Di era millenial kita diperkenalkan dengan istilah jaman old
dan jaman now, sebuah perpaduan lucu-lucuan atau karena seringnya orang
Indonesia mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan.
Padahal saat ini yang disebut sebagai jaman now, pada waktunya akan menjadi jaman
old di era generasi berikutnya.
Jangan percaya tulisan-tulisan ini dan Penulisnya. Percayalah pada Tuhanmu, bila engkau dapat mengambil pelajaran bukan karena Penulis atau tulisannya melainkan Tuhan yang memberimu pemahaman.
Senin, 10 Desember 2018
Rabu, 08 Agustus 2018
Selasa, 03 Juli 2018
GILA, Kau akan Merdeka
Banyak orang yang menyalahkan ketidak-nyenyakan tidurnya karena tidak di kasur, springbed, kasur busa, ber-AC atau tidak dkeloni sama suami atau isteri dan seabrek alasan lainnya. Cobalah kita lihat orang-orang gila yang tidur dimana tempat tanpa kasur, AC, kasur busa atau deng isteri/suaminya.
"Iyalah, pantas! wong dia GILA!"
Bukan karena kegilaannya!, melainkan karena ketiadaan berpikir rasa lelap karena semua alasan di atas. Bila kita bisa meniadakan ketakutan dan kehawatiran yang ada dibenak kita, maka merdekalah kita dari penjajahan rasionalitas.
Belajarlah pada mereka yang membebaskan rasionalitasnya denagn keyakinan yang teguh pada Tuhan yang menguasasi diri kita.
(DZ al-Qishud)
Jumat, 13 April 2018
Ra Ngandel, Koen Modaroo wae Booo!!
“Doel, saya dibidngah-bidngahkan bahkan dituduh syirik dan dianggap doa
saya terhadap simbok ga sampai. Bener ga Doel?”, Rasbo mengadu pada
Doel Zemprull sepulang ziarah kubur simboknya.
“Kok kamu ga percoyo dengan dhawuhe Kiai Ahmad, Bo?” Malah kamu gampang ragu dengan pernyataan mereka. Mbok kamu itu punya prinsip dalam menjalankan perintah-perintah agama. selain itu kamu juga harus melibatkan rosomu, ojo mung anggo utek lan emosi.”, Doel coba menenangkan Rasbo.
“Kok kamu ga percoyo dengan dhawuhe Kiai Ahmad, Bo?” Malah kamu gampang ragu dengan pernyataan mereka. Mbok kamu itu punya prinsip dalam menjalankan perintah-perintah agama. selain itu kamu juga harus melibatkan rosomu, ojo mung anggo utek lan emosi.”, Doel coba menenangkan Rasbo.
Sabtu, 07 April 2018
Harapan Ahli Kubur
Pernahkah kita
berempati pada orang-orang mati. Mereka tidak bisa membalasa rasa empati kita,
namun rasa kita dibutuhkan mereka. Coba kita berpikir sebagai mereka yang
berada dalam liang kubur, memperoleh siksa hingga menunggu hari kebangkitan. Terhadap
keluarga kita bisa melakukan ziarah kubur, tahlilan, dan sedekah untuk keluarga
kita. bagaimana dengan orang lain, bukan sanak-saudara kita? Saat kita ziarah, khikmah
apa yang anda ambil saat melihat atau saat ziarah kubur?
![]() |
| Add caption |
Kira-kira, apa yang kita butuhkan bila kita menjadi mereka (yang mati)?
Amal ibadah kita? doa yang hidup? Atau apa!? Amal ibadah kita serentak terhenti saat kita tercabut nyawanya, kecuali tiga amaliya; sedekah jariyah, ilmu bermanfaat dan anak yang shaleh. Pahala ketiga amaliyah tersebut akan mengalir meskipun kita telah bersemayam di kuburan, hingga tiga aset amaliyah kita tidak bermanfaat lagi.
Bagaimana
bila kita tidak memiliki ketiganya?
