Senin, 18 April 2016

Pemimpin Budhek, Batal "Jamaahnya"

Pemimpin itu penggembala, yang menuntun gembalaannya untuk cari makan dan bila tak terlihat maka sang penggembala akan mencarinya. Bila menganut konsep "lir ilir Kanjeng Sunan", harus didasarkan pada " belimbing bergeligir lima", terserah kalian memaknainya. Artinya mereka mempunyai hubungan transendental dengan Allah dan baik kepada manusia serta makhluk yang ada di bumi. Mereka menangkap pesan langit dan menerjemahkan dalam kebijakannya.

Minggu, 10 April 2016

Pemimpin Sami'un Bashir

Pemimpin ada karena ada yang dipimpin yaitu pegawai atau masyarakat, dan atau diamanati untuk memimpin baik dipilih oleh anggota/masyarakat maupun ditunjuk oleh pimpinan yang lebih tinggi. Jabatan politis dipilih oleh anggota/masyarakat melalui pemilihan, sedangkan jabatan birokratif diangkat melalui prestasi atau promosi. Kedua kepemimpinan tersebut mempunyai tanggung jawab masing-masing dihadapan Allah dan manusia.

Senin, 14 Maret 2016

Dagelan Kehormatan

Orang-orang yang memiliki jabatan dan kedudukan "terpaksa" harus diletakkan pada maqom orang-orang yang terhormat. Kok terpaksa ?, iyalah,..kita juga tidak tahu apakah mereka berperilaku sebagai orang yang pantas dihormati atau tidak. Ada yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tertangkap nyabu, korupsi, berbuat mesum dan tindakan-tindakan yang merendahkan kehormatannya.

Jumat, 11 Maret 2016

Was - was, Was-wis dan wis .....wis

Was-was dan curiga akhirnya menuduh sesama yang berpotensi menjadi fitnah. Kita dibuat saling curiga dan tidak percaya satu sama lain. Kemudian saling menghancurkan, bersoraklah mereka.

Apa adanya dibilang pencitraan, carimuka dibilang pengabdian, kaya dibilang nyupang, naik jabatan ditanyain "nyogok berapa'?, lama tak dipromosikan dibilang dibuang dan seabrek ketidak-percayaan atas fenomena yang ada dicurigai sebagai bukan kemurnian. Kita diberikan suguhan seperti itu dalam keseharian kita baik di lingkungan kerja, masyarakat maupun media, yang akan terus merusak hati kita.

Bukankah was-was itu tak baik (syarr), yang selalu was-wis di dalam hati kita (shudur). Dimana setan menjadi faktor pendorongnya, sehingga tidak yakin dengan apa yang kita lakukan atau mamang (syak). Keragu-raguan yang lebih fatal dapat meragukan keagungan Allah swt., atas Rahman dan Rahim-Nya terhadap makhluknya.  Oleh karena itu, kita harus berlindung kepada Allah dari hati yang was-was.

Setan, bukanlah makhluk yang terpisah dari diri kita karena mereka bersemayam dalam diri jin dan manusia. Bisa saja kita adalah penjelmaan setan yang mengkondisikan was-was, kecurigaan sesama dan akhirnya saling fitnah. Fitnah akan berdampak sangat mengerikan, karena itu fitnah merupakan perbuatan keji yang melebihi pembunuhan.

