Sabtu, 28 Mei 2022

KODRAH LURAH: Penanaman Tauhid Melalui Pemilihan Kepala Desa

Masing-masing wilayah memiliki kearifan sendiri dengan penyebutan pemimpin desanya (kepala desa).  Sebutan geuchik (Aceh), wali nagari (Sumatera Barat), pambakal (Kalimantan Selatan), hukum tua (Sulawesi Utara), perbekel (Bali), kuwu (Pemalang, Brebes, Tegal, Cirebon dan Indramayu), pangulu (Simalungun, Sumatera Utara), peratin (Pesisir Barat, Lampung), dan Kapala Lembang (Tana Toraja & Toraja Utara, Sulawesi Selatan) (sumber: wikipedia). Dan di sebagian wilayah Jawa menyebutnya dengan Ki Lurah, namun setelah perubahan istilah desa dan kelurahan menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1979, lambat laun panggilan Ki Lurah menjadi Pak Kades (Kepala Desa).

Setelah pemberlakukan Undang-undang tersebut, Kepala Desa dipilih oleh masyarakat desa secara demokratis, sedangkan Lurah merupakan jabatan karir yang ditunjuk oleh Bupati atau Walikota untuk memimpin wilayah tingkat kelurahan. Proses pemilihan Kepala Desa dulu dikenal sebagai “KODRAH LURAH”.

Bila kita telusuri, kata KODRAH merupakan serapan dari Bahasa Arab dari akar kata qa-da-ra yang artinya kuasa. Kodrah juga merupakan salah satu sifat dua puluh Allah qudrat yang berarti Maha Kuasa. Kodrah Lurah dapat dimaknai sebagai menjemput pemimpin desa sesuai dengan kuasa Allah. Orang yang menerima pulung disinyalir merupakan orang pilihan Allah. Masyarakat menyebutnya sebagai pulung keprabon atau wahyu keprabon dan ada yang menyebut ndaru.

Pulung berarti mendapatkan anugerah dan keprabon dapat berarti kepemimpinan. Pulung Keprabon berarti anugerah untuk memimpin, sesuai keinginan para leluhur. Pulung ditandai dengan jatuhnya "bintang" atau cahaya dari langit kepada orang terpilih yang akan menduduki jabatan lurah (Kepala Desa). Orang-orang waskito kemudian menggunakan petunjuk itu untuk memberitahukan kepada masyarakat untuk memilih calon yang ketiban pulung.

Proses pemilihan kepala desa yang dilakukan oleh masyarakat adalah ikhtiyar secara demokratis untuk menunjukkan kelayakan kepada masyarakat. Kelayakan tersebut dapat dilihat dari syarat administratif, penyampaian visi-misi-program kerja dan perilaku keseharian para calon. Di sisi lain, para kandidat harus memperjuangkan kelayakan diri di mata leluhur dan Sang Penguasa dengan pertanda Pulung tersebut sebagai anugerah atau kepercayaan.

Pengistilahan Kodrah Lurah, memberikan pesan bahwa kepemimpinan Kepala Desa adalah anugerah dari Allah Swt sebagai perwujudan dari sifat Qadrat (berkuasa) atas segalanya; innnallah ‘ala kulli syai’in qadir. Serapan ajaran Islam banyak kita temukan dalam peristilahan di Jawa, seperti sekaten (syahadatain), merah delima (dal-lima: surat al-ikhlas) dan lainnya. Dan sudah seharusnya setelah Kodrah Lurah (pemilihan Kepala Desa), situasi dan kondisi desa tetap adem ayem sebab masyarakat harus menerima kuasa Allah (Qadrat-Iradat) atas seseorang yang terpilih menjadi kepala desa atau lurah.

Semoga masyarakat desa memahami makna "KODRAH LURAH" yang merupakan penauhidan ajaran agama melalui penyelenggaraan pemilihan kepala desa. Sehingga masyarakat tetap harus mencari petunjuk, siapa sosok yang tepat menjadi pemimpin, dan menerimanya sebagai suatu pemberian dari Allah swt atas kuasa-Nya.

Perubahan istilah “Kodrah Lurah” menjadi Pilkades (Pemilhan Kepala Desa) menghilangkan nilai-nilai filosofis yang dibangun oleh para leluhur. Apalagi praktik Pilkades mengadopsi Pilkada dan Pemilu legislatif yang cenderung menggunakan materi untuk menghimpun dukungan dari masyarakat. Pemilihan pemimpin dengan modal yang besar cenderung memupuk perilaku koruptif untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan untuk meraih kursi kepemimpinan.

Senin, 06 Desember 2021

BENDERA KUNING BERNOMOR

Kurang lebih sebulan lalu isteri bercerita tentang mimpinya. Dia diberi bendera antrian berwarna kuning dengan nomor 48. Setelah mengantri panjang, dia tidak dipanggil-panggil oleh petugas. Akhirnya, isteri mendekati petugas dan menanyakan antriannya:

Isteri          : “Kok saya belum dipanggil?”

Petugas    : “Nomor berapa?”

Isteri          : “nomor 48”

Petugas    : ‘Saya beri nomor antrian lagi ya”

Kemudian nomor tersebut diberikan ke isteri dengan nomor 52, dan isteri membawa bendera kuning dengan nomor 52 tersebut pulang ke rumah.

“Apa artinya, Mas?”, tanya isteri setelah menceritakan kisah mimpinya tersebut.

Ada yang mengatakan bahwa mimpi adalah buah tidur yang dipengaruhi oleh kondisi psikis seseorang saat terjaganya. Misalnya, orang takut dikejar-kejar anjing dan kemudian terbawa ke dalam mimpinya itu kisahnya berlanjut. Ada pula, saat menjelang tidur dia makan dan belum minum minum, di mimpinya dia kehausan membutuhkan air minum.

Mimpi juga bisa merupakan informasi yang diberikan oleh Allah saat tertidurnya seseorang. Nabi Yusuf a.s., kecil pernah menceritakan dirinya mimpi menelan bulan. Ayahandanya mengetahuinya, kelak Yusuf akan menjadi orang pilihan yang akan menjadi seorang nabi.

Terkait dengan mimpi di atas, hanya bisa mengira-kira dengan melihat realita yang ada di sekitar kita. Bendera kuning biasa digunakan untuk memberikan tanda bahwa di lingkungan tersebut ada orang yang meninggal. Sehingga saat orang-orang melihat bendera tersebut, mengetahui bahwa di lingkungan tersebut ada yang meninggal dunia. Dan mereka bisa menelusuri bendera tersebut hingga ke rumah duka. Selain bendera kuning, bendera putih juga digunakan sebagai lambang duka di beberapa daerah dan negara.

Angka 48 dan 52 bisa saja merupakan simbol dari usia manusia, yaitu 48 tahun dan 52 tahun. Bisa jadi, jatah usia dari 48 tahun diundur menjadi usia 52 tahun, atau satu di usia 48 tahun dan yang satu di usia 52 tahun. Bila mimpi tersebut hanya sebagai bunga tidur, maka hanya cerita kita setelah bangun tidur.

Bila mimpi it
u merupakan kabar kebenaran yang diberikan melalui mimpi, maka merupakan peringatan dan perintah agar memperbaiki diri sebelum ada tamu yang menjemput pulang. Kita harus mempersiapkan diri sehingga layak bertemu dzat yang mengutus kita lahir di dunia. Menjadi diri kita sebagai jiwa yang muthmainnah dan kembali dengan penuh keridhaan-Nya. Sesuai dengan QS. Al-Fajr 27-28. Semoga Allah menjadikan usia kita dalam ketaatan kepada-Nya dan mengikuti sunah-sunah Nabiyyina Muhammadin saw.

Jumat, 20 Agustus 2021

Suro: Bulan Yang Disakralkan

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa merupakan bulan Muharram dalam penanggalan Hijriyah dalam penanggalan Islam. Keduanya menggunakan sonar eclips dalam menentukan awal bulan. Dalam penanggalan Islam dikenal dengan penghitungan (hisab) dan pemantauan hilal secara langsung (ru’yatulhilal). Untuk penentuan awal bulan Ramadhan dan Iedulfitri, ru’yatulhilal dilakukan secara detail di beberapa titik pengamatan. Hal ini dilakukan karena terkait peribadatan puasa wajib.

Dalam budaya masyarakat Jawa, pada bulan ini dilarang untuk menyelenggarakan hajatan atau pesata pernikahan dan lainnya. Hampir semua petungan neptu menghindari Bulan Suro untuk menyelenggarakan pesta.

Hal tersebut dapat dianggap sesat atau takhayul oleh masyarakat “terpelajar perkotaan”. Semua hari dianggap baik, dan mempercayai sakralitas bulan Suro merupakan perbuatan syirik.