Kita berharap
kaum muslimin berdoa dengan men-cawel kita, menyebut dalam rapal doa
dengan “.....muslimiin-muslimaat, mukminin-mukminaat”. Disanalah mereka
akan berebut doa-doa tersebut, seperti memperebutkan makanan. Pernahkah anda
melihat pesta gunungan yang diperebutkan oleh masyarakat, begitulah gambaran
sederhananya. Benarkah kita memperoleh jatah? Karena keislaman dan keimanan
kita yang dimungkinkan tidak masuk dalam kelompok-kelompok tersebut.
Beruntunglah
bagi mereka yang sholeh dan sholehah, karena di setiap bacaan tahiyat mereka
disebut “...assalamu ‘alaina wa’ala ‘ibadillahi ash-shalihin”. Sebanyak
sembilan kali untuk seorang muslim taat akan mendoakannya melalui bacaan
tahiyyat/tasyahud dalam shalat maktubah. Akan semakin banyak didoakan apabila
seorang taat mengerjakan shalat-shalat sunnah. Dan akan dilipatgandakan dengan
jumlah muslim di seluruh penjuru dunia.
Bila kita tak
memiliki tiga aset amaliyah, bukan termasuk orang sholeh dan ketidakjelasan
status muslim dan mukminnya kita. Apa yang akan kita harapkan?
Berharap pada
anak-anak kita yang berusaha mengundang tetangga untuk mendoakan kita dengan tahlilan,
menghadiahkan pahala sedekah/infak/wakaf untuk kita, dan usaha mereka untuk
menjadi orang yang baik.
Bila tidak
ada yang melakukan semua itu, apa yang hendak kita harapkan?
Hanya tangisan
setiap saat hingga menjelang hari kebangkitan. Berharap ada orang shaleh yang
lewat di depan kubur kita dan mendoakan keselamatan kita. Untuk itu ber”uluk
salam”lah kepada para ahli kubur saat kita melewati kuburan. Semoga memberikan
manfaat bagi mereka yang membutuhkan dan berharap doa dari sanak keluarganya.
Minggu, 31 Desember 2017
Sapi Nasrani, Mbokne Majusi dan Malaikat Yahudi
“Dulur-dulur,
nanti malem pergantian tahun masehi. Kira-kira kita mau ngapain, yaaak”,
tanya Doel Semprull pada dulur di Pagemblungan.
“Doel, bukannya membunyikan lonceng sama dengan kaum nasrani?”, tanya Kemplo.
“Iya, Doel. Kata penceramah mushalla sebelah, bermain kembang api itu
seperti orang Majusi. Dan membunyikan terompet seperti orang Yahudi,
gimana Doel?”, sambung Rasdan.
“Wong EDAAAAAN!!”, Doel Zemprull
“Sopo Doel!?”, tanya Kemplo penasaran. “Penceramah tadi ya, Doel?”, lanjut Kemplo
“Kowe kabeh sing podo UEEDAAAAN!!!”, sergah Doel jawab pertanyaan Kemplo
“Makanya otak itu digunakan untuk berpikir, jangan ditaruh di dengkul apalagi di silitmu (pantat). Punya mata yaa mbok digunakan untuk baca,....iqra’...iqraaa’...
"Dan kalau kupingmu (telinga) masih waras lhaaa mbok banyak ngaji!!”, Doel mencoba menjelaskan bahwa akar masalahnya pada ketidak-tajaman dalam menganalisa karena kurangnya ilmu.
“Apa hubungannya, dengan kita-kitaaa!?”, Rasdan masih penasaran.
“Coba kamu lihat, sapine Wastono,....ada klintihingane guidee (lonceng) kaaan!?, opo gok arep diarani Kristen opo Nasroni?. Jajal mbok pikiren, anggo utekmu!!”, Doel memulai mengambil contoh yang ada di sekitar kehidupannya.
gambar dari website pixaboy; https://pixabay.com/en/cow-cow-bells-sky-blue-feldberg-245691/
“Mbokmu, kalau mau ke mushalla pake obor bambu atau klaras untuk penunjuk jalan. Opo Koen lilooo (rela), kalau Mbokmu dianggep Majusi?”, Doel masih mencoba membuka cara berpikir temen-temen di Pagemblungan.
“Yooo,....gaah, ora keree...tak JOTOSI sik ngarani Mbokku!”, jawab Rasbo.
“Teruuuus, yen arep kiamat Malaikat Israfil niup terompet guideee (sangka-kala), teruuuusss Koen arep ngarani Malaikat Isrofil iku Yahudi!?”, lebih dalam lagi Doel memberi contoh tugas Malaikat Israfil.
“Yooo,...ORA!”, jawab Rasudi
“Naaah,....Piye kesimpulane?”
“Otekmu jik arep ditaruh nang silit!?”, tanya Doel pada dulur-sulur Pagemblungan.
“Ngaji sing paripurna, jangan menelan mentah-mentah sesuatu yang membutuhkan penjelasan lebih dalam. Ngomong kopra-kapir meniru budaya, namun kita memakai teknologi mereka; watshapan, pesbukan, andoritan, BBM-an, seabrek produk yang kita pakai merupakan produk budaya mereka. Beginilah kita,...... seharusnya mampu menciptakan budaya untuk rahmat alam semesta, malah ribut karena kita ga ganteng terus cermin yang kita pecah”, panjang penjelasan Doel Semprull.
“Bila budaya-budaya perayaan pergantian tahun baru Masehi, dianggap mengarah pada hal-hal kurang baik, maka kita rayakan dengan Mbakar telo, Pisang, dan Jagung. Kita makan setelah wirid, selawatan dan doa bareng, serta mendengarkan pengajiannya Kiai Ahmad”, sambung Doel Semprull.
SELAMAT MERAYAKAN TAHUN BARU DENGAN KEGIATAN BAIK
“Wong EDAAAAAN!!”, Doel Zemprull
“Sopo Doel!?”, tanya Kemplo penasaran. “Penceramah tadi ya, Doel?”, lanjut Kemplo
“Kowe kabeh sing podo UEEDAAAAN!!!”, sergah Doel jawab pertanyaan Kemplo
“Makanya otak itu digunakan untuk berpikir, jangan ditaruh di dengkul apalagi di silitmu (pantat). Punya mata yaa mbok digunakan untuk baca,....iqra’...iqraaa’...
"Dan kalau kupingmu (telinga) masih waras lhaaa mbok banyak ngaji!!”, Doel mencoba menjelaskan bahwa akar masalahnya pada ketidak-tajaman dalam menganalisa karena kurangnya ilmu.
“Apa hubungannya, dengan kita-kitaaa!?”, Rasdan masih penasaran.
“Coba kamu lihat, sapine Wastono,....ada klintihingane guidee (lonceng) kaaan!?, opo gok arep diarani Kristen opo Nasroni?. Jajal mbok pikiren, anggo utekmu!!”, Doel memulai mengambil contoh yang ada di sekitar kehidupannya.
gambar dari website pixaboy; https://pixabay.com/en/cow-cow-bells-sky-blue-feldberg-245691/
“Mbokmu, kalau mau ke mushalla pake obor bambu atau klaras untuk penunjuk jalan. Opo Koen lilooo (rela), kalau Mbokmu dianggep Majusi?”, Doel masih mencoba membuka cara berpikir temen-temen di Pagemblungan.
“Yooo,....gaah, ora keree...tak JOTOSI sik ngarani Mbokku!”, jawab Rasbo.
“Teruuuus, yen arep kiamat Malaikat Israfil niup terompet guideee (sangka-kala), teruuuusss Koen arep ngarani Malaikat Isrofil iku Yahudi!?”, lebih dalam lagi Doel memberi contoh tugas Malaikat Israfil.
“Yooo,...ORA!”, jawab Rasudi
“Naaah,....Piye kesimpulane?”
“Otekmu jik arep ditaruh nang silit!?”, tanya Doel pada dulur-sulur Pagemblungan.
“Ngaji sing paripurna, jangan menelan mentah-mentah sesuatu yang membutuhkan penjelasan lebih dalam. Ngomong kopra-kapir meniru budaya, namun kita memakai teknologi mereka; watshapan, pesbukan, andoritan, BBM-an, seabrek produk yang kita pakai merupakan produk budaya mereka. Beginilah kita,...... seharusnya mampu menciptakan budaya untuk rahmat alam semesta, malah ribut karena kita ga ganteng terus cermin yang kita pecah”, panjang penjelasan Doel Semprull.
