusi atau masyarakat tidak batal.

Jamaah yang baik mengetahui syarat rukun shalat untuk mencapai kesempurnaan shalat dan tata cara mengingatkan imam bila terjadi kesalahan. Jamaah ini baiknya berada di shaf pertama, bukan awam. Bukan berarti melarang orang awam berada di shaf paling depan. Begitu pula dalam memimpin, harus menempatkan orang-orang yang faham atas syarat rukun idealitas program dan ritme organisasi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila salah menempatkan orang, atau awam memaksakan diri ke depan barisan, bila ada khilaf pimpinan awam tidak bisa mengingatkan dengan baik tentang tujuan ideal program.

Begitulah, dalam mengambil hikmah pelurusan shaf dalam shalat oleh imam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga tak ada protes (mengingatkan) dengan cara caci maki dan merendahkan (tidak tasbih), semua jamaah turut imam meski konsep mufarraqah dibenarkan bila ada hal-hal yang krusial membuat kemamangan dalam berjamaah. Mufarraqah dalam barisan shalat dengan kesempurnaan ilmu tanpa gaduh (AB).

Kamis, 20 Maret 2025

Berburu Lailatul Qadar, Menetapkan Diri di Pasujudan

Para pemburu Lailatul Qadar sangat bersemangat untuk memperoleh keistimewaan malam tersebut. Mereka sampai melakukan I’tikaf di masjid, mengikuti sunah nabi saw dengan meningkatkan ibadah, dzikir, bacaan shalawat, tadarus al-Quran, bertasbih, dan menghindari perbuatan tercela. Di beberapa masjid di wilayah perkotaan ada yang menggelar kegiatan I’tikaf bersama. Ada yang menjalankan I’tikaf bersama keluarga mereka, untuk mengkhususkan diri pada peningkatan peribadatan di sepuluh malamm terakhir di bulan Ramadhan. Apakah di luar Ramadhan boleh dilakukan? Boleh. Bahkan dianjurkan saat kita shalat, mengunjungi pengajian di masjid untuk berniat I’tikaf.

I’tikaf dapat diartikan menetap atau berdiam di masjid dengan meningkatkan peribadatan dan menghindari perbuatan maksiat. Orang yang I’tikaf (mu’tafi) harus berniat diri (nawaitu I’tikafa fi hadza al-masjid). Mereka adalah muslim dalam keadaan suci (tidak berhadats) dan tidak dalam keadaan gendheng (berakal). Kemudian penyadaran apakah yang harus kita peroleh setelah melakukan I’tikaf di masjid?

Peningkatan peribadatan mereka selama I’tikaf harus mencapai penyadaran dalam ketundukan (bersujud). Masjid adalah tempat bersujud. Sujud menundukkan diri kepada Allah swt dimana isi otak di kepala diletakkan di bawah pantat tempat keluarnya kotoran. Sujud tidak bernegosiasi dengan isi pikiran, totalitas menyerahkan diri kepada Allah swt. Inna shalaty wanusuky wa mahyaya wa mamaty illahi rabbi al-alamin, sesungguhnya shalatku, peribadatanku, hidup dan matiku untuk (milik) Allah swt. Sujud merupakan posisi yang paling dekat atau upaya mendekat dengan Allah swt (wasjud waqtarib).

Kontemplasi yang dilakukan selama menjalankan I’tikaf dan menghindari sementara hiruk-pikuk aktivitas duniawiyah harus menghasilkan penyadaran diri tersebut. Penyadaran harus terimplementasi dalam ketundukan dan ketawadhuan yang nampak (min atsari al-sujud) pasca i’tikaf. Mereka penyayang sesama umat islam (ruhama’u bainahum) dan tegas atas perilaku kekufuran (asyidda’u ala al-kuffar), sehingga menjadi orang-orang yang dibersamai nabi saw dalam kehidupannya.

I'tikaf bukan sebagai rekreasi spiritual, selesai kemudian menceritakan keindahan dan kenyamanan selama menjalankannya. Bukan pula mengikuti ramai riuh penawaran program i'tikaf di masjid-masjid perkotaan dengan bimbingan ustadz tertentu. Bukan pula selebrasi yang diposting di akun media sosial untuk sebuah pengakuan dan komentar indah. Pun demikian, ketertarikan beri'tikaf bisa datang dari motif apapun yang bisa membawa penyadaran. 

Berniat diri untuk I’tikaf sejatinya meniatkan diri untuk menjadi orang-orang yang lebih dekat dengan Allah swt., bersiap menyayangi seluruh makhluk, tunduk tawadhu’ dalam kehidupan, untuk meraih ridha Allah swt dan sempurna melengkapi tujuan pencapaian derajat muttaqin (la’allakum tattaquun). Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menetapkan diri dalam pasujudan untuk mencapai ridha Allah swt. 


Rabu, 19 Maret 2025

Lailatul Qadar Bukan Hanya Untuk Pelaku Qiyamul Lail

Ramadhan merupakan bulan istimewa dibandingkan sebelas bulan lainnya. Di dalam Ramadhan ada malam yang diistimewakan dan disebutkan dalam QS. Al-Qadr, yaitu lailatul qadar. Lailatul Qadar adalah malam saat diturunkan al-Quran, kemuliaannya melebihi 1000 bulan. Dimana malaikat termasuk malaikat jibril (Ruuh) diturunkan, mengurusi segala urusan umat nabi saw.

Tidak dijelaskan secara pasti kapan tepatnya para malaikat diijinkan Allah turun ke bumi itu. Sementara peringatan turunnya al-Quran (Nuzulul Quran) sering dilaksanakan mulai tanggal 17 Ramadhan, termasuk rutinitas peringatan resmi negara. Para ulama menginformasikan di sepuluh malam terakhir, bahkan ditegaskan pada malam-malam ganjil hingga merumuskan malam lailatul qadar dari hari awal Ramadhan.

Ketidakpastian waktu menjadikan istimewa malam tersebut. Intensitas ibadah ditingkatkan bagi pemburunya. Upama setelah mendapatkan apa yang diburu, kemudian akan menjadi apa dan bagaimana orang yang mendapatkannya serta bagaimana tahu kalau malam itu merupakan malam lailatul qadar? Dengan melewati kemuliaan malam yang melebih 83 tahun kebaikan, apakah akan mengubah karakter orang tersebut pasca Ramadhan.

Para pemburu senang membincangkan malam yang penuh misteri tersebut. Mereka akan melewati malam tersebut dengan memperbanyak dzikir, shalat sunnah, mujahadah malam, dan tadarus bahkan ada yang membuat program I’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan. Alangkah nikmatnya mereka yang berkesempatan melakukan ikhtiyar mendapatkan malam lailatul qadar dengan memperbanyak ibadah dengan kecukupan rejeki. Mereka yang menjadi sopir, pedagang malam hari, securtiy, pemulung pada malam hari, penarik ojek, penarik becak dan profesi lainnya yang harus menghabiskan malamnya untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka bisa mendapatkan malam istimewa tersebut. Mereka kecil kemungkinan memaksimalkan ibadah seperti orang-orang yang dapat meluangkan waktu untuk I’tikaf dan memperbanyak dzikir di zawiyah atau masjid.

Nah, cara menggapai malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan malam tersbeut dengan memperbanyak dzikir, shalat sunah, tadarus dan kebaikan lainnya. Mereka yang harus mencari nafkah untuk keluarganya juga melakukan kebaikan, kebaikan tersebut juga sama seperti kebaikan orang yang I’tikaf di masjid. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya merupakan sebuah kebaikan yang wajib dilakukan.

Orang-orang yang tidak memiliki kesempatan duduk I’tikaf di masjid, bisa berada di perjalanan sambil membaca dzikir atau shalawat sirri (khoufi). Menyempatkan di sela-sela istirahat untuk shalat sunnah, baca al-Quran di HP, berbuat kebaikan dan sedekah di malam hari, menolong orang atau pun perbuatan mubah yang diniatkan untuk mencegah kemaksiatan. Tindakan-tindakan mereka juga dikategorikan kebaikan, apalagi bertepatan dengan malam lailatul qadar akan mendapatkan ganjaran dengan porsi yang sama yaitu melebihi 1000 bulan.

Penting, mengetahui rumus meninggalkan larangan (kemaksiatan) dan menjalankan wajib serta melakukan perintah sunnah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mengenal dan mengidentifikasi ketaatan, kemaksiatan, tindakan mubah, makruhah, dan sunnah agar kita tidak terjebak pada tindakan yang di larang atau yang harus ditinggalkan. Kebaikan apapun yang dilakukan pada malam lailatul qadar akan diberikan nilai melebihi 1000 bulan kebaikan. Termmasuk mereka yang di rumah menjaga isteri dan anak-anak mereka, menemani keluarganya, menyiapkan sahur bagi keluarga, suamiyang memeberikan nafkah batin isterinya dan tindakan baik lainnya. 

Siapapun kita dan dimana pun kita berada yang memburu lailatul qadar untuk tetap waspada pada malam selama ramadhan untuk menghidupkan malam-malam terakhir dengan kebaikan dalam bentuk apapun termasuk merenung (muhasabatun nafs) di pojokan pasar atau stasiun kereta dalam rangka meningkatkan ketakwaan diri. Semoga kita dapat meraih lailatul qadar dengan kadar kebaikan kita masing-masing dan saling mengasihi melalui doa-doa kita terhadap sesama.
 

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...