Minggu, 19 Juli 2026

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan mengganggu ekosistem air. Saat musim hujan mulai tiba, bila tidak dibersihkan akan mengganggu kelancaran aliran air dan dapat menyebabkan banjir karena penyumbatan aliran.

Enceng Gondok dapat penyaring alami (fitoremediasi) yang menyerap logam berat dan polutan air, bahan baku kompos, campuran pakan bebek/endog, peneduh alami dan substart tempat menempel ikan. Beberapa warga memanfaatkan enceng gondok sebagai bahan pembuat kerajinan tangan seperti tas, sendal rajut, dan lainnya. Lahan pertanian sudah jarang, pemanfaatan enceng gondok sebagai bahan kompos tidak memungkinkan. Peternak bebek dan endog, lebih memilih bahan campuran lain dibandingkan enceng gondok. Hasil kerajinan dari enceng gondok sudah kalah trend dengan produk-produk impor yang murah dan awet.

Nah, di sungai-sungai yang masih tawar airnya atau sedikit payau, hamparan enceng gondok dapat disulap sebagai lahan pertanian apung (floating gardens/floating bed). Dengan bambu yang dijajar (mirip gethek bambu) kemudian atasnya ditata enceng gondok, ditumpuk dengan diselingi tanah lumpur. Bentukan air seperti bedhengan sawah yang terapung. Setelah siap, kemudian bisa ditanami sayuran, atau tanaman yang sesuai dengan media tersebut.

Pemanfaatan enceng gondok sebagai floating gardens, tidak perlu mengangkat enceng gondok keluar sungai yang akan menambah kerjaan, waktu dan estetika pinggir kali. Bila masih ada enceng gondok yang berkembang biak di sungai, bisa kemudian diambil dan ditumpukkan ke bedhengan floating gardens.

Dengan demikian, diharapkan sungai terkendali dari blooming enceng gondok, warga memperoleh penghasilan, dan ada manajemen pengelolaan kali untuk kesejahteraan masyarakat. Manajemen pengelolaan kali/sungai dapat dikembangkan menjadi wisata air (river tourism), dengan memanen sayur dan memancing ikan menggunakan cano atau sampan.

Sabtu, 18 Juli 2026

Kampung Apung: Solusi Bagi Wilayah Terdampak Abrasi dan Banjir Rob

Di beberapa wilayah pesisir pantai utara seperti Demak, Semarang, Batang, Pekalongan dan Pemalang, hampir tiap tahun terkena banjir karena peningkatan debit air karena hujan atau rob. Beberapa penanganan yang telah dilakukan adalah memperbaiki saluran air, membangun talud, meninggikan jalan, dan merelokasi rumah terdampak. Mayarakat yang tetap tinggal karena mata pencaharian sebagai nelayan atau berbasis hasil perikanan menguruk tanah atau meninggikan rumah-rumah mereka.

Upaya menguruk rumah, jalanan, atau pembuatan talud dalam jangka panjang tidak menjadi solusi yang efektif. Bukit yang diambil tanah dan batuan untuk bahan material urukan akan menjadikan dataran rendah, yang juga akan berdampak pada bajir yang semakin mengarah ke daratan. Air pada dasarnya tidak bisa ditimbun, menguruk areal banjir maka akan menambah aliran air ke arah selatan atau daratan.

Sejenak mari melihat rumah-rumah Suku Bajo, yang berada di tepi-tepi laut. Rob besar mereka tidak kebanjiran, bahkan bisa mendapatkan ikan tangkapan yang terbawa oleh rob. Rumah-rumah Suku Baju berbentuk panggung dengan material bambu sebagai penyangganya. Selain rumah Suku Bajo, kita bisa melihat rumah-rumah di pantai Kalimantan, Lampung dan masyarakat yang tinggal di pinggir kali (Girli) atau sungai. Mereka tetap bisa beraktivita bermata pencaharian berbasis perikanan, juga tidak terkena dampak banjir.

Rumah Panggung atau rumah apung bisa ditawarkan bagi masyarakat yang terdampak banjir rob. Pemerintah bisa membuatkan kampung apung hingga pasar apung serta jalur lalu lintas air untuk membantu aktivitas masyarakat ke kota. Selain rumah-ramah suku Bajo dan pesisir pantai Kalimantan, Lampung dan lainnya, terdapat Kampung Apung Teko di Jakarta Barat dan Ayapoo di Papua.

Tidak hanya di dalam negeri, ada kampung apung di luar negeri seperti Santa Cruz Del Islote di Kolombia, Koh Ponyee di Thailand, Waterbuurt di Belanda, Desa Fadaoth di Senegal, Ha-Long Bay di Vietnam, Kampong Ayer di Brunei, Desa Ganvie di Afrika, dan Mexcaltitan di Meksiko.

Nah, para pengabdi masyarakat dan masyarakat terdampak abrasi dan banjir rob sudah harus memulai membuat solusi inovatif dengan membuat rumah apung, kampung apung, pasar apung dan jalur transportasi air sebagai solusi. Dan meninggalkan solusi klasik dengan menguruk rumah, jalanan dan lahan-lahan yang dapat mengakibatkan bajir meluas dan menenggelamkan seluruh daratan di pulau jawa.

Jumat, 22 Mei 2026

Saudara Penguasamu Vs Teman Raja Diraja

Tuhan adalah Raja Diraja (Malikal Mulk), penguasa yang tiada tak ada tandingannya. Siapapun dan apapun bisa diperintahkan untuk menghancurkan apapun yang dikehendaki. Tapi, Tuhan tidak mengedapankan sifat jalaliyah, melainkan dengan sifat jamaliyah-Nya. Allah memberikan waktu pendosa untuk bertaubat, dengan taubatan nashuha akan diampuni. Bila pun kemudian diberikan musibah (azab) sudah beberapa kali diingatkan oleh rasul-Nya.

Siapapun yang dekat dengan-Nya, permintaannya tak akan ditolaknya. Siapapun yang dicintanya, tak akan pamer dan mengancam siapapun termasuk orang-orang yang menyakitinya. Orang-orang yang dekat dengan-Nya berakhlakul karimah, lemah-lembut, menebarkan kedamaian dan kasih sayang. Mereka menghindari kekasihnya kecewa, dan selalu mendoakan semua makhluk-makhluk di bumi.

Muhammad saw., yang paling dicintai kala disakiti orang-orang Yastrib malah mendoakan mereka, padahal betapa geramnya malaikat yang akan menindihnya dengan gunung. Umar ra., dicaci orang tua kafir namun tetap membantunya tanpa menyakiti sedikit pun cacian dan kekerasan fisik padanya. Ibrahim as. ditegur Allah, karena menolak memberikan makan pria tua Majusi karena tidak mau masuk Islam, padahal seumur hidupnya mereka tak menyembahnya.

Selain nabi, para wali (auliya’illah) sangat dekat dengan Sang Raja Penguasa (Malikal Mulk). Kita bisa membaca, melihat dan merasakan akhlak mereka, kasih sayang mereka terhadap sesama, tak pernah menyakiti siapapun, dan yang terpenting mereka tidak menonjolkan (nih…aku dekat dengan Raja Penguasa). Sebaliknya, bila mereka ditampakkan oleh Allah kepada khalayak mereka justeru minta diselesaikan misinya dan pindah ke wilayah lainnya.

Di sekitar kita, fenomena ini terbalik. Ada saudaranya RT atau kepala desa caci-maki warga miskin yang mengajukan bantuan. Kita bisa melihat atau mendengar dan membaca berita bahwa saudara, ada teman, kolega atau siapapun yang merasa dekat dengan penguasa begitu arogannya. Siapapun penguasa itu, ditingkat komunal, lokal, regional, nasional maupun internasional.

Seakan merasa paling menentukan untuk menurunkan atau merekomendasikan orang. Mereka bisa mengancam siapapun, karena merasa dekat dengan kekuasaan. Melakukan penguasaan seakan selalu mendapatkan restu penguasa. Sesungguhnya dengan arogansi dan keangkuhan sejatinya merusak nama baik kekuasaan. Seandainya teman atau saudara kekuasaan itu santun, berakhlak baik dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan maka nama baik kekuasaan itu akan dikenang baik oleh karyawannya dan masyarakat.

Andaikata saudara penguasamu berperilaku seperti teman Raja Diraja, akan sangat damai dan tenteram. Mereka akan selalu menyayangi orang-orang kecil dan membantunya untuk menyelesaikan problematikanya, bukan saling berebut posisi. Para teman Raja Diraja (aulia’) tak pernah berebut posisi, mereka justeru sangat tawadhu’ dengan menjadi pelayan yang baik dan tidak berebut ketenaran.

