Allah menciptakan hewan dan tumbuhan menjadi sumber
makanan manusia. Empat hal yang dianjurkan oleh Allah dalam mengkonsumsi makanan,
yaitu halal, baik (thayyiban), dan tidak berlebihan (isyrab) serta
bersyukur. Halal mencakup halal jenisnya dan cara mencarinya (kasab). Sesuatu
yang sudah dinas haram seperti mengkonsumsi babi, makanan najis, dan sumber
makanan yang secara ijtihadi tidak dihalalkan (misal: sumber makanan yang
menjijikkan).
Kedua, makanan yang baik (thayyiban) yang dapat
berarti mengandung gisi atau nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan cara
mengkonsumsinya. Makanan yang baik (bergisi) seperti makanan yang mengandung
protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan nutrisi lainnya. Sedangkan
baik dalam mengkonsumsi menggunakan tata cara yang diajarkan oleh Nabi Saw,
seperti sebelum dan sesudah makan membaca doa, menggunakan tangan kanan,
mencuci tangan dari kotoran dan najis, tidak berdiri, dan lainnya.
Ketiga, tidak berlebihan (isyrab) baik kuantitas
maupun kandungan nutrisi yang dikonsumsi. Makanan yang berlebih akan
memberatkan kerja metabolisme, bisa ngefek pada obesitas, terganggunya kerja
ginjal, empedu, jantung, dan lainnya. Tumpukan lemak, karbo, dan nutrisi lainnya
yang tidak termanfaatkan dengan baik oleh tubuh akan menimbulkan gejala-gejala
sakit.
Dan keempat adalah bersyukur, makanan yang diolah
tubuh menjadi sumber kesehatan dan tenaga serta sumber kesehatan fikir harus
digunakan untuk kemanfaatan yang tidak dilarang oleh agama. Ada keyakinan bahwa
makanan yang tidak halal, berpotensi menjadi sumber tenaga dan fikir dalam
bermaksiat. Syukur dapat diartikan sebagai penggunaan potensi diri baik kesehatan,
tenaga maupun pikiran dalam koridor menambah perbuatan baik.
Dalam kalimat doa makan, “allahumma bariklana fima
razaqtana wa qina ‘adzaba al-naar”, selain mengharap keberkahan dari rejeki
yang diberikan Allah pada kita, juga meminta agar tidak disiksa di neraka. Tatkala
kita mengambil dan memakan makanan yang tidak halal, maka sistem keberkahan dan
jalan ke surga sudah mulai buram, kemudian yang nampak jalan ke neraka. Kemudian
makanan tersebut dikonsumsi dengan cara yang jauh dari tuntunan Nabi saw, akan
semakin tak jelas jalan kebaikan tersebut. Dan akhirnya, reaksi makanan
mengubah pikiran dan perasaan serta didukung oleh tenaga yang kuat untuk
melakukan maksiat yang lebih dekat dengan neraka.
Bila kita tidak memperhatikan empat hal tersebut dapat
memicu dampak fisis, psikis, maupun dampak ukhrawiyah kita. Tubuh sakit-sakitan,
ibadah tak khusuk, emosi, dan bila lupa diri akan penciptanya bisa menyebabkan
gagal kita diantarkan di depan pintu surganya. Semoga kita terhindar dari semua
yang menjauhkan pada Allah swt., amiin.