Wis....wis - sudahlah - bukan kewenangan kita untuk menghukumi batiniyah seseorang, lihatlah apa yang dikaryakan dan mari berlindung dari hati yang was-was yang was-wis dalam hati kita. Waspada itu boleh, persiapan yang matang itu juga boleh, merasa tidak sempurna itu baik tapi tidak boleh was-was. Hal-hal yang meragukan sebaiknya ditinggalkan, karena bila keraguan itu terbukti kebenarannya (buruk), yang tersisa hanya penyesalan. Moga Allah menetapkan hati kita pada agama-Nya dan menjadi hati yang selamat (qalbun salim). dz al Qishud, 11/03/2016

GMT: Gerhana Matahati Total


Rabu, 9 Maret kemarin telah terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). Peristiwa alam tersebut terjadi karena Matahari ~ Bulan ~ Bumi dalam satu garis lurus, Matahari tidak dapat memancarkan cahayanya dengan sempurna ke bumi. Penjelasan sebagai peristiwa alam (sunnatullah) telah dijelaskan saat Sahabat Nabi mengaitkan meninggalnya putra beliau SAW - Ibrahim - setelah kejadian gerhana matahari.

Orang-orang kampung dahulu bila terjadi gerhana, menganggap matahari dimakan Graono atau Buto sehingga apapun ditabuh untuk menakut-nakuti. Untuk menghindarkan kebutaan, anak-anak diminta untuk masuk "longan" atau kolong tempat tidur. Sebagian orang yang paham agama mengajak masyarakat untuk berdoa dengan menjalankan shalat gerhana (kusuf al syamsi). Dalam mitos lainnya, Bathara Surya dimakan Bathara Kala kemudian diselamatkan oleh Bathara Guru.

Bagaimana bila mata hati kita yang dimakan Graono ?
PETENG, hingga tak dapat memantulkan cahaya, tak bisa menerima taufik dan hidayah Allah. Bila hati tertutup, mata dan telinga pun tak bisa berfungsi dengan baik untuk mendeteksi ayat-ayat Allah. Graono yang meredupkan cahaya hati adalah penyakit hati ~ nafsu, syahwat, iri, dengki, hasud, takabbur, amarah, ghibbah, dan lainya ~ serta maksiat yang dipelihara. 

Tabuhlah genderang perang melawan mereka, ajaklah seluruh organ tubuh kita untuk bangkit mengusir Graono Matahati dengan tidak memelihara (meninggalkan) seluruh sifat-sifat dan perbuatan kita yang mendatangkannya. Bahkan jangan memasukkan syubhat dalam darah dan daging kita. Dan beristiqomah dalam ibadah wajib dan mencintai ~ dengan mengerjakan ~ yang sunah.

Sehingga Matahati akan terang benderang, memancar dalam wajah dzahir yang sumringah. Santun perangaimu, halus dalam bertutur kata dan melangkah dengan keberanian tanpa ragu tanpa rasa takut kecuali dengan Yang Maha Satu. (dz al Qishud 11/03/2016 juga ditulis di facebook Q Sodrun)

Minggu, 13 Desember 2015

Pemimpin Miskin Yang Meninggikan Bangunannya Melupakan Amanat Mendekatkan Kiamat

Berbicara Kiamat merupakan hal yang samar yang merupakan rahasia Allah swt., hingga nabi saw. pun tidak diperkenankan untuk mengungkapkannya - sebagai adab orang yang dipercaya pada kegaiban - hanya menyampaikan tanda-tanda yang semakin nampak tanda-tanda tersebut. Salah satu tanda-tanda kiamat adalah perlombaan meninggikan bangunan oleh para pengembala kambing, sebagaimana tertuang dalam hadits di bawah ini;   

واذاتطاول رعاء البهم فى البنيان فذاك من اشراطها
 "....jika para pengembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan, maka itulah diantara tanda-tandanya (kiamat)". HR. Bukhari-Muslim. 

Dalam riwayat lainnya, Imam Muslim mengungkapkan وأن ترالحفاة العراة العالةَ رِعاءالشاء يتطوّالون البنيان
"Dan engkau menyaksikan orang yang tidak memakai sandal, teanjang lagi miskin yang menggembala domba, berlomba-lomba mendirikan bangunan yang tinggi". 