Pernah saya tanyakan kepada seseorang yang biasa dimintai tolong masyarakat kampung untuk menghitungkan pesta pernikahan atau sunatan tidak merekomendasikan di bulan Suro. Beliau menjawab, bahwa bulon Suro adalah bulannya para Nabi, tidak elok bila kita menggunakan bulan tersebut untuk pesta kita. Masih ada sebelas bulan lainnya, yang dapat dimanfaatkan untuk pesta hajatan.

Berikut adalah kejadian-kejadian istimewa dan bersejarah bertepatan pada bulan Muharam, antara lain:

  1. Taubat Nabi Adam as. diterima oleh Allah SWT;
  2. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh as. di bukit Zuhdi dengan selamat juga terjadi di Muharam, yakni usai dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan sebagian besar manusia di Bumi;
  3.  Selamatnya Nabi Ibrahim as. dari siksa Namrud terjadi di Muharam;
  4. Siksa itu berupa nyala api, yang ternyata tidak membakar Nabi Ibrahim;
  5. Pada bulan Muharam juga, Nabi Yusuf as. dibebaskan dari penjara kerajaan Mesir;
  6. Sebelumnya, Nabi Yusuf as. dipenjara karena fitnah yang menimpanya;
  7. Peristiwa Nabi Yunus as. selamat dan keluar dari perut ikan besar yang menelannya pun terjadi di bulan Muharam;
  8. Nabi Ayyub as. disembuhkan Allah dari penyakitnya juga pada bulan Muharam;
  9. Pada bulan Muharam, Nabi Musa as. dan umatnya, kaum Bani Israil, selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah.
  10. Nabi Musa as. dan ratusan ribu umatnya selamat memasuki bukit Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Pada bulan ini juga terjadi sebuah peristiwa dahsyat yang sangat menyedihkan Rasulullah Saw., yang beliau rasakan sejak cucunya Sayyidina Hasan dan Husein masih kecil. Rasul selalu menciumi leher Husein dan bibir Hasan. Kesedihan yang dirasakan rasulullah, hingga sekian tahun rasulullah telah wafat.

Kesedihan Rasulullah diceritakan oleh Imam Suyuthi yang menutip dari Imam Thirmidzi yang menceritakan Salma yang bertemu dengan Ummu Salamah (isteri Nabi)). Salma melihat Ummu Salamah menangis. Dan bertanyalah Salma: “Kenapa engkau menangis?” Ummu Salamah: “Saya mimpi bertemu rasulullah dengan kepala dan jenggot lusuh berdebu. Saya tanya; kenapa engkau ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab:” Saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein”

Betapa pedihnya hati Rasulullah, dikhianati oleh umatnya yang membunuh cucunya (Hasan & Husein) yang secara langsung disebutkan oleh Rasulullah sebagai pemuka dari para pemuda ahli surga. Padahal saat menjelang wafatnya beliau selalu memikirkan nasib umatnya dengan menyebut-sebut “ummaty…ummaty …ummaty”. Bahkan beliau meminta jaminan kepada Allah atas nasib umatnya kelak saat yaumil hisab dapat diringankan oleh Allah Swt.

Tak hanya rasulullah Saw yang nampak sedih dalam mimpi Ummu Salamah, matahari pun seakan sedih menyaksikan pembunuhan Sayyidina Husein. Pada hari terbunuhnya Husein, Imam Suyuthi mengatakan dunia seakan berhenti selama tujuh hari. Mentari merapat laksana kain yang menguning dan terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit terlihat memerah selama 6 bulan.

Kita tidak bisa membantu rasulullah Saw, menghapus kesedihan beliau. Langit pun turut memerah selama enam bulan bak sembab menangis dalam kesedihan. Masih ada 11 bulan yang dapat digunakan untuk pesta hajatan. Biarkan sebulan itu kita gunakan untuk hurmat kepada rasulullah Saw., atas kematian cucu beliau dibunuh dengan sadis.  

Senin, 16 Agustus 2021

Labbaikallahumma Ya Allah

Talbiyah yang biasa harus dilafalkan para jamaah haji saat mendatangi ka’bah. “aku datangi panggilanmu Ya Allah, aku datang. Aku datangi panggilanmu dengan tidak menyetukukanmu, aku datang”. Hati bergetar dan tubuh mbergidig tatkala mengucapkan kalimat tersebut. Itu adalah isyarat bahwa kita mendatangi panggilan Allah dengan membuang segala persekutuan terhadap-Nya. Dan segala persekutuan tersebut tidak akan pernah diterima oleh Allah, “sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa dosa syirik, dan mengampuni dosa selain itu”.

Haji sering disebut-sebut sebagai ibadah karena panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk menunaian rukun Islam kelima. Bila kita renungkan ada lima panggilan Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu panggilan cinta, panggilan untuk menghibru, panggilan pelaporan, penggilan sebab teguran, panggilan untuk penyempurnaan tugas, dan panggilan pulang.

Talbiyah yang biasa harus dilafalkan para jamaah haji saat mendatangi ka’bah. “aku datangi panggilanmu Ya Allah, aku datang. Aku datangi panggilanmu dengan tidak menyetukukanmu, aku datang”. Hati bergetar dan tubuh mbergidig tatkala mengucapkan kalimat tersebut. Itu adalah isyarat bahwa kita mendatangi panggilan Allah dengan membuang segala persekutuan terhadap-Nya. Dan segala persekutuan tersebut tidak akan pernah diterima oleh Allah, “sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa dosa syirik, dan mengampuni dosa selain itu”.

Haji sering disebut-sebut sebagai ibadah karena panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk menunaian rukun Islam kelima. Bila kita renungkan ada lima panggilan Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu panggilan cinta, panggilan untuk menghibru, panggilan pelaporan, penggilan sebab teguran, panggilan untuk penyempurnaan tugas, dan panggilan pulang.

Pertama, panggilan karena cinta-Mu pada para kekasih-Mu. Ini cerita kasmaran antara kekasih, yang selalu datang dan memanggil untuk saling bercengkerama. Setiap saat saling menyebut dan memamerkan kekasihnya. Hingga yang lain sudah terlelap, pecinta harus terjaga untuk memenuhi panggilannya.

Kedua, Engkau memanggil hamba-Mu karena dia sangat menghibur-Mu. Seperti halnya mereka yang dipanggil untuk membuat senang, riang, tertawa, terhibur dengan kehadirannya. Orang-orang ini seperti anak kecil, meskipun anak-anak tersebut berulah mengesalkan namun tidak menjadikan marah para orang tua. Dan malah sebaliknya dianggap sebagai lelucon yang menghibur mereka. Begitu pula orang-orang pada posisi ini, tingkah laku mereka dianggap sebagai lelucon yang menghibur Allah. Mereka sesekali nakal, badung dan kembali kepada Allah.

Ketiga, panggilan untuk lapor. Bawahan yang harus selalu laporan pada atasan, pegawai yang harus menunjukkan kehadirannya, tahanan kota yang harus selalu melapor kepada pihak berawajib, atau pegawai atau karyawan yang melaporkan pekerjaannya kepada pimpinan. Bisa dibayangkan bila seorang kopral harus menghadap jenderal, tegap, disiplin, lebih awal sebelum waktunya, dan cenderung melaporkan yang jenderal atau pimpinan suka. Sikap Ini biasa dilakukan oleh kita, dalam memenuhi panggilan azan untuk shalat. Kemudian kita akan shalat dengan, dikhusu’-khusu’ke, difasih-fasihke agar laporan kita dianggap baik oleh manusia lain dan para pengawas (malaikat) dan diterima baik oleh Allah.

Keempat, panggilan untuk menerima teguran atau hukuman. Nasehat yang telah disampaikan oleh para ustadz, kiai, dan orang alim sebagai penyampai risalah kenabian tidak diindahkan. Sehingga Allah sendiri yang harus memanggilnya untuk ditunjukkan keagungan diri-Nya dan memberi peringatan orang tersebut. Setelah dipanggil dan ditegur langsung, diharapkan ada perubahan sikap, sifat, dan kebiasaan.

Kelima, panggilan untuk pulang. Pada dasarnya kita ini sedang melakukan pengembaraan di dunia, dilepas oleh Allah dimasukkan dalam rahim, diperlihatkan ke dunia untuk diuji penghambaannya dan akan kembali pada-Nya. wainna ilaihi rajiun, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Panggilan pulang ini yang akan mengakhiri perjalanan kita di dunia, apakah kita akan panen baik atas tanaman kita di dunia atau sebaliknya mendapatkan hukuman yang akan kita terima. Hanya jiwa yang tenang (muthmainnah) yang dapat kembali dengan keridhaan-Nya dan mendapatkan balasan surga.