Semoga saudara penguasa di tingkat lokal, regional, nasional hingga internasional bisa belajar dengan teman Yang Maha Kuasa dengan kesantunan akhlaknya, rasa kasih-sayang terhadap sesama, dan selalu membantu orang-orang yang membutuhkan serta tidak membuat kerusakan.

Jumat, 15 Mei 2026

Haji Kok Nunggu Panggilan

Kalimat yang sering terucap ketika kita bertanya pada seseorang terkait dengan kewajiban berhaji, yaitu nunggu panggilan dan belum mampu (istithoah). Bila ngitung berapa panjang daftar waiting list, “nunggu panggilan” itu adalah menunggu panggilan untuk pelunasan Biaya Haji dari Kementeraian Haji, yang dulu dikelola Kementerian Agama.

Kamis, 14 Mei 2026

Okehno Solawat Ben Dikenal Nabi Muhammad

“Doel, okehno awakmu moco solawat”, tetiba Kiai Ahmad menasihati Doel Semprul.

“Kata orang-orang kae, berselawat kui mengikuti (ittiba’) ro Kanjeng Nabi, Yai? Opo cukup moco thok?”, sahut Doel Kemplo.

“Wis, rasah didawak-dawakno. Koen kabeh rung karuan bisa mengikuti nabi dengan sempurna. Yang penting usaha untuk menjalankan ibadah karena taat pada Allah dan ikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi, sahabat, tabiin dan para ulama”

“Yang seneng baca barzanji, dziba, burdah, simthudduror, dan kitab maulid lainnya dilanjutkan. Anggonmu moco yo karena seneng ro nabi, berkah oleh kenduri. Sinambi dibaca, dipahami dan ikuti apa yang menjadi teladan nabi. Bila belum sempat duduk bareng di majelis untuk baca sirah nabawi (kitab maulid), sempatkan perbanyak baca solawat agar awakmu tetap nyambung dengan Kanjeng Rasul”.

“Mpean ra sah bidngah-bidngahne wong-wong sing seneng moco barzanji, maulid, solawat nang mesjid. Mereka itu berusaha memahami sejarah dan mengikuti nabi yang butuh cukup waktu”.

“Yai, saiki yo aneh-aneh, solawat nggo ben sugeh. Aku ra sugeh-sugeh Yai….”, sela Rasdan memprotes niatan bersolawat agar kaya tetapi belum mendapatkan kekayaan.

Gusti Alah mengerti tentang kita, bukan diberi harta melimpah tetapi Dia lebih sayang terhadap kita agar tetap istiqomah selalu berada bersimpuh setiap malam. Ingatlah, Tsa’labah yang didoakan nabi diberik kekayaan melimpah binatang gembalaannya hingga akhirnya jauh dari agama.

Jamaah Gendheng Wal Gemblung (di majelis Pagemblungan), sejak dakwah nabi hingga saat ini berapa banyak jumlah ummat islam sesuai dengan tingkatan masing-masing. Ada sahabat, tabiin, tabiuttabiin, ulama, kiai, ustadz, syuhada, para shalihin, para penulis kitab-kitab, dan orang-orang mulia lainnya.

Lhah…., Koen modelane ngene. Guendheng kabeh, rep saingan dengan mereka yang status keilmuan, jasa dan spiritualnya lebih tinggi dari kalian. Koen kui sampah, boro-boro dianggep, dilirik wae nggak, rung karuan masuk surga. Makanya perbanyak shalawat kepada Gusti Nabi.

Ingatlah, sekali Koen solawat bakal dibales kanjeng nabi dengan sepuluh jawaban (solawat: didoakan), Koen moco 10 solawat dibales 100 jawaban. Berapapun solawat yang kau baca akan dibalas sepuluh kali lipatnta (10x lipat). Bacalah sebanyak-banyaknya, agar Kanjeng Nabi Muhammad penasaran atasmu sehingga beliau akan mengunjungimu, mengenal dan kelak mendapatkan syafaat dalam hidup dan matimu kelak. Kala di surga tak ada dirimu, Kanjeng Nabi akan mengingat dan menanyakannya kepada Jibril as.

“Dapuranmu itu susah untuk ikuti Nabi secara ideal, ngaji wae bolong-bolong. Dzikir – wirid Pagemblungan saja jarang-jarang dilakukan. Terus, opo sing mok arep-arep?”, tandas Doel.

“Masuk surgalah, Doel!!, sela Doel Gemblung

“Surgooo Mbahmu!!”, Jawab Doel Semprul

“Sudah-sudah, kalian jangan saling menyalahkan”, Kiai Ahmad menasihati jamaah Pagemblungan.  

“Kalian jangan meremehkan solawat, Orang badui modal cinta nabi saja masuk surga, bahkan dengan modal cerita dan sangat mencintai nabi akhirnya menjadi ahli surga (cerita ya karim). Ada sahabat yang memeluk nabi agar harum wangi badan nabi menjadi saksi di hadapan Allah. Ada yang da’imushalawat, saat meninggal didatangi nabi”.

“Okehno anggonmu solawat dan jangan bosan, semoga Kanjeng Nabi mengenali kita dan kita bisa berkumpul bersama dengan beliau”

“Aamiiiiin………….”, serempak jamaah Pagemblungan mengaminkan doa Kiai Ahmad.

Rabu, 13 Mei 2026

Kau Dikenal Penduduk Langit?

Populer merupakan hasil dari sebuah proses baik yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Dalam perpolitikan penting tetap menjaga popularitas diri agar tidak tenggelam dan dianggap tidak penting dan kontributif. Isu ijasah palsu bisa jadi merupakan bagian dari pemanfaatan objek isu agar popularitas tetap terjaga bagi orang-orang tertentu. Isu makin populer juga akan menghasilkan cuan dari bisnis media. Percuma, populer di dunia tetapi tidak populer di langit sebagai orang yang dicintai langit.

Sahabat Bilal bin Rabah, sendal terompahnya terdengar di surga padahal Bilal belum meninggal dunia. Uwais al-Qorni masyhur di kalangan malaikat, karena begitu baktinya kepada ibunya yang lumpuh, taat beribadah dan menjaga ketakwaannya. Kedua sahabat tersebut adalah contoh orang-orang yang populer di langit tetapi tak terkenal hebat di bumi. Bilal seorang budak hitam yang dibebaskan sayyidina Umar r.a. dan Uwais adalah pemuda miskin yang hanya fokus berbakti pada ibunya.

Selain itu ada ada seseeorang hilang popularitasnya di kalangan malaikat, setelah makan sebutir kurma “curian”. Doa-doanya yang selalu membuat penasaran para malaikat di langit tetiba tak ada jejak doa itu menembus ‘arsy. Untuk memulihkan popularitasnya, dia harus minta keikhlasan penjual kurma. Penjual tersebut sudah meninggal dunia, dia harus mencari tiga anak penjual kurma hingga diikhlaskan sebutir kurma tersebut.

Ada cerita lain tentang seseorang yang harus menanggung beban bekerja setahun hanya untuk meminta ikhlas sebuah delima yang dia temukan di aliran sungai. Dia juga harus menikahi anak petani tersebut yang dikondisinya diceritakan tidak “sempurna” oleh petanu tersebut. Pemuda tersebut adalah manusia pilihan yang kemudian melahirkan salah satu imam dari empat imam madzhab.

Apakah kita dikenal penduduk langit? Boro-boro populer, dikenal saja tidak. Orang-orang tertentu yang populer di langit adalah orang istimewa yang saat Allah mencintai-Nya, maka Dia akan memamerkan pada para malaikat. Kemudian mereka diminta untuk mencintainya juga hingga suatu saat akan diceritakan kepada para kekasih lainnya.

Para penduduk langit akan selalu mengintip penduduk bumi, mereka yang bersinar akan membuat penasaran para penduduk langit. Kita diciptakan dari dua unsur cahaya (nur) dan kegelapan (dhulumat), keduanya tidak bisa bercampur. Bila ingin bercahaya dan dilihat oleh penduduk langit, maka kita harus meninggalkan perilaku gelap (dholim). Keimanan seseorang bisa bertambah (yazid) karena ibadah dan ketakwaannya, dan bisa mengurang (yanqush) karena kedzaliman dan kekufuran yang dilakukannya.

Kau telah sibuk mengejar sesuatu yang menambah gelap dan tak nampak oleh penduduk langit. Rakus, culas, dzalim, membuat kerusakan (fasad), memelihara dosa (fasik), inkar nasihat (kufur), dan perbuatan lain yang mencegah cahaya masuk dalam hati (qalb-sirr-latifah). Bila hati gelap, maka cahaya tidak bisa dipantulkan ke langit, sehingga nampak terlihat oleh mereka.