“Bila budaya-budaya perayaan pergantian tahun baru Masehi, dianggap mengarah pada hal-hal kurang baik, maka kita rayakan dengan Mbakar telo, Pisang, dan Jagung. Kita makan setelah wirid, selawatan dan doa bareng, serta mendengarkan pengajiannya Kiai Ahmad”, sambung Doel Semprull.
SELAMAT MERAYAKAN TAHUN BARU DENGAN KEGIATAN BAIK
Jumat, 22 September 2017
Film Animasi Butuh Kehadiran Negara
Kontroversi anjuran nonton bareng (nobar) film
Gestapu (Gerakan September Tiga puluh) oleh Panglima TNI Jenderal Gatot
Nurmantyo menjadikan Presiden angkat bicara untuk merekonstruksi film sejarah
tersebut sesuai dengan generasi milenial saat ini. Bila tujuan rekonstruksi film Gestapu adalah
bagian dari pendidikan sejarah melalui film untuk membangkitkan nasionalisme,
cinta tanah air dan bangsa. Selain film-film
sejarah, negara juga harus hadir untuk menyajikan film-film keindonesiaan,
seperti; kekayaan alam Indosia, ragam budaya, multikutural, gotong royong, kebhinekaan
dan lain sebagainya.
Kita memiliki
ragam kuliner, seperti; nasi padang, nasi goreng, soto, sate, konro, sego
megono, nasi uduk, nasi lengko, ketoprak, bakso, dan segala macamnya yang harus
diperkenalkan oleh anak-anak tentang kekayaan kuliner kita. Kita memiliki ragam
kesenian daerah, tarian, wayang, ludruk, ketoprak, musik, lagu daerah dan
lainnya. Kita memiliki kontruksi bangunan rumah adat yang berbeda antara
suku-suku yang ada di Indonesia, termasuk pakaian adat, bahasa daerah yang
berbeda-beda. Kekayaan yang dimiliki oleh kita bangsa Indonesia harus
diperkenalkan kepada generasi bangsa sejak dini.
Film kartun
atau animasi anak sangat menarik bagi anak-anak sebagai media pendidikan
sejarah dan kebudayaan bangsa. Film kartun/animasi semacam Si Unyil yang
diproduksi oleh PNFI harus direkonstruksi atau membuat film animasi baru untuk
menanamkan rasa cinta tanah air dan bangsa sejak dini. Selama ini anak-anak
menikmati tontonan animasi dari luar seperti Jepang, India, Malaysia, Amerika
dan lainnya. Anak-anak mengetahui wayang, permainan tradisional, kekayaan alam
dan kebudayaan dari tayangan Upin-Ipin. Usia dini sebagai golden age, sangat potensial untuk menyimpan memori dari pesan yang
mereka lihat/tonton.
Saatnya
negara hadir dalam misi pendidikan sejarah dan kebudayaan bangsa melalui film, sesuai
dengan usia mereka. Di era digital ini, dimana anak-anak sudah memegang gadget,
handpone, i-phone, dan media yang dapat mengakses internet untuk mengunduh
aplikasi atau film dibandingkan dengan membaca buku-buku sejarah dan
kebudayaan.
Negara dapat
melibatkan anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan animasi untuk
membuat film-film animasi nusantara sehingga biaya pembuatan film animasi lebih
murah sebagai misi penanaman cinta tanah air dan bangsa melalui perfilman
(animasi). (abdul basid; 22/09/2017)
Langganan:
Postingan (Atom)
Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok
Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...
-
Bismillah, dengan nama (-nama) Allah kita memulai aktivitas dengan kebaikan dan mengakhirinya dengan rasa syukur (kebaikan) dengan kalimat h...
-
Dalam obrolan mbang-mbung di Pagemblungan, tetiba Doel Kemplo melontar pertanyaan aneh bin ajaib: “Doel, sekotor apa Gusti Alah, sehingga ki...
-
Populer merupakan hasil dari sebuah proses baik yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Dalam perpolitikan penting te...