Trus, siapakah para pengembala kambing/domba tersebut ?
Lahan semakin menyempit, telah didirikan bangunan dan perumahan dan profesi tersebut tidaklah menarik lagi. Bila di kampung, mereka dicari saat ada slametan mitoni (tingkeban) sebagai bocah angon yang membutuhkan bekal ngangon gembalaannya. Bila kita mengingat sirah para nabi, hampir semua dari mereka menjadi pengembala, misalnya Nabi Musa dan Harun a.s, Nabi Dawud as. dengan seruling gembalanya yang merdu, bahkan Nabi Muhammad saw, sedniri pun pernah menjadi cah angon. 

Dalam syair "lir ilir" karya Kanjeng Sunan Kalijaga, disebutkan "bocah angon - bocah angon, penekno belimbing kui" yang kemudian ditafsiri oleh Cak Nun sebagai para pemimpin yang tidak disebutkan secara spesifik dengan Pak Jendral, melainkan semua pemimpin dari tingkat terendah hingga pejabat negara, dari pemimpin masyarakat hingga pemuka agama, yang harus mempertanggung-jawabkan kepemimpinan untuk keselamatan umatnya (kullukum ro'in wakullukum mas'ulun 'an ro'iyatih). 

Dari konteks hadits di atas, bisa jadi mereka (para pengembala) adalah para pemimpin yang mementingkan diri sendiri untuk mendirikan bangunan megah; memperbanyak rumah, korporasi atau dinasti ekonomi tanpa memperhatikan tanggung jawab mereka untuk kemakmuran dan keselamatan umatnya. Mereka hanya berpikir untuk keberlangsungan dinasti keluarga, lihatlah perputaran kepemimpinan negara melalui partai politik bukankah tak beda dengan kerajaan-kerajaan politik yang berkutat pada keturunan darah biru yang layak sebagai pemimpinnya.

Mereka juga "tidak memakai sandal dan telanjang"; artinya untuk mencapai kekuasaan sebenarnya mereka tidak memiliki bekal atau modal untuk menggapainya. Political cost yang tinggi tidak dapat dipenuhi dengan modal dengkul, mereka dibiayai oleh para pengusaha/swasta yang juga berkepentingan untuk keberlangsungan bisnisnya, melalui percaturan politik. Dalam perpolitikan kemudian dikenal politik balas budi atau dagang sapi. Sehingga kita jangan gampang gumun/getun alias keheranan bila terjadi kegaduhan politik yang saling mengunci satu sama lain, politis yang terjerat kasus-kasus tertentu sehingga harus menjadi korban atau dikorbankan atau memang benar-benar menjadi pelaku atas tindakan koruptif. 

Meskipun dalam riwayat lain dipertegas dengan "orang-orang arab", saya lebih memilih bahwa mereka semua adalah para pemimpin yang hanya meminting diri sendiri dan golongan hingga terjadi kerusakan. Nabi saw., dikenal sebagai orang arab Quraisy dan diturunkan di tanah arab, namun merupakan Nabi-nya seluruh umat manusia. 

Dari tanda ini, telah nampak jelas kedekatan kiamat menghampiri kita. Satu persatu yang dianggap mengancam kepentingannya akan berbunyi terompet "ISROFIL" kemudian datang "IZROIL" nya, dan dicabut segala bentuk aktifitasnya. Mereka yang mengganggu kepentingan ekonomi dan bisnisnya akan tumbang hingga menjadi miskin tanpa tahu penyebab dimiskinkannya. Mereka yang bersuara lantang akan dicatat oleh "ROKIB-ATID" nya untuk kemudian harus ditanya oleh "MUNKAR-NAKIR" nya hingga dipertemukan dengan "MALIK"nya untuk memperoleh hukuman atas tindakannya.

Setelah mereka menuhankan diri, maka yang datang adalah kemurkaan Allah yang sesungguhnya dengan mengutus IMAM MAHDI dan Nabi ISA a.s, untuk menghalau watak DAJJAL berbalut "TUHAN" kekuasaan dan menolong orang-orang yang masih memiliki keimanan dalam dada mereka. Hingga kemudian hancurlah dunia dan isinya karena ulah-ulah para pemimpin yang tidak amanah dalam kepemimpinannya.

Jadilah pemimpin yang amanah untuk kemakmuran umat, sehingga kiamat dapat menjauh. Walau hanya satu tanda yang dapat kita halau, paling tidak kita sudah berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik sesuai dengan tuntunan agama.

Kegaduhan Freepot......Untuk Siapa ?

Kegaduhan yang terjadi antara Pak Setya Novanto, Pak Sudirman Said, dan Pak Luhut P serta MKD, bahkan hingga harus melibatkan Kapolri (Polri) dan Jaksa Agung (Kejaksaan) yang seharunya tak perlu terjadi. Mereka adalah bagian dari penyelenggara negara yang sangat tahu tugas dan tanggung jawabnya. Kenapa hal itu terjadi dan siapa yang diuntungkan ?

Saya sendiri tidak tahu bapak-bapak ini baik, terhormat, sesuai perundangan atau tidak karena saya tak pernah mengukurnya. Yang jelas bapak-bapak ini bagian dari penyelenggara negara yang tentunya telah melewati berbagai feet and proper test sehingga layak menyandang jabatan yang diembannya untuk menjalankannya secara amanah. Mereka tidak patut (kurang etis) mempertontonkan dagelan yang tidak lucu, yang membuat masyarakat semakin "tidak percaya" pada negara.  Harusnya mereka melepaskan egoisme, dan golongan, serta kompak untuk kemakmuran dan keamanan  bangsa sebagai seorang negarawan. Tak usah menyangkal dengan "ini kan dalam rangka mengurusi bangsa". Bulshit !!! untuk apa mengatakan demikian tanpa ada tindakan berarti, membuat kemurkaan Allah saja. Sejak Pemilu 2014, terlihat manuver-manuver yang tampak terkotak-kotak dan saling serang.

Bukankah Bhineka Tunggal Ika yang menjadikan keutuhan NKRI ? bila partai politik kita sebut sebagai ragam perbedaaan dari asal muasal mendapatkan jabatan dan kedudukan sebagai Presiden dan Wakil Presiden, DPR, Menteri, dan Jabatan lainnya maka seharusnya mereka mampu melaksanakan falsafah Bhineka Tunggal Ika untuk kemajuan bangsa untuk memberikan contoh pada generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah/kuliah.

Pak Ma'roef S dan Pak Riza Chalid dapat kita sebut sebagai perwakilan pengusaha (swasta), yang berkepentingan untuk keberlangsungan usahanya di Indonesia. Dan mereka membutuhkan penyelenggara negara untuk menjamin keberlangsungannya. Swasta membutuhkan kenyamanan dalam menjalankan usahanya dan negara memperoleh pajak, serapan tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran, penataan daerah sekitar perusahaan, jaminan ketidak-rusakan lingkungan yang diakibatkan dari pencemaran limbah dan lainnya.

Bila perpanjangan kontrak freepot harus dilakukan dua tahun sebelum habis kontrak sebelumnya, maka negara (Pemerintah dan DPR) harus menyiapkan regulasi berbasis kemakmuran masyarakat bukan memperlihatkan polemik antara keduanya. Orang-orang yang berpolemik akan sulit menyelesaikan pekerjaannya, karena disibukkan polemik tersebut yang seakan menyiratkan ada kepentingan-kepentingan yang "bukan untuk rakyat". 

Trus, untuk siapa !!??
Kita tunggu saja, semoga Allah membuka hati para penyelenggara negara untuk memakmurkan rakyatnya.

Floating Gardens: Salah Satu Solusi Blooming Enceng Gondok

Eceng gondok atau Eichhornia crassipes memiliki kemampuan berkembang biak secara cepat dan massif hingga menutupi seluruh permukaan air dan...