Bila kau masih keluar masuk ruangan penguasa dan menunjuk diri, merendahkan lainnya, mengumpulkan receh yang akan menjadikan hatimu tambah kelam. Uang yang kau dapatkan secara culas, akan menambah nafsumu berkobar dan membakar hatimu yang semakin jauh untuk nampak di langit. Popularitasmu di dunia tak bisa menyinarkan hatimu, bukankah Fir’aun, Qorun, dan Haman populer di eranya?

Ingatlah, sekalah hatimu agar kembali bercahaya dan mendapatkan doa dari penduduk langit. Dan kemudian kau akan dikenal mereka, kelak disapa saat kau sampai disana. Bila hatimu bercahaya, maka seluruh anggota tubuhmu akan konsisten pada ketaatan. Santun dan lembut dalam berbicara, tegas dalam kebenaran. Kembalilah segera …………

Minggu, 10 Mei 2026

Eco Teologi: Beragama dengan Baik

Eco Theology menjadi salah satu prioritas dari delapan program prioritas (Asta Protas) Kementerian Agama. Eco Theology berasal dari kata Ecology dan Theology, penggabungan kata tersebut (eco theology) dalam bahasa Inggris dapat berarti teologi lingkungan. Eco Theology merupakan ilmu yang membahas tentang inter relasi antara pandangan teologis-filosofis yang terkandung dalam ajaran agam dengan alam, khususnya lingkungan. Dalam kajian fiqih ada fikih lingkungan atau fiqh al biah, yaitu cabang ilmu fikih yang mengatur norma perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan berdasarkan Alquran dan sunnah.

Sabtu, 11 April 2026

Mungkinkah Dibentuk "Desa Pesantren"?

Pesantren memiliki lima unsur yaitu; Kiai, Santri, Masjid, Kitab Kuning (kurikulum), dan pondok sebagian menambahkan adanya maqbarah para muassis (makam pendiri). Pesantren dikenal dengan kemandiriannya, terintegrasi dengan masyarakat, dan tidak menggunakan pendekatan klasikal melainkan sorogan dan bandongan serta menganut ketuntatasan dalam pembelajaran (mastery learning).

Kamis, 09 April 2026

Ampunilah, Gusti

Ya Allah, Jangankan bersua, berharap surg-Mu saja tak pantas bagiku yang ahli maksiat ini. Jasad sempurna yang Kau berikan, setiap saat bermaksiat mulai dari kepala hingga ujung kaki. Ruh yang telah ikrar kepadamu, bermaksiat menuruti hawa nafsu. Ampunilah ruh dan jasadku ini ya Gusti.

Rabu, 01 April 2026

Inna Ma’al ‘usri Yusran Bukan Mantra

Apa yang Anda pkirikan kala melihat status orang dengan ayat inna ma’al ‘usri yusran? Saya hanya menilai bahwa orang tersebut sedang merasa mengalami kesulitan hidup. Dengan memosting potongan ayat tersebut dengan segara hilang kesulitan kemudian datang kemudahan. Atau kemudian potongan ayar tersebut diwiridkan dengan jumlah tertentu, kemudian terjadi keajaiban kesulitan menjadi kemudahan.

Inna ma’al usri yusran, yang diartikan “sesungguh sesudah/beserta kesulitan itu ada kemudahan” sering digunakan untuk status seseorang sepertinya masih dalam keadaan kesusahan. Dengan mengunggah postingan tersebut berharap menjadi energi positif bahkan pelipur lara. Kemudahan bukan “ujug-ujug” datang sebagai keajaiban. Kemudahan yang bersifat given dari Allah hanya diperuntukkan bagi manusia yang dikehendaki. Kemudahan yang ikhtiyari adalah penggunaan akal pikiran untuk mencari solusi atas kesulitan tersebut sebagai doa (pengharapan) implementatif.

Ingatkah dengan cerita Willian Kamkwamba dari Malawi, Afrika Timur yang mencari solusi atas kekeringan yang melanda desanya. Kamkwamba memanfaatkan angin sebagai sumber energi yang diubah menjadi energi listrik untuk menggerakkan mesin air rakitannya mengeluarkan air dari dalam tanah untuk mengairi lahan dan penghidupan warga desa.

Di Indonesia ada Mak Eroh dari Tasikmalaya yang membelah bukit cadas lereng Gunung Galunggung untuk mencari sumber air pengairan sawah warga yang kekeringan (1980-an). Mbah Sadiman dari Wonogiri yang mengkonservasi air tanah dengan menanam ribuan pohon beringin di lahan tandus, kemudian sukses mengairi sawah-sawah dan sumber air warga sekitar.

Selain cerita heroik lingkungan, banyak juga cerita inspiratif dari para pengusaha yang bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bob Sadino, yang rela berjualan telor ayam setelah kecelakaan dan akhirnya memiliki banyak perusahaan. Kisah Dokter Eca (Eka Nur Prasetyawati) dibalik cerita viral “Layangan Putus” yang terpuruk karena menolak poligami dan mengalami KDRT kembali bangkit membuka usaha untuk menghidupi anak-anaknya. Dan masih banyak cerita-cerita inspiratif lainniya yang bisa kita jadikan motivasi dari kala sedang terpuruk. Jangan merasah seakan diri kita adalah orang-orang yang paling susah. Sementara ada orang-orang yang diberikan keterbatasan fisik tetap semangat menjalankan hidup penuh dengan rasa syukur.

Bila masalah diibaratkan batu besar yang berat kita pikul, bukan menempelkan potongan ayat di atas pada batu tersebut atau mewiridkannya sehingga batu tersebut menjadi ringan. Berpikirlah bagaimana cara memindahkan batu tersebut agar lebih mudah dan ringan. Bisa saja dibelah menjadi belahan yang mudah diangkat atau menggunakan alat berat untuk memindahkan batu tersebut.

Nabi saw pernah menegur sahabat yang setiap harinya dzikir di masjid dan tidak bekerja untuk menafkahi keluarganya. Berdzikir merupakan perintah (wadzkurullah dzikran katsiran), dzikir juga bisa menenangkan batin (yathmainnul qulub) dan melangkah untuk mencari solusi problematika hidup juga dianjurkan (fantasyiru fil ardh wabtaghu min fadhlillah wadzkurullah dzikran katsiran). Penting untuk menggabungkan antara dzikir dan doa (pengharapan) dengan implementatif problem solving idea (mengimplementasikan ide penyelesaian masalah).

Dan perlu kita ketahui bahwa kesulitan dan kemudahan itu adalah siklus, masalah dengan penyelesainnya. Siklus tersebut akan dihadapi manusia sepanjang hidupnya, baik itu terkait dengan perekonomian, problem interaksi sosial, pekerjaan, teknologi, masyarakat, hingga negara bangsa. Satu masalah telah selesai, maka akan ada haral rintang kembali saat kita menjalankan kebaikan (faidza faraghta fanshob).

Penyelesaian problem harus sesuai kaidah ketuhanan, bukan semakin menjauhkan diri pada Tuhan YME. Sesuai dengan kaidah ketuhanan adalah tidak melanggar aturan, misalnya kesulitan ekonomi diselesaikan dengan bekerja bukan mencuri atau merampok dan kriminal lainnya. Kesulitan perekonomian juga tidak kemudian pergi ke dukun, gunung kawi, atau tempat pesugihan lainnya yang menjauhkan diri pada Tuhan.

Dalam ayat terakhir “wa ila rabbika farghob: dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah”, kita tidak boleh melakukan tindakan yang dilarang oleh Allah swt, seperti kriminal, kemusyrikan, kecurangan, dan lainnya yang akan menjauhkan kita pada Allah swt. Harapan harus dilangitkan dengan doa dan ibadah agar ketenangan diri membantu kita untuk lebih optimis dalam menjalankan solusi yang menjadi pilihan kita.

Kamis, 22 Januari 2026

Istighfar Harus Melatihmu Sebagai Pemaaf

Berapa kali kita memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari semalam? Nabi saw, membaca istighfar minimal 70 kali sehari semalam. Perbuatan keji, salah dan dosa akan diampuni oleh Allah dengan mengingat Allah untuk kembali (dzikir) dan memohon ampun (istighfar) serta tidak akan pernah mengulangi perbuatan salahnya (QS. Ali Imran:135). Bersegera minta ampunan kepada Allah atas dosa diperintahkan dan merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa.

Selasa, 20 Januari 2026

Kok Disucikan, Tuhan Sekotor apa, Doel?

Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga kita harus bertasbih?

“Pie, Mplo!!?” respon Doel Semprul agak sewot.

“Ga pie-pie, Doel. Itu bacaan tasbih kan artinya Maha Suci Allah. Nah, dan semua makhluk ciptaan itu bertasbih, termasuk kita disuruh bertasbih. Kan Gusti Alah ra butuh makhluknya, Kok iso ngunu, Doel!!?” jelas Kemplo dengan masih dalah ketululannya.

“Edyaaan Koen, Mplo!!”, Doel Semprull esmosi jiwa sama Kemplo

“Ngene…. Ngene…rungokne”, Doel Semprul coba jelaskan ke Doel Kemplo

“Kita itu disuruh bertasbih di esuk lan sore, wasabbihuhu bukratan wa ashilan (al-Ahzab:42). Di surat lain disebutkan subhanallahi hiina tumsuuna wahiina tushbihuna, bertasbihlah kepada Allah di waktu senja dan waktu pagi (ar-Ruum:17). Bacaan tasbih yang lazim diwiridkan adalah subhanallah (Maha Suci Allah) wal hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu Akbar, ngunu Mplo.  

Selain kalimat tasbih di atas, Nabi pernah ngajari kepada Juwairiyah dengan bacaan yang tak ternilai dengan hanya membaca tiga kali (3x) di waktu pagi yaitu "Subhanallahi wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'Arsy'ihi, wa midada kalimatihi" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, seberat keridhaan diri-Nya, seberat hiasan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.

“Ngunu… diamalke Mplo”, pertegas ke Kemplo.

“Lha yooo,….. Gusti Alah kok butuh tasbihnya kita”, eyel Doel Kemplo yang butuh penjelasan lebih mendalam.

“Butuh kui, … dapurmu, Mplo!!?, umpat Doel Semprul.

Tasbih yang diwiridkan secara rutin (mudawamah) diharapkan mampu men-direct hati dan perbuatan yang dtidak menciderai kesucian Allah swt. Tasbih yang dibaca bukan untuk mensucikan Allah, seperti arti dalam penulisan bahasa Indonesia. Pernah Abu Yazid al-Busthomi mengkreasi bacaan tasbih dengan “usabbihuka ya rabbi; aku sucikan Engkau ya Rabbi” ditegur oleh Allah ketika mengalami mukasyafah. “Ada masalah apa Aku dengan kau, sehingga Aku yang sudah sempurna kau sucikan ya Yazid?”.

“Ngerti Koen!! Sekelas Abu Yazid, jaman wali anyaran wae ngomong “aku sucikan” diomeli ro Gusti Alah, opo maneh awakmu Mplo……!! Balangne ro malaikat Malik ra wis!”, dengan menyitir cerita Abu Yazid al-Busthomi Doel Semprul berharap Kemplo bisa menyadari sesta pikirnya.

Dari cerita Abu Yazid dan arti tasbih dalam bahasa Indonesia, apa yang kita bertasbih bukan untuk mensucikan Allah swt, seperti yang diwiridkan Abu Yazid. Melainkan kita mensucikan diri dari pikiran, hati dan perbuatan yang mengotori eksistensi Allah ta’ala, yaitu tindakan maksiat dan syirik kepada Allah swt. Kita juga mendengarkan ceramah-ceramah agama yang menerangkan bahwa malaikat, hewan, tanaman dan ciptaan Allah bertasbih, dan itu disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’:19-20, artinya: Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. Bagaimana tasbih mereka kepada Allah swt?

Malaikat bertasbih kepada Allah swt, “qwa tara almalaikata haafina hawla alarsy, yusabbihuna bihamdirabbihim….; dan (Muhammad) melihat para malaikat melingkar di sekitar arsy, mereka bertasbih dan memuji Tuhannya… (QS. Az-Zumar: 75). Malaikat bertasbih dengan kalimat subhanallah wa bihamdih. Makna tasbih dengan seluruh aktivitas penciptaan malaikat adalah laa ya'shuna Allah maa amarahum waafaluna maa yu'marun; malaikat tak pernah bermaksiat kepada Allah dan tunduk atas perintah-

Seluruh ciptaan yang ada di langit dan bumi melakukan tasbih kepada Allah swt. Bahkan kita juga sering mendengarkan ceramah-ceramah yang mengatakan bahwa tumbuhan dan hewan juga bertasbih kepada Allah. Ini yang kemudian terjadinya cocokologi, seperti suara hewan dianggap sebagai kalimat tasbih (thayibah). Suara koko ayam jantan “kukuruyuuuk” dikatakan sebagai kalimat “usykurullah; aku bersyukur kepada Allah”. Bagaimana penceramah itu tahu bahasa ayam, kecuali diberikan karunia seperti Nabi Sulaiman yang bisa berbicara pada binatang. Saya memahami bahwa tasbih hewan adalah menjalani takdir penciptaannya sebagai hewan dengan tanpa mengingkari alur penciptaan. Adakah kambing beranak anjing? Atau ular beranak manusia? Tiap hewan yg diciptakan menjalani takdirnya tanpa pengingkaran kecuali Allah yang menghendakinya sebagai pelajaran bagi kita.

Tasbih tumbuhan hampir sama dengan hewan. Mereka menjalani takdir penciptaannya tanpa pengingkaran. Pohon cabe dan tomat tumbuh dalam satu pot, takkan tertukar buahnya. Pohon pisang tak berbuah nangka, dan pohon jeruk takkan berbuah mangga. Begitu pula sungai, gunung, daratan, sahara, laut, rawa dan lainnya juga bertasbih tanpa melakukan pengingkaran atas penciptaannya. Matahari, bintang dan gugusan planet beredar sesuai garis edar penciptaannya. Bagaimana dengan manusia?

Manusia dianggap sebagai makhluk mulia karena dibekali akal dan budi. Dengan status kemuliaannya, manusia tidak flat menjadi orang baik. Manusia bisa baik dan tunduk seperti malaikat, juga bisa ingkar seperti iblis. Manusia juga bisa terjerumus dalam kefasikan karena menuruti nafsunya, setan hanya merayu dan menggoda menunjukkan kenikmatan atas sesuatu agar manusia terjerumus. Manusia makhluk inkonsistensi dalam tasbih Allah, membutuhkan tasbih bukan hanya dalam lisan. Manusia membutuhkan penasbihan diri atas akal pikiran, lisan, hati dan perbuatan dengan ketundukan (hanifan musliman) dan tiada kesyirikan apapun di dalamnya.

“Setelah bertasbih dengan lisan, mulailah tasbihkan akal pikiran, hati dan perbuatan. Bukan Tuhanmu yang kau sucikan, dengan bacaan wiridmu, tulul kamu Mplo!!”, Doel Semprul menutup kalimat setelah panjang lebar menjelaskan.

“Oooooh …. Ngunu tah, Doel?”, jawab Kemplo dengan merasa tak bersalah

“Ngunu Ndasmu!!”, umpat Doel Semprul sambil meninggalkan Pagemblungan untuk cari pengannjal perut.


Sabtu, 17 Januari 2026

Perbanyak Ingat, Doel!!

Orang-orang muknin diperintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah (ya ayyuhalladzina aamanu udzkuru Allah dzikran katsiran). Dzikir secara umum diartikan mengingat dan menyebut Allah swt. Keuntungan mengingat-Nya, kita akan diingat (disebut) oleh Allah (fadzkuruni adzkurkum). Bila kita cermati, dzikr memiliki ragam dalam pelaksanaannya seperti baca al-Quran, shalat, belajar, amal shaleh dan dzikir (wirid).

Al-Quran dinamai al-dzikr, inna nahnu nazzalna al-dzikra wainna lahu lahafidzun: sesungguhnya, Kami yang menurunkan al-dzikra (al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya. Membaca al-Quran, memahami dan menjalankan kandungan al-Quran bagian dari dzikir kepada Allah swt. Kita mencocokkan aktivitas kehidupan dengan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk (hudan).

Shalat merupakan sarana untuk mengingat Allah (fa aqimis shalata lidzikri: maka dirikan shalat untuk mengingatku). Dalam sehari kita wajib melaksanakan shalat lima waktu, juga shalat sunnah maktubah. Di waktu pagi kita bisa mengerjakan shalat dhuha, saat bangun malam menjalankan shalat hajat, tahajud, tasbih, dan witir. Dalam kondisi tertentu kita bisa melakukan shalat sunah mutlak, pada waktu yang tidak diharamkan menjalankannya. Shalat menjadi sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah swt, fasta’inu bis shabri was shalat.

Belajar atau thalabul ilmi atau bertanya kepada ahlu al-dzikr (agama) termasuk kategori dzikir, fas’alu ahla al-dzkr in kuntum la ta’lamun: maka bertanyalah kepada ahlu al-dzikr apabila kalian tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Update pengetahuan (belajar) merupakan kewajiban seorang muslim (thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Belajar yang dikategorisasi dzikir adalah peningkatan keilmuannya dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan serta mendekatkan diri pada Allah swt. Bila proses menambah pengetahuan dengan didampingi ahlu al-dzikr itu termasuk dzikir, maka proses berfikir (tafakkur) juga termasuk di dalamnya. Ada berpikir tetapi tidak termasuk dzikir, yaitu berpikir dalam kemaksiatan, melamun atau thulul amal, dan berpikir untuk meraih ambisi duniawiyah.

Termasuk kategorisasi dzikir adalah amal shaleh (kebaikan). Untuk mengetahui aktivitas kehidupan kita merupakan amal shaleh harus tervalidasi oleh al-Quran, as-sunnah, dan ilmu al-ulama. Menghubungkan tindakan kita dengan tiga sumber tersebut sejatinya mengamalkan ilmu (ahlu al-dzikr) dan proses berfikir (tafakkur). Aktivitas yang tidak didasarkan pada keilmuan akan tertolak (man ‘amila ‘amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun) atau tidak menjadi ibadah atau amal shaleh.

Dzikir secara spesifik diartikan mengingat dan menyebut nama Allah, seperti membaca dzikir bakda shalat, sebelum tidur, dan waktu-waktu lainnya. Pengamal thariqah (tasawuf) minimal membagi dzikir menjadi dua, yaitu dzikir billisan dan dzikir bilqalbi. Dzikir billisan dibaca secara jelas (jahr/jalli) dengan jumlah dan waktu-waktu tertentu. Sedangkan dzikir bilqalbi (sirri/khafi) biasanya menyebut nama Allah dalam hati setelah ditalqin oleh seorang mursyid. Dzikir bilqalbi (sirri) ada yang membagi dibagi menjadi dzikir nafs, dzikr qalbi, dzikr ruhi, dzikr sirri, dzikr khafi dan dzikr akhfa. Macam dzikir ini didalami dan dilakukan oleh para pengamal tasawwuf.

Kalimat dzikir yang dibaca oleh pengamalnya bisa merasuk ke dalam tubuh menjadi perilaku yang taat, tawadhu’ dan penuh kasih sayang. Pengamal dzikir laa ilaha illa Allah bila meresapkan diri, seharusnya menghilangkan semua hal kecuali hanya Allah dan yang terucap dan berdetak dalam jantung “Allah…Allah” atau “Hu…Hu..: Dia Allah”. Kalimat yang dibaca harus diresapi, menjadi bahan tafakur tentang asma’ dan sifatnya Allah, bahkan sifat-sifat baik (asma’ulhusna) menjadi perilaku bagi ahlu al-dzikr. Mereka penyayang (al-rahman al-rahim), penyelamat (al-salam), menjadikan lingkungan aman (al-mukmin), dermawan (al-razaq), dan sifat jamaliyah Allah lainnya.

Rerata pengamal dzikir, rutin terjadwal sebagi ritual untuk mendapatkan kekayaan, kesehatan, keberkahan, dan tujuan duniawiyah lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan guru (mursyid) agar tidak tersesat dan mencapai tingkatan ketakwaan yang tinggi. Guru yang membimbing untuk mencapai ketakwaan tidak sembarang dan asal memilih. Berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat mengantarkan kita mendapatkan guru ruhani yang tepat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan taufik dan hidayah melalui orang-orang shaleh.


Minggu, 09 November 2025

Piket dan Kerja Bakti (rokan) di Sekolah Jangan Dihapuskan

Miris saat melihat lingkungan sekolah yang kotor, kumuh, sampah berserak dan di beberapa tempat ditumbuhi rumput dan semak belukar. Kepala sekolah dan guru gagal menerapkan materi ajar untuk membangun tanggung jawab terhadap masyarakat sekolah yang membiarkan lingkungannya kotor, kumuh dan jorok. Kepala sekolah disibukkan dengan rapat dan rapat, sedangkan guru hanya fokus mengajar. 

Sekolah unggulan menghindari protes orang tua/wali, dengan biaya mahal namun tetap menerapkan budaya feodalisme memanfaatkan anak-anak untuk bersih-bersih sekolah. Ada beberapa orang yang menghitung biaya pendidikan dengan layanan yang diberikan oleh sekolah. Secara tak sadar anak-anak hanya datang, mengikuti belajar mengajar di kelas dan kemudian pulang selama masa studi.

Di beberapa sekolah, menghapuskan jadwal piket (bersih-bersih) kelas untuk memperoleh fokus belajar. Padahal kita bisa mengamati, betapa anak-anak akan bangun pagi dan berangkat lebih awal untuk menunjukkan tanggung jawabnya saat jadwal piketnya. Sekolah juga sudah tidak lagi mengadakan kerja bakti siswa, dulu diistilahkan “Jumat Bersih”. Kegiatan tersebut bukan sebagai seremonial belaka yang fungsinya sudah diambil oleh Tukang Kebun atau Cleaning Servis. Jumat Bersih merupakan bagian dari penanaman budaya kebersihan, rasa memiliki terhadap tempat belajarnya, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Di sekolah sudah tidak diberi tanggung jawab, di rumah juga akan lebih sulit orang tua menyuruh anak-anaknya untuk menyapu dan bersih-bersih rumah. Mereka hanya fokus pada gadget dan malas gerak (mager) untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Sementara ada hasil riset yang dilakukan selama 75 tahun oleh Harvard University, bahwa anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga akan memiliki peluang meraih kesuksesan di masa dewasa.

Coba Kita amati, mba-mba atau mas-mas penjaga Alfa atau Indomart. Mereka menata dagangan, menyapu, membersihkan kaca, sopan melayani pembeli dan menjadi kasir bahkan merangkap sebagai securiti. Kita mungkin menilai hal demikian sebagai bentuk eksploitasi, karena perusahaan tidak mau rugi. Di sisi lain, perusahaan ingin membangun kecintaan karyawan terhadap lingkungan dan pekerjaannya. Seakan ingin mengatakan “Kamu mendapatkan penghasilan dari toko, maka Kamu harus layani dan jaga baik-baik tempat penghasilanmu”.

Nah, dengan melihat mekanisme kerja di atas, sekolah/madrasah seharusnya bisa membangun tanggung jawab, rasa cinta terhadap tempat belajarnya, menjaga kenyamanan belajar, menjadikan siswa dan orang tua sebagai sales marketing (kepuasan layanan), disiplin, hormat pada guru dan orang yang lebih tua, kemandirian (kemampuan mengurus diri), peduli sesama, cinta tanah air dan bangsa melalui proses belajar mengajar dan habbituasi yang mengarah pada pencapaian tujuan tersebut. Penguasaan mata pelajaran bisa dicapai dalam waktu singkat, namun masa studi jangan disia-siakan hanya untuk penguasaan materi dengan nilai-nilai bagus di raport namun tidak berkarakter.

Salah satu kagiatan untuk bangun karakter tanggung jawab, penanaman kebersihan, cinta terhadap tempat belajar, dan menjaga kenyamanan belajar adalah piket kelas dan kerja bakti. Kerja bakti di pesantren dikenal dengan rokan, yang berasal dari tabarukan atau mencari berkah dari kontribusinya pada pesantren yang akan menjadi jariyah para santri. Tabarukan atau ngalap berkah atas keikhlasan kiai yang mengajarkan ilmu agama. Menjalankan piket kelas, dan kerja bakti di sekolah juga menjadi keberkahan sendiri bagi para siswa tentunya melalui teladan para guru dan pemangku sekolah. Sehingga tidak hanya capaian akademik yang baik, juga terbangun budaya atau habbit yang baik di sekolah yang akan mengkarakter pada individu siswa yang bermanfaat kelak nanti (AB09112025). 

Sabtu, 08 November 2025

Mungkinkah Dibentuk Pesantren Desa?

Pesantren memiliki lima unsur yaitu; Kiai, Santri, Masjid, Kitab Kuning (kurikulum), dan pondok sebagian menambahkan adanya maqbarah para muassis (makam pendiri). Pesantren dikenal dengan kemandiriannya, terintegrasi dengan masyarakat, dan tidak menggunakan pendekatan klasikal melainkan sorogan dan bandongan serta menganut ketuntatasan dalam pembelajaran (mastery learning). Ciri lain pesantren adalah moderat, mengajarkan cinta tanah air dan bangsa serta menghargai keragaman. Dalam perkembangannya, pesantren dibedakan dengan pesantren modern (kholaf) dan tradisional (salaf/slafiyah). Pesantren modern memadukan antara pendidikan umum dan kajian kitab kuning sedangkan pesantren tradisional (salaf/salafiyah) hanya kajian kitab kuning. Apakah ciri-ciri dan karakter ini bisa diimplementasikan dalam lingkungan yang lebih luas dan komperhensif, yaitu di Desa.

Secara umum, desa memiliki masjid jami’ dan mushalla-mushalla di RT atau RW. Desa memiliki Kiai Kampung, dan ada tradisi keagamaan yang melekat di masyarakat. Di desa terdapat pengajian al-Quran, TPQ, Madrasah Diniyah, dan pengajian rutin. Pendidikan dilakukan dari anak usia dini hingga usia lanjut. Rumah penduduk merupakan pondok/kobong santri (masyarakat). Desa juga memiliki satuan pendidikan umum seperti Pendidikan anak usia dini (KB & TK/RA), SD/MI, dan sebagian memilki SMP atau MTs.

Untuk mengaplikasikan karakter pesantren dalam kehidupan masyarakat, harus didesain bersama, menyusun visi dan misi bersama serta mendesain kurikulum bersama. Desain kurikulum harus dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, anak-anak, remaja, dewasa hingga usia lanjut baik keagamaan maupun pendidikan umum sehingga ada keseimbangan antara kebutuhan keagamaan dan pendidikan umum. Untuk diimplementasikan di desa, lebih cocok menggunakan karakteristik pesantren kholaf (modern).

Selain kurikulum dan vokasi/keterampilan, membutuhkan pemimpin spiritual (kiai) yang disegani oleh masyarakat disamping penguasaan kitab kuning. Penirian Pesantren Desa membutuhkan pemimpin struktural yang kuat dan bisa merangkul seluruh lapisan masyarakat serta mampu bekerjasama dengan pemimpin spiritual untuk membuat kebijakan yang mendukung pembentukan sebuah desa pesantren atau desa madani atau qaryah thayyibah dalam bingkai pesantren.

Membangun masyarakat pesantren tidak semudah mendirikan bangunan pesantren penuh fasilitas kemudian membuka pendaftaran para guru, santri dan pelaksanaan pembelajaran. Tradisi baik dalam pesantren yang akan dipraktikkan dalam lingkungan masyarakat yang heterogen membutuhkan waktu dan pendekatan serta kekuatan spiritualitas pemimpin desa. Desain kurikulum terpadu antara pendidikan umum dan keagamaan harus linier dengan praktik keagamaan serta teladan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Bila kepala desa dianggap sebagai lurah pondok, maka dia harus bertanggung jawab mengawal masyarakat (santri) belajar dan mempraktikkan keagamaan dengan baik. praktik keagamaan tidak hanya shalat jamaah, shalat sunnah, zakat, puasa, dan ibadah lainnya termasuk akhlakul karimah masyarakat. Tokoh agama harus menjadi teladan dan sumber ilmu bagi masyarakat. Santri (masyarakat) yang menyalahi adat istiadat atau etika kemasyarakat terkena hukuman sosial (takzir), maka para pemimpin harus berintegritas serta mampu menjadi teladan.

Di pesantren, semua santri yang hadir atau dipaksa hadir oleh orang tuanya harus memiliki satu tujuan yaitu menuntut ilmu dan mengikuti tata aturan dalam pesantren. Nah, masyarakat desa harus membangun kepentingan dan tujuan bersama, yang akan memudahkan dalam membentuk Pesantren Desa tersebut.

Pesantren Desa bukanlah sebuah projek sesaat, melainkan membangun masyarakat dengan mengimplementasikan nilai-nilai yang dikembangkan pada pesantren. Nabi Muhammad saw, bisa mendirikan kota Madinah dengan pemerintahan yang penuh teladan kenabian dan petunjuk (al-Quran). Kita tidak memiliki effort prophetic, yang dapat kita lihat adalah praktik yang dilakukan para kiai yang mengasuk pesantren dengan ciri-ciri di atas yang dimungkinkan dapat dikembangkan dalam lingkungan masyarakat yang beragam.

Senin, 11 Agustus 2025

Sumber Jariyah Tak Putus Pahala

Kita sering mendengar para muballigh menyampaikan amal jariyah yang pahalanya tidak terputus meskipun orangnya sudah meninggal. Satu, shadaqatun jariyatun atau sedekah jariyah. Yaitu, sedekah maliyah yang tetap mengalir pahalanya karena sesuatu yang disedekahkan masih difungsikan untuk ibadah. Kedua, ilmu bermanfaat. Ilmu (agama) atau pengetahuan yang kita berikan kepada orang lain dan dengan ilmu tersebut mereka melakukan kebaikan. Ketiga, doa anak yang shaleh kepada orang tuanya. Anak-anak shaleh merupakan deposito pahala yang akan selalu mengalir kepada orang tuanya, sebab didikan baik orang tuanya.

Dari ketiga sumber pahala tersebut, paling instan adalah menyumbangkan sejumlah uang atau barang ke masjid atau lembaga pendidikan. Dan motivasi para muballigh menyampaikan sumber pahala ini, bukan tidak mungkin juga agar masjid/mushalla dan lembaga pendidikan maju termasuk milik mereka. Bila kita memiliki kekayaan harta, alihkan ke pembuatan jalan, lembaga pendidikan, pembukaan lapangan kerja, dan fasilitas-fasilitas yang dapat meringankan masalah orang lain, selain untuk pembangunan rumah ibadah.

Ilmu (agama) tidak semua orang ahli di bidang tersebut, kecuali ahli agama seperti mufti, ulama, dan kiai. Lebih banyak dari kita mengetahui pendidikan agama dasar untuk pengamalan agama yang kita anut dengan baik, tidak sebagai pendidik (allim allamah). Yang ketiga, kita tidak yakin menilai diri kita sebagai orang yang shaleh yang doanya dapat memberikan aliran pahala kepada orang tua kita. Fenomena di masyarakat, kita akan mengundang orang-orang sekitar dan pemimpin agama untuk hadir mendoakan orang tua kita yang sudah mati sebagai bentuk pengakuan bahwa doa mereka lebih baik daripada doa kita (merasa).

Selain ketiga sumber pahala di atas, jarang kita melihat muballigh menyampaikan sumber pahala lain yang tidak pernah putus. Sumber tersebut adalah jariyah sosial dan lingkungan. Jariyah sosial adalah tindakan keteladanan dalam membentuk peradaban madani sehingga menjadi daerah atau wilayah yang baik (baldatun/qaryatun thayyibatun) dan Allah selalu memberikan pengampunan atau permakluman atas perilaku masyarakatnya (warabbun ghafur). Suatu tindak keteladanan seseorang yang kemudian membudaya menjadi tradisi baik, akan menjadi sumber pahala yang tak pernah putus sepanjang peradaban baik tersebut masih berjalan.

Rasul saw., menyampaikan dalam riwayat imam Muslim ra, “man sanna sunatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amilabiha ba’dahu min ghairi ‘an yanqusa min ujurihim syai’un”. Barang siapa melakukan tindakan yang baik, dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang-orang yang mengikutinya. Menciptakan peradaban baik, adalah sumber pahala yang tak pernah putus dari praktek sosial masyarakat. Satu tindakan baik kita yang menjadi tradisi baik, merupakan sumber pahala jariyah kita yang tak pernah putus. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan budi baiknya.

Sumber lainnya adalah jariyah bi’ah, atau jariyah lingkungan. Yaitu menciptakan lingkungan yang memberikan kemaslahatan bagi manusia, binatang, ekosistem, konservasi air tanah, ketersediaan oksigen (O2) dan unsur lingkungan lainnya. membiarkan kerusakan lingkungan bagian dari kontribusi fasadun fi al-ardh. Dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, “Tiada seorang Muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu dimakan oleh burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya.”

Orang yang menanam pohon atau biji, ketika tumbuh besar dan berbuah kemudian baginya pahala yang tak pernah putus selama pohon yang ditanamnya memberikan manfaat. Kita hitung kasar manfaat satu pohon dewasa. Dalam satu lembar daun paling tidak mengeluarkan 5 mililiter O2/Jam. Pada mohon tersebut hidup, semut, ulat, dan serangga, yang dapat mengundang burung untuk datang mencari makan. Bila pohon berbuah, akan mengundang burung, kelelawar, lalat buah, dan manusia sebagai penikmat buah tersebut. Akar pohon menyimpan air tanah, dan memberikan kehidupan organisme dalam tanah seperti cacing dan bakteri pembusuk tatkala daun-daun berguguran. Dan masih banyak kemanfaatan lain dari satu pohon yang kita tanam.

Dari sumber-sumber pahala jariyah di atas, kiranya kita dapat melakukan satu diantaranya dalam sepanjang umur kita, sedekah jariyah, menyampaikan ilmu, jariyah sosial dan jariyah bi’ah atau lingkungan. Jalani semua atas dasar keasadaran sebagai manusia yang memilki tanggung jawab di bumi (khalifah fil ardl) yang memiliki dasar agama dan pengetahuan yang untuk kemaslahatan ummat.

Sabtu, 26 Juli 2025

Cerewet: Alarm Cinta Seorang Ibu

Pagi buta kita sudah mendengar omelan ibu sambil terdengar “glomprang” suara perabot yang sedang dicucinya. Bila kita tak beranjak juga, akan terdengar teriakan panggilan dan sumpah serapahnya. “Subuh belum bangun, nanti mau jadi apa!!” lanjut “nanti rejekimu dipatuk ayam”. Belum lagi omelan saat kita tidak membantu pekerjaan rumah, jualan, tidak belajar dan tidur malem. Bahkan saat kita sudah merasa dewasa, omelan sayang ibu dianggap keterlaluan.

Meskipun kita sudah dewasa bahkan sudah menikah dan memiliki keluarga besar sendiri. Tetaplah seorang ibu menganggap kita sebagai anak-anak (anaknya) yang perlu dikhawatirkan bertindak salah dan ceroboh. Sehingga kita tidak nyaman atas tindakan Ibu yang anggap turut campur urusan kita dan merasa tidak nyaman atas kecerewetannya. Nasehatnya terkadang tidak sesuai dengan nalar kita, sehingga membutuhkan energi untuk menahan emosi.

Cobalah berpikir dengan baik dan cermat, “Kenapa kita tidak marah atas suara sama dan keras alarm yang bangunkan kita di pagi buta dan berulang tiap hari?” bahkan dengan sengaja kita setting alarm tersebut.

Tidakkah kita anggap kecerewetan Ibu itu sebagai alarm, pengingat kita, bentuk rasa sayangnya pada kita, dan ada yang dilihat seorang Ibu yang tidak kita ketahui. Sebagai orang yang memberikan Asi, mendidik dan mendampingi kita hingga bertahun-tahun, Ibu sangat memahami karakter kita. Rasa sayangnya yang tinggi diwujudkan dalam kecerewetannya merupakan anugerah bagi kita.

Janganlah marah, jangan ditentang dan sakit hati, senyumi dan ambil tindakan yang tidak menyakitkan hatinya. Kerelaan Ibu (orang tua) menjadi jalan keridhoaan Allah swt. Frekuensi dan power kecerewetan bisa nambah level saat Ibu kita bertambah usia. Cobalah diingat dan refleksi diri, betapa sabarnya seorang Ibu yang momong kita dengan sabar dari kenakalan kita. Dia menjaga kita dari ketidaklaparan, dia menangis mendoakan kita agar sukses dan menjadi orang yang bermanfaat.

Setelah kita sukses dan menjadi orang yang bermanfaat, kita lupa dan abaikan jasa ibu. Dan hanya melihat kecerewetannya belaka. Kesombongan kita bertambah dengan merasa kesuksesan itu karena usaha dan ikhtiyar kita. Bila Tuhan tidak memberikan rasa sayang pada kita, bisa saja kita dicekik mati dan ditelantarkan. Ibu kita dengan susah payah membesarkan kita, dia rela tidak makan untuk sekedar anaknya kenyang dan tidak menangis.

Bila kalian masih punya orang tua, jadikanlah dia pusaka yang diletakkan di hati kalian dan berbuat baiklah kepada mereka (birrul walidain). Bila telah tiada, kunjungi makamnya sebagai bentuk perhatianmu pada mereka. Doakan tiap saat, hadiahkan amal untuk mereka, sebab kalian tidak akan bisa mengirimkan pizza, roti, sate, nasi goreng dan lainnya kecuali sudah ditransformasi menjadi amal (sedekah) untuk mereka. Tiada hadiah yang berharga bagi selain doa dan kesalehan kita. Shaleh adalah proses transformasi menuju kesempurnaan (insan kamil).

Senin, 09 Juni 2025

Ikrar Pembuka Shalat Yang Terabaikan

Doa iftitah bukan menjadi rukun shalat, namun penting kita renungkan bagi yang mengamalkannya. Kita hanya melafalkan seperti mantra atau tahu artinya tanpa mengamalkan maknanya. Seumur hidup tidak mengalami peningkatan ilmu, padahal mencari ilmu itu wajib bagi tiap-tiap muslim (thalabul ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Hal ini menjadi tantangan bagi pengurus masjid dan mushalla, tidak hanya memperbaiki gedung dan interiornya, juga meningkatkan pemahaman keagamaan jamaahnya.

Setelah takbiratul ihram, kemudian membaca kabiran wal hamdulillah katsiran yang kurang lebih artinya keagungan dan pujian bagi Allah yang tak terkira. Katsiran itu banyak, berapa kali kita bertakbir, paling tidak 90 kali bertakbir dalam shalat wajib, bila dengan dzikir bakda shalat, menjadi 255 kali kita bertakbir setiap hari.

Manifestasi dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mengerdilkan asma wa shifat Allah dalam ucapan, pikiran, perasaan dan tindakan. Menghawatirkan diri tidak memperoleh rizki adalah salah satu bisikan halus tidak percaya Allah yang maha pemberi rizki (al-Razaq). Kita secara tak sadar keluh kesah kita “blandrang” alias kebablasan hingga mengerdilkan Allah bahkan menghilangkan eksistensinya. Kita juga melakukan hal yang dilarang dengan menyepelekan  keberadaan Allah, dengan mengatakan “ah gampang nanti tobat” sambil kecengesan.

Kalimat hamdalah (alhamdulillah) sebagai ucapan ringan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat hidup dan fasilitas tanpa bayar yang diberikan-Nya. Lebih mendalam lagi kalimat tersebut tak hanya dibaca saat sadar merasakan nikmat dan pengantar dalam doa. Kita harus menggunakan nikmat tersebut untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, menebar kebermanfaatan bagi sesama ciptaan-Nya paling tidak kenikmatan yang kita rasakan tidak digunakan untuk membuat kerusakan di bumi (yufsiduna fil ardh).

Wasubhanallahi bukratan wa ashilah, dan menasbihkan diri di pagi hingga sore hari. Apakah kita selalu bertasbih, dalam sehari minimal 318 kali bacaan tasbih. Bila makna tasbih itu “maha suci Allah”, sementara Allah tidak membutuhkan bacaan kita mensucikan-Nya. Mungkin kalimat itu untuk mengontrol pikiran, perbuatan dan rasa kita dari merendahkan dan mensyirikkan Allah swt., serta tidak melakukan perbuatan yang dilarang.  

Inni wajjahtu wajhiya, lilladzi fathara al-samawati wal ardhz hanifan musliman, sesunguhnya kuhadapkan diriku ke arah-Nya, Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan ketundukan dan kepasrahan. Dalam aktivitas sehari-hari tidak boleh berpaling dari-Nya, semua tindakan hanya tertuju kepada Allah swt (lillahi ta’ala). Dengan bacaan tahlil (laa ilaha illa Allah), kita harus melatih diri semua yang selain Allah itu hilang (fana). Apakah tindakan kita sudah demikian? coba dipikir-pikir dan diresapi kembali (muhasabatun nafs).

Wama ana minal musyrikin, dan saya bukan bagian dari orang-orang yang mempersetukukan-Nya (musyrikin). Kita sendiri menyatakan bukan bagian dari orang-orang musyrik, benarkah kelakuan kita demikian? Mestinya kita sudah paham yang dimaksudkan syirik dan resikonya yang tidak akan pernah diampuni dosanya. Tindakan itu dari yang lembut (khoufi) seperti riya’ (pamer) hingga terang-terang (jally) dengan bertuhan kepada selain-Nya.

Inna al-shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin, sesungguhnya shalatku dan ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah, pembimbing (rabb) seluruh alam. Coba dipikir kembali, bagaimana shalat kita, untuk siapa dan apa yang diharapkan? Dalam shalat diupayakan khusuk, dan memiliki self impact pencegahan dari perbuatan keji dan munkar.  Sembahyang merupakan persembahan diri kepada Sang Hyang (Allah swt) tanpa syarat dan mengharap imbalan. Pahala, surga, ketenangan, kesehatan dan lainnya adalah konskuensi yang didapatkan dari praktik yang hanifan musliman, bukan menjadi tujuan. Ingat …! Siapa menjadikan dunia dan niatan lainnya menjadi tujuan, maka mereka hanya mendapatkan hal yang dituju tersebut. Sebaliknya, barangsiapa Allah menjadi tujuannya, maka mereka akan mendapatkan dunia dan akhirat seisinya.

Laa syarika lahu wabidzalika umirtu wa ana minal muslimin, tidak ada persyirikan terhadap-Nya dan yang demikian diperintahkan dan saya bagian dari orang-orang yang tunduk (taslim). Sekali lagi tidak mempersekutukan disebut kembali, dan dinyatakan bahwa saya bagian dari orang yang tunduk atau damai. Artinya, tunduk menjalankan shalat dan ibadah lainnya dengan tanpa mensyirikkan dan melupakan Allah swt. Pesan untuk tidak meninggalkan dunia dalam keadaaan tidak tunduk (muslim), wala tamutunna illa wa antum muslimun dan hanya orang-orang yang muthmainnah (tenang jiwanya) yang dapat kembali kepada Allah swt. Silakan dipikir kembali, dalam kehidupan kita apakah sudah benar tindakan kita dalam kerangka tersebut?

Doa ifititah sebagai ikrar pembuka dalam shalat juga menjadi ikrar kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Shalat yang tepat adalah yang memberikan self impact pencegahan perbuatan keji dan munkar diri serta dapat menciptakan harmoni masyarakat dan alam sekitar dalam kehidupan. Shalat memiliki hubungan transendental secara vertikal dan horisontal. Secara vertikal, shalat merupakan dialog kawulo lan Gusti (al-shalatu mi’rajul mukminin). Setiap persoalan yang kita hadapi, dengan shalat kita mengkomunikasi dengan Allah (wasta’inu bi al-shabri wa al-shalah). Secara horisontal, shalat harus bisa menuntun pelakunya menjadi orang yang baik yang menebarkan kedamaian.

Setelah kita membaca setiap shalat, mari kira renungi untuk memanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan rukun, namun secara mendalam dapat menuntun dan mengingatkan kita atas ikrar iftitah shalat untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari hingga nanti kembali (ruju’) kepada Allah swt, dengan selamat.

Selasa, 03 Juni 2025

Semangat Jamarat, Jamaah Tersesat

Jamaah Haji Menuju Jamarat 2019

Satu kelompok terbang terdapat 395 jamaah dengan 25 persen resti dan lebih dari usia 60 tahun. Kami sangat menjaga mereka agar tetap sehat dan semangat menunaikan wajib dan rukun haji serta sunah-sunahnya. Setelah tiba di Mina, kita atur jadwal agar jamarat sesuai jadwal yang ditentukan dari pemerintah Arab Saudi. Meskipun demikian, ada pula yang Subuh hari sampai Mina, langsung jumratul ula seusai jamaah shalat subuh.

Di hari kedua, sepasang pengantin yang menua bersama dengan semangat berangkat untuk jamarat (jumratul wustha) dari mulai berangkat saya tidak melepaskan pandangan saya dari sepasang orang tua tersebut. Sekembali menuju tenda kita, saya berjalan di belakang kedua orang tersebut, sambil sesekali memastikan kondisi pasangan tua harmonis tersebut.

Saya       : “masih kuat, Bapak?”

Bapak    : “siaap, masih kuat Mas”, sambil menunjukkan tangan terkepal.

                  Kedua orang tersebut berjalan semangat dan bahagia mampu menyelesaikan

                  jumratul wustha, ada kebanggan nampak di raut wajah keduanya. Saya dekati

                  kembali, dan bertanya:

Saya       : “masih kuat, Bapak? Bila lelah, istirahat dulu nanti dilanjutkan kembali”

Bapak    : “tidak apa-apa, mas. Insyaallah masih kuat sampai tenda”

Setelah ketiga kalinya saya bertanya, jamaah dari berbagai negara tumplek-plek, dan saya kehilangan pasangan harmonis tersebut. Sambil berjalan, mata saya mengawasi dalam keramaian mencari mereka, hingga berputar kembali menuju tenda kami tidak menemukan Bapak tersebut. Setelah cukup lama bertanya-tanya, bertemu bapaknya dan nampak bapak tersebut kelelahan sambil kipas-kipas.

Saya       : “Kok baru sampai, Bapak?”

Bapak    : “iya mas, saya nyasar sampai ke tenda-tenda orang Malaysia, Thailand, dan

                  Piliphine”. Saya duduk kecapekan, bertemu dengan orang Indonesia diantar

                  kembali ke tenda”

Saya       : “hehehe….”, saya tertawa kecil sambil mengingat, kejujuran orang tua ini pun bisa

                  menyasarkan, selembut itu dibaca lain oleh Allah.

               “Baik, Bapak. Yang penting sudah sampai, tetap jaga kesehatan dan terus semangat

                 beribadah”


Saya duduk termenung, ada apa dengan semangat pasangan itu? Mungkinkah terbersit rasa percaya diri yang menihilkan Tuhan dalam semangatnya? Atau disorientasi karena crowded, dan berada di tempat baru, sehingga lupa rute jalan. Kita harus tetap menyertakan Tuhan dalam ucapan, perasaan dan tindakan, menghindari sombong, riya’ dan perasaan lain yang menihilkan Tuhan. Saat di Mina, hafalkan rute dan tandai saat berangkat agar kembali pulang tidak tersesat. 


Minggu, 01 Juni 2025

Sok Nasehatin, Diuji Bau Ketek

Survei Arafah, Muzdalifah & Mina

Sebelum survei lokasi di Arafah, Muzdalifah dan Mina di pagi harinya kami berkoordinasi dengan seluruh ketua rombongan dan regu serta jamaah. Hal yang disampaikan itenary selama Armuzna, strategi, dan sikap yang harus diantisipasi terutama untuk menjaga tiga hal yaitu rafats, fusuq dan jidal.

Kami menyampaikan detail jadwal dan strategi dengan mengikuti sekenario Allah dengan kepasrahan (tawakkal) yang dimungkinkan tiap detik, menit dan jam yang bisa berubah entah karena keadaan atau memang Allah menguji kesiapan jamaah untuk menjaga kemurnian peribadatan. Ada satu ketua rombongan (Karom) berpangkat kolonel, yang menghendaki jadwal harus ditaati dan dijalankan sesuai dengan rencana. Kami memahami bahwa bagaimana tentara dididik berdisiplin dengan waktu. Kami jelaskan dan didukung oleh para Karom yang sudah berulang kali membimbing haji di tanah suci. Kita sebagai tamu tidak bisa atur-atur si tuan rumah dalam melayani dan menjamu tamu.

Setelah penjelasan petugas pembimbing ibadah, giliran saya menyampaikan strategi untuk mengendalikan diri agar tidak berucap, berpikir dan berkehendak hati yang negatif terhadap orang lain.

Saya    : “Bapak/Ibu, selama Armuzna kita memiliki keterbatasan untuk mandi, apabila

    tercium bau ketek, jangan pernah terbersit di dalam hati, hingga mengucapkan

    kalimat kotor yang menyinggung orang lain”.

Jamaah            : “baik, Pak Ketua”

Saya belum pernah mengikuti rangkaian Armuzna, tetapi sok tahu dengan menjelaskan keadaan riuhnya jamaah dan saya menasihati jamaah tidak mengendalikan emosi selama rangkain tersebut.

Setelah pertemuan pagi, petugas kloter dan perwakilan Karom melakukan survei. Saya duduk kursi baris kedua dari belakang. Bis melaju menuju Arafah, di tengah perjalanan tiba-tiba tercium bau ketek yang sangat menyengat seperti beberapa hari tidak mandi.

Saya    : “Hahahaha…….belum ada sehari, langsung dibalas dan diuji”, saya ketawa sendirian

    sambil buat status di watshap.

Saya    : “makanya jangan sok tahu nasehatin orang,….hahahah”, saya menertawakan diri

    sendiri. Sampai kembali ke hotel, saya cerita sambil tertawa ngakak di kamar hotel.

Tak pernah terpikir nasehat yang saya sampaikan diuji oleh Allah swt, “apakah kamu bisa melakukan tentang apa yang kamu katakan? Jangan Jarkoni (iso ngajar ora biso nglakoni)”. Hal yang seperti itu saja telah dibayar tunai. Kejadian tersebut mengingatkan saya agar tidak sok tahu, tidak menyampaikan apa yang tidak tahu, dan berhati-hati dalam berbicara.


Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...