Semua panggilan tersebut tidak boleh dikotori dengan sikap-skap menduakan Allah dengan lainnya. Para pecinta akan meninggalkan segalanya untuk menemui kekasihnya, dan bahagia berduaan meski tak ada sajian dan minuman. Para penghibur akan bahagia bila yang dihibur bahagia, mereka akan tersenyum pulang dengan mengingat wajah bahagia yang dihiburnya. Melaporkan sesuatu kepada atasan harus fokus dengan topik yang dilaporkan dan tidak leda-lede, pimpinanku adalah atasanku sebagai penentu nasibku. Orang-orang yang dipanggil untuk ditegur tidak akan memalingkan wajahnya, mereka akan tunduk sebab kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Dan orang yang dipanggil pulang, tidak boleh menuju yang lainnya. Bila dia mengarah pada selain pemanggilnya, maka tersesatlah dia. Mereka tidak akan kembali pada dzat yang menurunkannya di bumi, mereka akan bergabung dengan pelindung-pelindung mereka selain Allah Swt. “Barang siapa yang berharap bertemu dengan Tuhannya, maka berbuat baiklah dan hindari kesyirikan dalam peribadatannya dengan sesuatu apapun”, termasuk kepentingan dirinya sendiri.

Jumat, 30 Juli 2021

PENCERAHAN ALA GUSMENAG TENTANG BAHAI

Ucapan tahniah Hari Raya Nawruz oleh Gusmenag kepada penganut Bahai menimbulkan kontroversi. Ada yang menuduh Gusmenag sesat pikir, ada pula yang menganggap beliau adalah menteri semua agama. Kok Menteri Agama mengucapkan Selamat Hari Raya kepada Penganut Bahai, apa sih Bahai itu? Minimal akan ada pertanyaan demikian, dan akhirnya akan googling mencari informasi tentang Bahai. Sebagian menemukan definisinya sebagai agama tersendiri, sebagian lain masih menganggap bahwa Bahai itu aliran sesat dalam Islam.

Bahai lahir di Persia (Iran) pada tanggal 23 Mei 1844M. Bahai mempercayai bahwa risalah nubuwah tidak berakhir pada Nabi Muhammad Saw sebagai khatam al-anbiya’ wal mursalin.  Bahai percaya adanya Bab, pintu Tuhan yang ada di bumi yang mempersiapkan turuannya utusan, Bahaullah yang bernama Mirza Husayn Ali. Kitab suci Kaum Bahai bernama al-Aqdaz yang pewahyuannya diterima Bahaullah sejak tahun 1852M. Sekilas ritual Bahai seperti sinkretisme dari berbagai agama, sehingga nampak harmoni atas agama-agama.

Puslitbang Kementerian Agama mengidentifikasi komunitas Bahai ada di beberapa daerah di Jakarta, Bandung, Bekasi, Pati, Banyuwangi, Malang, Medan, Surabaya, Denpasar, Paloppo, Pekanbaru dan Kepulauan Mentawai. Bahai masuk ke Indonesia dibawa oleh Jamal Efendi dan Mustafa Rumi pada tahun 1878, melalui Batavia. Selain Bahai, ada keyakinan lokal yang dianggap sebagai agama asli nusantara seperti Sunda Wiwitan, Kaharingan, Marapu, Parmalim dan Naurus serta lainnya.

Di Indonesia kebebasan beragama dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 ayat 2; Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Menuurt UU No 1/PNPS/1965, Agama resmi menurut pemerintah adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. Meski demikian, negara wajib melindungi warga negara untuk hidup nyaman dan damai dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akhirnya kita dapat tercerahkan dengan informasi yang melimpah pro-kontra Bahai yang memperkaya khazanah kita tentang agama-agama di Indonesia. Apapun Agama yang Anda peluk, jadilah pemeluk agama yang taat dan baik. Agama membimbing pemeluknya untuk memiliki keimanan yang kuat (aamanu), ketaatan (athi’u Allah, wa athi’u al-rasul, wa ulil amri minkum) dan menjadi manusia yang baik (‘amil al-shalih) (AB).

Kamis, 29 Juli 2021

MOLIMODOT: IKHTIAR SEHAT & SELAMAT COVID-19

Molimo adalah angka lima yang dibaca berulang dengan dialek Madura (mo-limo), merupakan lima protokol kesehatan sebagai ikhtiyar terhindar infeksi Covid-19. Tindakan menjalankan protokol kesehatan merupakan bagian dari menjalankan anjuran Nabi saw.: “Laa dharara wala dhiraran” yang artinya janganlah berbuat madharat dan hal yang membuat madharat (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ibnu Hanbal). Berikut adalah MOLOMI-DOT yang merupakan ikhtiyari kita:

      1.   Mencuci Tangan.

Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, disinyalir akan menghilangkan virus atau bakteri yang menempel di tangan kita. Bukan hanya virus dan bakteri, najis yang menempel pada tangan kita bisa disucikan sehingga tak turut serta masuk ke dalam perut kita bersama dengan makanan yang kita makan. Meski bukan najis ‘ainiyah, baik bila kita mencuci tangan kita.

     2.      Memakai Masker

Masker dianggap sebagai penghalang droplet yang keluar dari mulut kita saat bicara dan nafas kita. Double masker akan lebih ketat dalam mengantisipasi kita menularkan virus kepada orang lain, atau menangkalnya dari orang lain.

Ambillah pelajaran, bahwa masker yang sekarang dipakai untuk menurunkan resiko penyebaran Covid-19 menjadi peringatan bagi kita agar tidak banyak cakap kecuali yang bermanfaat, hindari ghibbah dan fitnah, tak berbicara yang bukan kapasitasnya, dan lebih baik diam untuk kebaikan.

      3.      Menjaga Jarak

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19, disebutkan bahwa jarak aman minimal satu meter dari orang lain untuk menghindari terkena droplets dari orang yang berbicara, batuk, bersin serta menghindari kerumunan, keramaian dan berdesakan.

Protokol kesehatan ini ditentang oleh beberapa kelompok muslim yang meyakini bahwa protokol ini menyalahi syariat “merapatkan shaf” dalam shalat.  

Ini juga mengisyaratkan kita agar menjaga jarak dalam berteman, mengetahui hak dan kewajiban sebagai seorang teman untuk tidak mencampuri urusan pribadinya kecuali diminta pendapatnya.

     4.      Menjauhi Kerumunan

Berkerumun berpotensi lebih mudah virus menular sebab bertemu banyak orang yang kita tidak tahu satu sama lainnya. Berkerumun juga cenderung susang mengontrol jarak satu sama lainnya. Saat kita berkerumun akan mengobrol bebas, dan dimungkinkan orang tak telah terpapar (OTG) berada dalam kerumunan tersebut menularkan Covid-19. 

     5.      Mengurangi Mobilitas

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, banyak larangan-larangan bepergian kecuali alasan dinas dan krusial lainnya yang harus menunjukkan syarat administrasi telah divaksin, negatif PCR/rapid antigen, surat keterangan dari tempat tugas atau RT/RW.

Mengurangi mobilitas merupakan bagian dari menjalankan sunah rasul Saw., yang termaktub dalam sebuah hadis tentang tha’un; “…… Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR. Bukhori-Muslim)

     6.      Doa

Berdoa merupakan ibadah, dan bagian dari kefakiran hamba terhadap Tuhannya. Disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah:184 bahwa “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” dan dalam Surat al-Ghafir: 60 disebutkan “…berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku kabulkan untuk kalian”.

Bila kita berdoa, memohonkan perlindungan dan keselamatan dari wabah Covod-19 sejatinya kita menegaskan kefakiran kita atas kekuasaan Allah di atas segala sesuatu. Dia yang menciptakan virus dan menurunkan obat serta mengendalikannya.

      7.      Tawakal

Setelah ikhtiyar dengan 5 M (molomo) dan berdoa, kita harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt. Kematian kita sudah tercatat sejak kita belum terbentuk menjadi manusia. Ikhitayr adalah upaya kita sebagai manusia, berdoa adalah kelemahan kita yang membutuhkan Tuhan dan tawakkal bagian dari kepasrahan kita pada Allah Swt yang dapat berkehendak atas para makhluk-Nya.

Protokol Kesehatan yang dirumuskan oleh Kementerian Kesehatan merupakan bagian dari ikhtiyari manusia agar selamat dan sehat dari Covid-19. Berdoa merupakan pengakuan kelemahan kita terhadap Tuhan, dan tawakal merupakan kepasrahan kita atas takdir-Nya. Meski kita sudah menjalankan protokol yang ketat dan berdoa, bila Allah berkehendak lain atas diri kita maka kita juga akan terpapar Covid-19.

Penerapan protokol kesehatan tak bisa diyakini sepenuhnya sebagai tindakan yang pasti tidak menyebabkan tertular Covid-19. Keyaninan tersebut bagian dari arogansi dan menghilangkan kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu (innallaha ‘ala kulli syai’in qadir). Menolak tidak menerapkan protokol kesehatan dengan meyakini bahwa “takut kok dengan corona, takut itu pada Allah”, juga bukan tindakan yang benar. Sebab menjalankan protokol kesehatan merupakan ikhtiyar manusia berdasarkan kajian para ahli multidispilin ilmu kesehatan.

Kombinasikanlah ikhtiyar kita sebagai manusia dengan merapkan protokol kesehatan, berdoa dan bertawakallah kepada Allah Swt. Niatkan menerapkan protokol tersebut berdasarkan ilmu agama, sehingga tindakan kita bermanfaat bagi diri dan sesama serta berpotensi menjadi ibadah (AB).

 

BERPIKIR KRITIS ITU IBADAH

Kata-kata yang keluar dari Cak Lontong – MIKIR!!! – mengingatkan saya pada ledekan Allah Swt. Kepada kita semua.  Afalaa ta’qiluun (opo ra dinggo akalmu?), atau afalaa tatafakkaruun (opo koen ora mikir?); afala tadzakkarun (opo to ora ngiling-ngiling?), yang secara sederhana diucapkan oleh Cak Lontong; mikiiirrr!!.....mikiiirr!

Mempelajari kata tanya what, why, when, who, where, dan how bukan untuk mendapatkan nilai raport yang bagus. Melainkan memberikan teknik dasar bagaimana kita menggunakan akal kita dengan memulai dari pertanyaan atau rasa penasaran kita. Dari pertanyaan-pertanyaan yang kita munculkan, kemudian kita mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.

Berpikir kritis adalah menempatkan sesuatu sebagai masalah (atau alasan kenapa saya harus berpikir atasnya?), kemudian mencari solusi atau jawaban atas masalah tersebut. Jawaban bisa lebih dari satu, atau beberapa alternatif jawaban dan menguji jawaban-jawaban tersebut hingga terpilih sebagai jawaban yang paling tepat atas permasalan tersebut.

Berpikir kritis juga tidak semena-mena menelan informasi yang kita terima atau beredar di masyarakat baik riil society atau virtual society. Kita akan menanyakan pada diri kita dengan kata tanya yang pernah kita pelajari dan mencari jawaban atas informasi-informasi tersebut. Pencarian informasi yang kita lakukan adalah bentuk tabayyun (penjelasan) terhadap informasi sebelumnya.

Berpikir kritis merupakan bentuk syukur kita kepada Allah swt., atas nikmat otak (brain) dan fungsiya (mind). Diberi otak tak digunakan untuk berpikir, seperti halnya hewan yang hanya mengandalkan intuisi atau naluri hewani mereka. Hal ini yang membedakan manusia dengan hewan-hewan lainnya.

Berpikir kritis sebagai ibadah bukan berpikir untuk melakukan maksiat atau hal-hal yang dilarang oleh agama. Dengan berpikir kritis kita dapat lebih bijaksana, lebih bermanfaat, lebih menyayangi setiap makhluk-makhluk yang ada di bumi, sehingga kita lebih mendekati apa yang dikendaki Tuhan atas tujuan kita sebagai manusia.

Kita diberikan guidance oleh Allah Swt melalui beberapa ayat dalam Alquran. Misalnya QS. Ali Imran:190-191 tentang penciptaan langit dan bumi serta perbedaan siang dan malam menjadi tanda bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam semua keadaan, berpikir pada penciptaan yang selalu ada faedahnya. Mereka selalu mensucikan pikiran mereka dan berlindung atas kesesatan fikir mereka agar tidak terjebak ke lubang neraka.

Ciri-ciri kritis itu ibadah adalah kekritisan kita menambah pengetahuan, menambah rasa syukur kita kepada Allah Swt., semakin mendekatkan diri kita kepada kebaikan, semua alur pikir kita bermuara akan bermuara Allah dengan tetap mengikuti proses berpikir. Dan bila pikiran kita mengarah kepada kemaksiatan, yang menghilangkan eksistensi Allah dalam cara berpikir kita maka kembalilah. Telusuri kembali alur pikir kita. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah adalah mereka yang berilmu pengetahuan (AB).

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...