Di
beberapa wilayah pesisir pantai utara seperti Demak, Semarang, Batang,
Pekalongan dan Pemalang, hampir tiap tahun terkena banjir karena peningkatan debit
air karena hujan atau rob. Beberapa penanganan yang telah dilakukan adalah
memperbaiki saluran air, membangun talud, meninggikan jalan, dan merelokasi
rumah terdampak. Mayarakat yang tetap tinggal karena mata pencaharian sebagai
nelayan atau berbasis hasil perikanan menguruk tanah atau meninggikan rumah-rumah
mereka.
Upaya menguruk
rumah, jalanan, atau pembuatan talud dalam jangka panjang tidak menjadi solusi
yang efektif. Bukit yang diambil tanah dan batuan untuk bahan material urukan
akan menjadikan dataran rendah, yang juga akan berdampak pada bajir yang
semakin mengarah ke daratan. Air pada dasarnya tidak bisa ditimbun, menguruk
areal banjir maka akan menambah aliran air ke arah selatan atau daratan.
Sejenak mari
melihat rumah-rumah Suku Bajo, yang berada di tepi-tepi laut. Rob besar mereka
tidak kebanjiran, bahkan bisa mendapatkan ikan tangkapan yang terbawa oleh rob.
Rumah-rumah Suku Baju berbentuk panggung dengan material bambu sebagai
penyangganya. Selain rumah Suku Bajo, kita bisa melihat rumah-rumah di pantai Kalimantan,
Lampung dan masyarakat yang tinggal di pinggir kali (Girli) atau sungai. Mereka
tetap bisa beraktivita bermata pencaharian berbasis perikanan, juga tidak terkena
dampak banjir.
Rumah
Panggung atau rumah apung bisa ditawarkan bagi masyarakat yang terdampak banjir
rob. Pemerintah bisa membuatkan kampung apung hingga pasar apung serta jalur
lalu lintas air untuk membantu aktivitas masyarakat ke kota. Selain rumah-ramah
suku Bajo dan pesisir pantai Kalimantan, Lampung dan lainnya, terdapat Kampung Apung
Teko di Jakarta Barat dan Ayapoo di Papua.
Tidak
hanya di dalam negeri, ada kampung apung di luar negeri seperti Santa Cruz Del Islote
di Kolombia, Koh Ponyee di Thailand, Waterbuurt di Belanda, Desa Fadaoth di
Senegal, Ha-Long Bay di Vietnam, Kampong Ayer di Brunei, Desa Ganvie di Afrika,
dan Mexcaltitan di Meksiko.
Nah, para
pengabdi masyarakat dan masyarakat terdampak abrasi dan banjir rob sudah harus
memulai membuat solusi inovatif dengan membuat rumah apung, kampung apung,
pasar apung dan jalur transportasi air sebagai solusi. Dan meninggalkan solusi
klasik dengan menguruk rumah, jalanan dan lahan-lahan yang dapat mengakibatkan bajir
meluas dan menenggelamkan seluruh daratan di pulau jawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar